Review Buku_Goodbye, things

Diposting pada

IDENTITAS BUKU

JUDUL BUKU                      :  GODDBYE, THINGS_HIDUP MINIMALIS ALA ORANG JEPANG

PENULIS                               :  FUMIO SASAKI

PENERBIT                            :  PT. GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

PENERJEMAH                    :  ANNISA DINANTYA PUTRI

 

Peningkatan ekonomi dan budaya manusia mendorong perilaku konsumtif.  Globalisasi juga punya andil menciptakan gaya hidup ini.  Kaum kapitalis menanamkan kesadaran bahwa nilai diri seseorang tergantung pada apa yang dimilikinya.  Maka orang-orang termotivasi mencitrakan dirinya melalui barang-barang kesenangan dan hal-hal mewah lainnya.

Apakah citra yang terbentuk kemudian diikuti kebahagiaan?  Jawabannya tentu ada pada diri masing-masing.  Namun bisa jadi sebaliknya.  Fumio Sasaki, salah satu yang merasakannya.  Di tengah kepungan tren hidup maksimalis, dengan tegas ia mengatakan, Goodbye, things!  Ini merupakan tindakan berani.  Namun ia punya alasan masuk akal ketika memutuskan menjalani hidup sebagai minimalis.

Proses Menjadi Minimalis

Menurut Fumio Sasaki, minimalis adalah orang yang tahu persis hal-hal apa saja yang bersifat pokok bagi dirinya dan yang mengurangi jumlah kepemilikan barang demi memberi ruang bagi hal-hal yang lebih penting.  Seorang minimalis bisa membedakan kebutuhan dan keinginan.

Sebenarnya gaya hidup minimalis yang dianut Tuan Sasaki tak datang tiba-tiba.  Sepuluh tahun ia menempati sebuah apartemen, terjebak dalam rutinitas, kesibukan pekerjaan, dan penuh sesaknya ruang oleh barang.  Ia pernah menjalani hidup sebagai maksimalis, membentuk nilai diri dari hal-hal yang ia miliki seperti buku, kamera, dan barang-barang antik.

Seiring berjalannya waktu, ia dapat merasakan bahwa apa-apa yang disimpannya selama ini tak serta merta memberikan kebahagiaan.  Bahkan beberapa tumpukan buku hanya menjadi pajangan saja selama bertahun-tahun.  Barang antik dan koleksi kamera tak membuatnya menjadi lebih berharga.  Barang-barang serba besar yang tadinya dianggap dapat memberikan kepuasan, justru seolah menuntut pertanggung jawaban.  Ia merasa tertekan dari hari ke hari.  Pada proses panjang itulah, ia menemukan konsep minimalisme.  Lalu mulai memutuskan menyingkirkan barang-barang.

 

Berbagi Melalui Tulisan

Fumio Sasaki bukan ahli minimalisme, dia juga bukan orang pertama yang melakukan hal ini.  Namun ia mencoba berbagi pengalamannya menjalani hari-hari sebagai miminalis melalui buku Goodby, things_hidup minimalis ala orang jepang.

Di bab pertama ia menyodorkan sebuah pernyataan dasar yang terkadang kita lupakan.

Tak seorangpun yang lahir ke dunia dengan mebawa suatu benda.

Dari satu kalimat pendek itu saya berpikir kelanjutannya.  Ya, benar juga.  Kita telah minimalis sejak lahir.  Kemudian kehidupan membawa kita pada tingkat kebudayaan, ekonomi, teknologi, dan taraf-taraf tertentu.  Hidup menjadi begitu rumit dengan benda-benda.  Mereka dimiliki atas dasar kebutuhan, pemenuhan hasrat, pencitraan, dan banyak lagi lainnya.  Sebagian besar waktu kita habis untuk memikirkannya.  Mengapa?  Sedang saat kita berpulang nanti, tak satupun barang itu dibawa.

