Temukan Hutan Kecilmu

Diposting pada

Pergilah sejauh-jauhnya, suatu saat kamu akan kembali.

 

Film drama Korea Selatan berjudul Little Forest telah menyedot perhatian saya selama kurang lebih 103 menit.  Film yang diadopsi dari serial manga karya Daisuke Igarashi ini rilis tahun 2018 namun baru saya tonton di tahun 2020!

Tak merasa menyesal menemukan film yang didominasi lanskap desa yang penuh kedamaian.  Disinilah Kim Tae-ri yang memerankan Hye Won kembali dari Seoul.  Hye Won gagal dalam ujian sebagai pengajar di kota itu.  Sementara kekasihnya berhasil lolos.

Ia tak kecewa, hanya merasa ingin kembali.  Teman-teman juga kekasihnya menganggap dia kabur dan melarikan diri dari kekalahan.  Sementara seharusnya ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga toserba.

 

Mi-Sung

Mi-Sung merupakan desa pegunungan yang terkenal dengan pertanian sawah dan apelnya.  Pemandangan yang indah, udara sejuk, alam yang begitu harmonis.  Pada musim dingin, mereka harus berjuang untuk hidup dengan makanan yang telah disimpan pada musim sebelumnya.

Pada musim hujan, kita dapat melihat kodok-kodok bernyanyi.  Namun jika badai datang, bersiaplah menyaksikan apel-apel berjatuhan di tanah beserta beberapa rantingnya.  Juga tanaman padi mereka roboh.  Mereka akan menegakkan kembali dengan mengikat beberapa rumpun jadi satu.  Bisa dibayangkan betapa ngilunya punggungmu ketika melakukan itu.

Untuk menuju tempat ini, Hye Won harus melintasi hutan.  Saat itu salju telah menutup seluruh permukaannya.  Suasana desa benar-benar sepi.  Tak ada binatang, tak seorangpun lewat atau berjalan bersamanya.

Ia berjalan sendirian dengan jaket tebal, penutup kepala, serta tas yang melekat di punggungnya. Rumahnya merupakan rumah khas korea di pedesaan.  Rumah yang lantainya dibuat tinggi untuk menghindari binatang dan salju.  Di bagian bawah rumah, mereka menyimpan kayu bakar.  Memiliki halaman yang luas.  Dan di sana, terdapat dipan lebar tempat menjemur bahan makanan atau sekadar duduk-duduk pemiliknya.

Saya bertanya-tanya ketika Hye Won mengambil kunci lalu membuka pintunya.  Itu artinya, rumah Hye Won selama ini kosong. Sejak itu hingga tiga bulan ke depan, Hye Won hidup sendiri.  Ia merasakan kedamaian sehingga ia tinggal lebih lama dari rencana awal.  Memang tak seindah itu tinggal di desa.  Harapan untuk berdiam di rumah tanpa diusik siapapun tak terpenuhi.  Teman lamanya datang.  Selain itu, susahnya hidup di desa.  Ketika bertemu dengan orang-orang desa bahkan ia ditanya apa yang ingin ia hindari.  Tentang ibunya, tentang kelulusan ujian pengajarnya, dan masih ada lagi lainnya.

Bertemu Teman Lama

Rumah itu telah ditinggalkan pemiliknya.  Hye Won sendiri pergi ke Seoul untuk mengejar mimpinya jadi pengajar.  Sedang ibunya, pergi tanpa sepengetahuan Hye Won.  Saya sendiri baru mengetahui setelah film berjalan hampir setengahnya.

Awalnya saya pikir tak ada masalah dengn Hye Won.  Ia tampak begitu bahagia sekembalinya dari kota.  Menjalani hidupnya sendirian, beradaptasi dengan lingkungan desa yang telah lama ditinggalkannya, serta hidup mandiri.

Kegembiraannya bertambah ketika bertemu teman lamanya, Eun Suk.  Ia bekerja di sebuah bank di kotanya.  Mereka berbagi kisah dan berbagi makanan.  Ketika Eun Suk bertanya kenapa pulang, Hye won hanya menjawab, ia lapar!

