Selembar Jarik Kartini

Diposting pada

Masih segar dalam ingatan, penggunaan kebaya dan jarik mewarnai perayaan Hari Kartini tahun lalu.  Rupa-rupa warna dan desainnya.  Dari kebaya model tradisional sampai modern menyemarakkan instansi-instansi pemerintah, perusahaan, dan toko-toko.    Tujuannya tentu untuk mengenang sosok pahlawan wanita asal Jepara yang lahir 21 April 1879, RA. Kartini. 

Meski urusan fashion tampak tak ada sangkut pautnya dengan substansi perjuangan melawan penindasan kaum perempuan, saya ingin mengulik sebuah nilai dari persoalan kebaya dan jarik ini. 

Jarik bukan sekadar selembar kain yang dililit menutupi sebagian tubuh, membuat langkah pendek dan pelan kalau tak mau keteteran.  Namun sebenarnya, ada nilai adiluhung yang menggambarkan tradisi masyarakat Jawa.  Jarik menunjukkan sikap perempuan Jawa yang lembut meski bukan makhluk halus.  Menyatakan bahwa mereka sosok anggun berwibawa. 

Langkah yang terbatas

Menengok kembali sejarah RA. Kartini.  Bahwa jarik yang dikenakan beliau rupanya tak hanya bertujuan membuatnya anggun, tenang, dan lembut.  Lebih jauh lagi, ini menjadi simbol pembatasan gerak langkah dan pemikiran perempuan Jawa pada umumnya, dan RA. Kartini khususnya.

Gerak secara fisik saja sudah sangat terbatas.  Tak bisa berlari bebas.  Buru-buru tak perlu.  Tergesa-gesa bahkan tampak brutal.   Perempuan jawa harus kuat memegang tata karma.  Berjalan menunduk, bicara halus, dan pelan. 

Kalau itu terjadi pada milenial, sepertinya memperlambat banyak hal.  Saya sendiri tak bisa membayangkan harus mengenakan jarik, berjalan pelan sementara diburu dateline, dikejar banyak tugas, dan lainnya.  Terlebih jika harus berjalan sambil jongkok. 

Tata karma sampai kapanpun memang berlaku, dan itu harus.  Namun aplikasinya tak melulu pada tampilan yang tampak di permukaan.  Sambil menyeruput secangkir kopi hitam malam itu, imajinasi saya berkelana pada masa lampau.

Citra perempuan pada zaman kerajaan, berlanjut hingga zaman penjajahan menempati posisi inferior.  Dimana kaum prialah yang berhak menduduki peran publik.  Sementara, perempuan lebih baik berada pada lingkaran sumur, dapur, kasur.  Menyenangkan suami, menyediakan makanan, dan berdandan.  Apa yang perempuan dulu lakukan tak menghasilkan materi selain kesenangan.  Itu kenapa banyak yang memandang rendah status perempuan.  Hak mereka dibedakan dengan laki-laki.  Terlihat sekali dengan adanya pembatasan pendidikan.

Keprihatinan ini yang jadi tonggak perjuangan RA. Kartini.  Betapa perih hati beiau karena hanya bisa mendengar anak-anak lain bermain di balik tembok Joglo sedang ia harus mengerjakan sesuatu hanya di rumah.  Alangkah sakitnya beliau mendengar jawaban Romo yang tak bisa berbuat apa-apa demi meloloskan permintaannya untuk sekolah lebih tinggi. Kartini tahu Romo hanya pejabat yang patuh pada titah, pada sistem yang telah kuat mengikat.

Pendidikan hanya untuk lelaki, itupun harus piyayi atau orang terpandang, anak pejabat, atau pegawai pemerintah.  Sedang anak-anak yang bebas berkeliaran di hutan, hanya diizinkan menghirup udara bebas, bukan bebas memperoleh pendidikan. Tak jauh beda dengan dirinya.  Sebagai anak bupati Jepara, mestinya banyak hak istimewa dapat diperolehnya.  Sayang sekali, ia harus menerima kenyataan bahwa perempuan hanya boleh mencapai titik tertentu dalam mengembangkan kualitas hidupnya.

Millenial dan Kebebasan

Seperti apa spirit perjuangan Kartini ela milenial?  Perempuan zaman sekarang tak lagi terlilit ‘jarik’ yang memenjarakan.  Mereka bebas melangkah ke berbagai penjuru dunia untuk pemenuhan hak dasar, untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan untuk mengakomodasi cita-cita dan ambisi.

Perempuan berderap bersama dalam kesibukan.  Tak ada yang menganggur, bahkan rumahpun kerap jadi tempat kerja.  Perempuan milenial menjadi sosok yang terlibat secara aktif dalam kehidupan sosial, dalam membangun peradaban.

Kita dapat saksikan sederet tokoh perempuan Indonesia yang memiliki peran-peran strategis.  Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Tri Rismaharini, atau Najwa Shihab.  Di sisi lain, kita melihat banyak pekerjaan berat yang idealnya dilakukan laki-laki namun berjaya di tangan wanita.  Ada Marry Riana seorang pengusaha, sopir perempuan, penjaga kebun binatang perempuan dan masih banyak lagi lainnya.

Penyimpangan Feminisme

Jika merunut sejarah, gerakan feminisme yang berusaha menghapus perbudakan perempuan sebagaimana awal dicetuskan di Amerika sekitar tahun 1848 sebenarnya tak ada masalah.  Begitu juga, apa yang dilakukan Kartini di Indonesia, Malala di Pakistan juga bukan hal yang keliru.  Hal ini masih senafas dengan ajaran agama islam yang menempatkan wanita dalam posisi mulia dan bahwa laki-laki dan perempuan hanya dibedakan dari ketaatannya saja.