Masih di bab pertama, Fumio Sasaki mengisahkan bagaimana hidupnya sebelum dan sesudah menjadi minimalis.  Minimalisme menjadi pilihan Fumio Sasaki berawal dari satu alasan:  Apartemennya telah mirip kandang!  Lalu apa saja barang-barang yang ia buang?

  1. Koleksi buku;
  2. Alat pemutar musik;
  3. Lemari dapur besar;
  4. Koleksi barang antic;
  5. Tumpukan baju;
  6. Peralatan kamera lengkap;
  7. Macam-macam alat bersepeda;
  8. Gitar listrik dan pengeras suara;
  9. Meja kerja dan meja makan;
  10. Kasur besar;
  11. Televisi 42 inchi;
  12. Sitem audio dan PS3;
  13. Video dan hard drive komputer;
  14. Foto-foto;
  15. Surat kenangan sejak kecil.

Tak mudah merelakan segala sesuatu yang selama ini menjadi milik kita, menemani hari-hari kita, ini sungguh pekerjaan berat.  Namun Fumio Sasaki memiliki kiat-kiat untuk melakukannya. Hal ini ia jabarkan di bab-bab selanjutnya.  Ia mencatat 55 kiat berpisah dari barang.  Kemudian menjelaskan manfaat menjadi minimalis.

Apa yang ia lakukan barangkali dapat memotivasi banyak orang.  Itu kenapa dalam buku ini dijabarkan pula alasan menjadi minimalis, sejarah minimalisme Jepang, serta contoh-contoh beberapa minimalis dunia.  Foto-foto sebelum dan sesudah ia menjadi minimalis serta foto temannya sesama minimalis.  Foto-foto ini tampak menggugah sekaligus menguatkan gambaran tentang minimalisme.

Penuh Kegembiraan

Ketika membaca buku ini, saya menangkap kesan bersemangat.  Serasa ada pancaran energi yang meletup-letup dari penulis sendiri ketika menceritakan pengalamannya sebagai minimalis.  Saya pikir juga demikian.  Kebahagiaan sejati didapatkan ketika kita tak tergantung pada apapun di luar diri kita.  Kita merdeka dari memikirkan barang-barang.  Apa yang kita miliki sebenarnya mengikat kita.

Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca.  Sungguh membuka wawasan.  Menyadarkan kita bahwa banyak hal penting yang bisa kita lakukan ketimbang sibuk memikirkan dan menjaga barang-barang milik kita.

Sesuaikan dengan Keadaanmu

Sekalipun isi buku ini bagus dan memotivasi, ini hanya sebagai referensi.  Gaya hidup memang pilihan.  Namun tak semua cocok jika diterapkan pada individu maupun kelompok individu yang berbeda.  Jadi tak adil rasanya jika saya memaparkan segala kelebihan minimalisme yang Fumio Sasaki sampaikan tanpa melihat sisi lain dari buku ini.  Boleh dibilang ini menjadi satu kekurangan.

Oke, minimalisme memang sebuah solusi.  Namun, sulit bagi masyarakat perdesaan Indonesia menerapkan hal ini.  Budaya desa yang guyub rukun, cenderung menerapkan kebersamaan, dengan jiwa sosial yang kental, minimalisme menjadi sesuatu yang aneh.

Memiliki hanya sedikit barang sementara seringkali orang-orang desa ini berkumpul, entah itu acara syukuran, selamatan, atau lainnya.  Dimana pada kondisi ini diperlukan banyak barang.  Kebanyakan berpikir lebih baik memiliki peralatan sendiri ketimbang meminjam.  Jadilah mereka menumpuk barang yang digunakan hanya beberapa bulan sekali.

Lagi pula, saya mencatat satu hal bahwa Fumio Sasaki masih single dan tinggal di kota dimana masyarakatnya cenderung individual.  Tak sulit sepertinya menjadi minimalis.  Tantangannya hanya pada kepentingan diri sendiri.  Bagaimana memilah kebutuhan dan keinginan.  Semua ini tentang pola pikir.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.