Memang benar.  Sepanjang film penonton disuguhi aneka makanan khas Korea yang dibuat sendiri oleh Hye Won.  Ia mengatakan bahwa makanan yang istimewa adalah makanan yang dibuat sendiri.  Memetik bahannya sendiri dari alam lalu mengolahnya menjadi makanan yang lezat.  Memang butuh waktu lebih lama, namun sesuatu yang istimewa sungguh layak ditunggu.

Inilah yang tak ia dapatkan di Seoul.  Dengan kehidupan yang serba cepat ala metropolitan, Seoul hanya memberinya makanan cepat saji yang kadang, rasanya tak nikmat bahkan pernah ia mendapati nasi yang tak layak makan.

Maka di desa ini ia benar-benar merasakan kepuasan.  Bukan sekadar makan cukup.  Karena pada awal kedatangannya di musim dingin, ia nyaris kehabisan bahan makanan.  Hye Won rela menembus dingin hanya untuk memetik sebatang pokcoy yang tertutup salju. Ia memasak sendiri semuanya.  Rupanya bakat ini diwariskan dari ibunya.

Sejak kecil ia menikmati masakan ibunya yang unik.  Kadang ibunya menciptakan resep baru.  Beberapa makanan lebih cocok dinikmati pada musim dingin seperti arak dari beras, atau kesemek kering.  Hye Won menyaksikan betapa ibunya bukan hanya hobi memasak, tapi sungguh menjadikan memasak dan makan sebagai sumber kebahagiaan.  Ia berpesan bahwa makanan yang dibuat dengan hati, hasilnya akan memuaskan.  Hal-hal kecil tentang ibunya menjadi bayangan besar di saat tak disampingnya. Dan itu juga yang menginspirasi Hye won untuk melakukan hal yang sama.  Memasak.

Selain Eun Suk, Hye Won memiliki teman masa kecil bernama Jae Ha.  Anak ini juga yang merawat vivo, anjing Hye Won selama Hye Won di Seoul.  Dari Jae Ha, Hye won belajar menemukan kembali dirinya yang hilang.

 

Surat Ibu

 

Film ini sepenuhnya selow.  Nyaris tak ada adegan penuh ketegangan.  Seolah tak terdapat konflik tajam.  Satu-satunya suguhan indah adalah alam pedesaan yang memukau.  Gambar-gambar mempesona yang membuat saya sungguh ingin tinggal di desa.  Eh, sebenarnya saya juga orang desa sih.  Hanya saja Mi-Sung sungguh beda.  Mi-Sung seperti pedesaan di Sukoharjo.  Seluruh permukaannya adalah hamparan sawah.  Hutan di wilayah yang agak berbukit.

Kembali lagi ya  bahwa film ini dibuat begitu santai.  Kalian yang hobi film detektif, perang, atau film thriller lainnya dijamin tak keluar adrenalin saat nonton film bahkan bosan.  Namun jika diamati, konflik batin tokoh sebenarnya sungguh menyentuh.

Ini yang tak terduga atau boleh saya katakan sebagai plot twist film.  Keluarga Hye Won pindah ke Mi Sung ketika hye won kecil.  Hingga usia empat tahun saat ayahnya meninggal, ibunya memutuskan tetap tinggal di Mi-Sung.  Ibunya ingin Hye Won memiliki ikatan kuat dengan desa ini.  Ia berpikir, tempat ini adalah tempat kembali yang tepat bahi Hye Won.

Ketika duduk di bangku SMA, Hye Won berjanji untuk meraih mimpi-mimpinya.  Ia tak ingin terus-menerus di desa ini.  Tak ada yang bisa diharapkan.  Jika ia menetap di Mi-Sung ia tak akan pernah maju.  Begitu Hye won berpikir.  Namun, segala sesuatu benar-benar berjalan di luar kendalinya.