Namun, tafsir kesetaraan tak sesederhana itu.    Kemudahan demi kemudahan, sukses demi sukses, serta kebebasan berpendapat, berpendidikan, dan berkarir yang dinikmati perempuan milenial rupanya belum cukup.  Aktualisasi, eksistensi diri, serta kemajuan yang digagas kadang mengarah pada bebas sebebas-bebasnya. 

Dari sinilah muncul penyimpangan.  Bukan hanya mengganti jarik dengan kain lebar, namun mulai berani ‘telanjang’.  Ingat, penyimpangan bukan hanya terjadi karena niat namun seringkali karena dalam kebebasan ada peluang mendapat kesenangan dan kepuasan lebih

Jangankan sebuah paham yang ditelurkan oleh manusia sendiri, seperti feminism misalnya.  Sedang agama yang kitab sucinya diwahyukan Tuhan saja sering dikomodifikasi untuk kepentingan politik, bisnis, dan lainnya.

Menakar sifat manusia tak terkecuali wanita yang tak lekas puas, tuntutan kebebasan seringkali ditumpangi niat untuk mendominasi.  Dengan adanya niatan tak baik ini, perjuangan feminisme, kesetaraan gender, atau apalah namanya, menjadi rancu.

Misal begini, perempuan berpenghasilan lebih dari pasangan mulai berani menindas pasangannya, tak hormat lagi bahkan beberapa menggugat cerai.  Dengan dalih suami tak menafkahi, perpisahan jadi pilihan.  Merasa bisa hidup mandiri.

Tentu saja perceraian punya banyak sebab.  Namun fenomena yang terjadi demikian kentara.  Tingkat perceraian di daerah industri dimana seroang istri mendapat gaji besar, mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.  Bahkan di lingkup instansi pemerintahan, angka kasus perselingkuhan mulai membesar.  Apalagi kalau bukan karena menipisnya rasa malu dan terbukanya jarik yang kelepasan. 

Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan

Zaman telah berubah.  Pendidikan saat ini menjadi hak siapapun.  Konsep jarik yang mengikat kaki tak lagi digunakan.  Sebaliknya, banyak sekali perempuan yang menempati posisi penting di panggung kontestasi dunia.  Baik politik, ekonomi, pendidikan, bahkan bidang intelegen dunia, banyak melibatkan wanita. 

Hanya, tatanan nilai yang menganggap laki-laki lebih penting telah mengurat akar, akan sulit dihapuskan.  Dominasi kaum lelaki masih ada di beberapa segi kehidupan.  Ini jelas memengaruhi kehidupan wanita, khususnya mengenai pemenuhan hak dasar sebagai manusia.

Ketimpangan ini yang menggerakkan kaum wanita, menuntut pada para pemangku jabatan untuk memberi kesetaraan.  Tapi menurut saya, harus diperjelas, kesetaraan yang bagaimana, dalam hal apa?  Dan pemahaman mengenai kesetaraan tak boleh hanya dilakukan oleh satu pihak, kaum wanita saja. 

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan telah menciptakan kita sebagai makhluk yang berpasang-pasangan.  Maka mestinya memang ada peran-peran tertentu yang dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan untuk dapat saling melengkapi. 

Sebagai muslim, mestinya kita mendasarkan sikap terhadap perempuan dan laki-laki pada pada firman Allah Azza Wa Jala

Wahai manusia!  Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari  seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu saling mengenal.  Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.  Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al Hujarat: 13).

Ukuran kemuliaan makhluk bukanlah jenis kelamin, namun ketakwaannya.   Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang, salah satunya dalam mengenyam pendidikan. 

Adapun konsep patriarki sebenarnya hanya produk sosial budaya.  Paham yang menganggap lelaki lebih kuat, memandang wanita hanya urusan belakang itu yang ingin didobrak oleh kaum perempuan.  Karena merupakan produk sosial budaya, sekalipun menjadi isu dunia, tetap saja perjuangan feminisme disesuaikan dengan konteks lokal. 

Misal, RA Kartini ingin mendapatkan hak pendidikan sebagaimana yang diperoleh kaum lelaki pada masanya.  Pada saat yang sama di belahan dunia yang berbeda, pendidikan telah menyentuh siapapun makhluk bernyawa jika mereka menginginkannya.  Di lain negara mungkin masih memperjuangkan bagaimana wanita menempati posisi penting di bidang politik, di tempat yang berbeda kaum wanita masih tertatih-tatih mendapatkan upah yang sama seperti pekerja lelaki di pabrik, atau bahkan berjuang melawan ketertindasan oleh suami mereka sendiri.      

Jadi tak keliru jika RA. Kartini ingin mendobrak nilai-nilai kultural yang memenjarakan pemikiran perempuan.  Beliau ingin menanamkan bahwa perempuan memiliki hak untuk menjadi bagian dari perubahan sosial masyarakat, ikut andil dalam pembentukan peradaban dunia.

Jika demikian, RA. Kartini telah memperjuangkan pemerataan pendidikan tanpa memandang gender sekaligus menegakkan pemenuhan Hak Asasi Manusia.  Kontribusi beliau patut kita apresiasi.  Dan perlu kita pahami bersama, perjuangan belum juga berakhir.  Yang mesti kita perhatikan adalah tetap tahu batas.  Bagaimanapun, laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga.  Mari tetap berpegang pada ‘jarik’ sebagai batas, bukan pembatasan. 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.