Sebuah Pelayaran

Diposting pada

Angin darat bergerak membawa perahu kami ke tengah lautan.  Sahabatku menunjuk pulau kecil yang dari jauh telah ia cium aroma tanahnya.  Aku percaya saja.  ia legendaris.  Dan meskipun rasi skorpio menaungi kami, toh aku pandai berenang jika perahu ini terbalik tergulung gelombang.

Aku berterimakasih padanya telah mengajakku menginjakkan kaki di tanah ini.  Namun aku tak tahu bagaimana mulanya, setelah beberapa waktu mauk ke dalam pulau, sahabatku tampak tak terlihat.

Seekor burung mendatangiku dengan sepucuk pesan.  Kubuka selembar daun dengan tulisan yang membuatku terperangah.

“Kutinggalkan kau dengan setetes air dan sebuah rasa sombong.”

Aku berlari mengejarnya, namun arus membawanya menjauh dari pulau.  Memandang sekeliling, pulau yang tadinya hanya tampak titik di tengah lautan kini tampak besar menaungiku.  Pertanyaannya, bagaimana aku kembali sekaligus bertahan hidup?

Setetes air adalah bekalku hidup.  Dan kurasa, aku akan mencari cara agar bisa kembali.  Aku yakin aku bisa.  Jika perasaan ini termasuk perasaan sombong, sebenarnya hanyalah keyakinan, perasaan kelewat percaya diri.  Dengan ini aku terus menyemangati diri.

Sendiri saja, merakit sampan dari kayu lalu mulai berlayar kembali setelah papan kayu ini kurasa layak melewati lautan.  Aku kembali dengan perasaan baru.  Terapung-apung seperti buih di lautan.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.