Suatu hari ketika pulang sekolah, ia tak mendapati ibunya yang biasanya asyik di dapur menyediakan masakan untuknya.  Ia hanya menemukan sepucuk surat pamitan dari ibunya.  Saking sedihnya, Hye Won hanya duduk terpaku, melupakan lapar perutnya.  Ketika bibinya datang, ia hanya mengatakan ibunya pergi.  Bibinya terus membesarkan hati Hye won.

Hye Won tak habis pikir.  Memang sejak suaminya meninggal, dan ia harus menjadi single parent bagi Hye Won.  Ini bukan hal mudah.  Menetap di desa kelahiran suaminya.  Seorang diri membesarkan anak.  Dan dengan tabah menguatkan hati Hye won.  Hanya sebentar ia bersedih atas kepergian ibunya.  Selebihnya ia berjanji, ia akan menunjukkan bahwa ia mampu hidup tanpa kehadiran seorang ibu.

Hye won berusaha tabah.  Ia ingat ketika teman-teman membuli.  Ibunya mengatakan, ketika sedih saat dibuli teman itu artinya kamu kalah.  Jika kamu bertahan, teman-teman akan malu sendiri.  Untuk mengobati lukanya, ibunya membuatkan sebuah kue unik.  Ini juga yang dilakukan Hye won untuk menghibur Eun Suk ketika marah.  Hal ini yang mejadikan Hye Won tumbuh sebagai gadis yang kuat.  Ia menerima takdirnya sebagaimana ibunya menerima hidupnya.

Hye Won masih ingat ketika ia menanyakan pada ibunya apakah ibunya rindu ayahnya, atau mungkin ingin membuka lembaran baru kisah cintanya dengan pria lain.  Ibunya hanya berdalih bahwa ini fase hidup yang harus dijalani, ia pernah merasakan hidup dengan suaminya dengan penuh cinta.  Maka ia hanya ingin menjalani fase berikutnya tanpa diganggu hal lain.  Jiwanya terbarahui oleh banyak hal ia merasa seperti biji tomat yang dilempar saja akan tumbuh menjadi pohon dan berbuah lebat.  Ia tak hancur oleh keadaan dirinya.  Yang sebenarnya adalah, ibunya merindukan ayah Hye Won.

Namun jika kemudian ibu Hye Won pergi, ia hanya ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya sejak ia menikah.  Bukan karena ia membenci Hye Won.  Bahkan sepertinya ia juga tahu bahwa Hye Won kembali ke Mi-Sung.  Terbukti seorang tukang pos mengantarkan surat dari ibunya untuk Hye Won.  Tak ada kata-kata haru biru.  Hanya sebuah resep yang ditulis untuk Hye Won.

Pelajaran Penting

 

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Little Forest ini.  Diantaranya ketabahan seorang ibu dalam membesarkan anaknya. Kemandirian orang-orang desa pada umumnya dan Hye Won khususnya.  Dari film ini kita bisa belajar bahwa memasak bukan semata urusan perut.  Saya ingin menyebutnya sebagai seni hidup.

Makanan yang dihasilkan memang memberi kita energi untuk hidup.  Lebih dari itu, kita tahu bahwa segala sesuatu berproses.  Dari menanam, merawat, menuai, lalu mengolahnya menjadi bentuk lain hingga dapat dinikmati.  Tak hanya merawat, petani harus paham kapan waktunya menanam, bagaimana merawat, lalu dengan cara apa mengolahnya.  Itulah hidup yang sebenarnya.

Sejauh-jauhnya kau pergi, Hye Won.  Sekeras apapun kau berusaha menggapai mimpimu, Mi-Sunglah tempatmu kembali.  Di sinilah jati dirimu, hutan kecilmu, tempatmu hidup.  Pengalaman hidup akan menguatkanmu.  Namun kebahagiaan sejati hanya diperoleh ketika kita menemukan diri sendiri.  Yang kadang tanpa kita sadari, ada di dekat kita.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.