Refleksi Diri: Puasa Lantaran Corona

Diposting pada

Tak ada kebetulan di dunia ini.  Segala yang tercipta telah melalui pemikiran panjang.  Semua yang terjadi telah menjadi bagian dari skenario Tuhan.  Tak terkecuali merebaknya wabah corona. 

Wabah bukan kali pertama terjadi.  Jauh sebelum dunia mengenal teknologi, wabah telah menewaskan banyak penduduk di muka bumi ini.  Wabah virus masih saja menjangkiti umat manusia.  Teknologi yang tinggi, revolusi industri dunia hanya bisa mendorong langkah cepat mengatasi wabah.  Namun tak bisa mencegah.  Atau bahkan perhatian umat manusia pada kesibukan peradaban inilah yang justru menjadi salah satu sebab.  Kita perlu bertanya.

Sosial Distancing

Membaca wacana social distancing yang kemudian berubah menjadi physical distancing lalu berlanjut menjadi upaya keras mengunci diri di rumah adalah saat yang tepat.  Bukan hanya untuk bertanya namun untuk berpuasa.  Apakah ini menjadi sarana latihan sebelum Ramadhan tiba?

Saya rasa yang terjadi sebaliknya.  Puasa Ramadhan selama ini adalah media belajar, karantina untuk menahan diri dari banyak hal.  Bukan melulu ikhwal makan minum dan hal lain yang membatalkan puasa.  Namun lebih pada upaya menahan diri untuk segala hal yang sebenarnya tidak kita perlukan namun kerap menyita begitu banyak kehidupan kita.

Nah, inilah waktunya.  Pendadaran pada kawah candradimuka bernama Ramadhan kita aplikasikan.  Lockdown adalah sebentuk puasa.  Mengunci aktivitas secara mandiri adalah salah satu wujud puasa. 

“Puasa dari apa wong selama ini ya saya kerja untuk keluarga, melakukan banyak aktivitas sosial, bahkan beribadah untuk urusan akhirat!”  Teman saya protes keras.

“Puasa dari apa, saya cuma nggak mau jadi robot.  Makanya abis kerja, bolehlah nongkrong bentar bareng temen di café.  Kita meet up bentar dalam rangka menjaga kewarasan kok.  Heh, betapa capek di rumah.  Lagian juga bosen kan.”  Seorang teman berpendapat.

Ya, itu dia.  Sosial distancing memberi jarak bagi kehidupan sosial, bagi interaksi intens dengan teman-teman, kolega, komunitas, dan banyak lagi lainnya.  Tak ada yang salah dengan kehidupan sosial kita.  Hanya, kita kerap terjebak pada pemikiran yang keliru bahwa kewarasan hanya dapat dijaga dengan kumpul bersama. 

Bahkan di era yang serba digital meetup, kopi darat, tetap diperlukan.  Bagaimana tidak, kita adalah makhluk sosial! 

Tentu saja semua alasan itu benar.  Sayangnya, tidak semua yang kita yakini benar adalah kebenarannya.  Mungkin kita perlu mendengar second opinions, atau mungkin sedikit mendengar suara hati, apa mungkin mulai membuka lebih lebar dan bertanya apakah pola pikir kita sudah benar.

Puasa yang sebenarnya

Saya hanya mencoba, menggunakan jeda ini untuk sedikit berpikir.  Dari banyak meetup yang saya ikuti, isinya senang-senang semata.  Ya, ada kalanya sela waktu yang saya gunakan buat nongkrong berisi obrolan penting.  Tapi itu hanya secuil, sisanya bisa makan-makan, mencicipi aneka kopi kesukaan, ngobrol ngalor ngidul, curhat, ketawa-ketiwi, bahkan ghibah sana, gossip sini, sudah persis seperti akun lambe turah.

Yap.  Seperti yang saya katakan.  Yang penting itu hanya secuil.  Ya sebenarnya ada secuil lagi kegiatan sosial yang saya lakukan.  Mungkin juga kita semua.  Misal, kegiatan pengajian, kegiatan dengan komunitas, masyarakat, dan lainnya. 

