Ziarah ke Masa Lalu untuk Hijrah ke Masa Depan

Diposting pada

IDENTITAS BUKU

Judul Buku: Rumah Tepi Danau
Penulis: Banana Yoshimoto
Penerjemah: Dewi Martina
Penerbit: Odyssee Publishing
Tahun Terbit: 2019

Rumah Tepi Danau

Ada kalanya rindu tempat kenangan dikalahkan trauma yang pernah diciptakan di sana.  Sehingga kau menahan diri sekuat tenaga mengunjunginya, membingkai setiap peristiwa di dada, mengukir setiap kisah masa lalu di kepala.  Yang kau lakukan sebenarnya hanya menunggu, saat debar di dadamu menjadi ledakkan tak terelakkan.  Atau langkahmu menuju masa depan hanya bayangan.

 

Konon Rumah Tepi Danau adalah karya Banana Yoshimoto paling misterius.  Setiap kalimat yang ditulisnya mengungkapkan pemikiran mendalam yang tokoh rasakan dalam kehidupan.  Mengalir lembut namun berenergi.  Gaya paragraf panjang namun tidak bertele-tele.  Selalu ada perasaan unik pada setiap kata yang saya baca.

 

Dikisahkan Chihiro, gadis pelukis mural yang masih berduka atas kematian ibunya baru-baru ini.  Perasaan ini cukup membebani di mimpi dan nyatanya.  Kerinduannya yang hebat digambarkan pada monolog,

Ibu, biarkan aku melihatmu sekali lagi, aku berdoa.  Aku ingin menyentuhmu, mencium aromamu.

Segala yang membentuk dirinya di masa kecil kini ia tinggalkan.  Menempati sebuah apartemen di kota besar seroang diri.

 

Dan, Nakajima, seorang mahasiswa doktoral Biologi yang menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di sebuah pondok perdesaan di tepi danau terpencil bersama dua orang sahabatnya.

Rasa sakit dan trauma masa lalu membuatnya menjadi pribadi yang ganjil.  Ia seorang yang cerdas namun pendiam dan penyendiri.  Ia terlalu fokus pada dirinya, studynya hingga lupa bagaimana berteman.  Ia khawatir orang lain tak dapat menerima dirinya.

 

Pertemuan Chihiro dan Nakajima tergolong unik.  Hanya melalui tatapan mata.   Chihiro mendapati dirinya terlalu sering berdiri di depan jendela apartemennya. Begitu pula Nakajima, di seberang apartemen. Hingga hubungan mereka berlanjut ke romansa asmara yang canggung.

Nakajima terbebani dengan peristiwa mengerikan yang terjadi di masa kecilnya.  Ia mencoba terus menahannya, menyimpan sendiri segalanya, hingga ia bertemu dengan Chihiro.

Butuh waktu lama untuk bisa berbagi ruang, waktu, dan kisah bersama gadis itu.  Chihiro dengan ketulusannya berupaya mengurai konflik batin yang Nakajima rasakan.

Tak peduli sebera keras aku mencoba, aku tetap tidak tahu apa ang membautku sampai berkeringat seperti ini- kenagnan tentang ibuku, atau kenangan yang aku bagikan degnan teman-temanku.”

Nakajima begitu merindukan dua sahabat masa kecilnya, Mino dan Chi.  Namun kenangan masa lalu membuatnya begitu berat melangkah.  Chihiro menguatkan hati Nakajima, membantunya utnuk berani mengunjungi sebuah pondok kecil di tepi danau di pedesaan.

Perjalanan itu menjadi ziarah ke masa lalu Nakajima.  Sesuatu yang pada awalnya tampak mengerikan, begitu mengikat, menjerat langkah Nakajima pada akhirnya mampu ia lalui dengan sedikit keberanian.  Setelah dilewati, terkadang, masalah tak sebahaya yang kita duga.  Menyimpannya hanya akan semakin menyakiti hati kita.

Perasaan lega yang dirasakan Nakajima memberi energi positif dalam hubungannya bersama Chihiro.  Pada kadar tertentu, boleh dibilang gadis itu jatuh cinta pada Nakajima meski ia sering merasa ada hal yang menakutkan dalam diri Nakajima.  Ia seperti tengah memandang dalam kegelapan.

Apakah pada akhirnya Chihiro mendapatkan jalan terang?  Hal ini diceritakan di bagian akhir buku Rumah Tepi Danau.

Membaca ini ibarat berkereta tanpa pemberhentian.  Tanpa bab maupun judul tiap bagian.  Sekilas tampak membosankan karena kita dihadapkan pada paragraf panjang mengular dari awal sampai akhir.  Namun ketika berselancar di dalamnya, saya benar-benar mendapatkan pengalaman membaca yang berbeda.  Mungkin Anda akan mencobanya.  Memetik pelajaran kehidupan dari penulis kelahiran 1964 yang telah beberapa kali memperoleh penghargaan.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.