Semua itu patut kita apresiasi.  Bahkan pengajian sebagai sarana mencari ilmu juga wajib kita ikuti.  Tapi, bisakah kita yakin, bahwa dalam ragam kegiatan yang dilakukan selama dua puluh empat jam saja rasanya selalu kurang itu kita benar-benar ikhlas? 

Dari kegaitan baik yang secuil-secuil itu yakinkah tak terselip sebersit riya, ingin dipuji, ingin eksis, ingin dihormati, atau hanya ikut-ikutan tanpa tujuan, hanya agar kita dianggap bagian dari masyarakat, hanya agar kita dipandang sebagai orang yang aktif?

Padahal, hal-hal tersembunyi itu samar saja. 

Lalu, dengan begitu banyaknya waktu yang dilakukan di luar itu, di samping bekerja tentu saja, saya kembali berpikir bahwa di rumah ada keluarga yang menanti.  Ada kehidupan yang perlu sentuhan tanah juga kasih sayang saya.  Maka sosial distancing menjadi momen untuk mengisi kembali yang rumpang-rumpang dalam interaksi keluarga.  Ya, anggap saja begitu.

Dalam kotak kecil bernama rumah, tersedia peluang besar terjalin hubungan yang lebih indah.  Dalam area sempit bernama rumah, bahkan Tuhan menyediakan ladang luas untuk beribadah. 

Sekalipun rindu menyapa teman-teman, berkisah bersama rekan kerja dengan lebih ceria, saya jalani puasa ini dengan lapang dada.

Inilah puasa sebenarnya.  Puasa dalam setiap langkah kehidupan kita.  Bukanlah puasa memiliki makna menahan diri?  Menempuh jalan sunyi untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan, untuk mentadaburi apapun yang telah Allah sajikan dari berbagai kejadian dan cobaan.  Upaya ini tidak semata-mata mengurangi penyebaran virus, namun alangkah indah jika kita juga tak menularkan keburukan berupa menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. 

“Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘AShr: 1-3)

Puasa Digital

Dalam ikhtiar dan sabar, ada hikmah yang dapat kita ambil.  Hal lainnya tak kalah penting adalah menahan diri dari bermedia secara berlebihan.  Banyak orang yang kalang kabut ketika kehabisan kuota.  Apalagi banyak berdiam diri di rumah.  Internet menjadi pilihan terbaik menghabiskan waktu.

Masih sejalan dengan menempuh jalan sunyi, puasa dengan menahan diri untuk tidak berlebihan bersenang-senang menghabiskan waktu, maka puasa digital juga tak kalah penting.

Apa artinya di rumah saja jika tatapan kita bukan pada anak-anak, atau anggota keluarga lainnya melainkan pada perangkat digital?  Apa maksudnya mengurangi kongkow tapi masih asyik menghabiskan waktu ngobrol di group?  Terlebih jika masih sibuk bermedia sosial.  Alih-alih membaca berita penting malah menyebarkan hoax, berita tak penting yang menyuburkan rasa takut para netizen terhadap penyebaran wabah ini?

Tentu akan lebih baik jika kita juga melakukan puasa digital.  Berat?  Tentu.  Bahkan terasa ada yang kurang kan? 

Semua urusan merupakan kebaikan bagi orang beriman

Kalau kita mau lebih bersabar, banyak hal dapat kita lakukan di tengah-tengah kegalauan ini.  Dalam keadaan semencekam apapun, hidup hanyalah pilihan.  Dan kita akan mendapat konsekuensi sesuai pilihan kita.  Kita tak tahu ini akan sampai kapan, namun mengunci diri dalam beberapa waktu ini masih terlalu sedikit dibanding banyak kesempatan yang telah Tuhan berikan pada kita selama ini. 

Bersabar dalam menghadapi musibah.  Jangan panik, menjalani waktu-waktu ini untuk tetirah di jalan sunyi lantaran corona.  Segala hal yang kita lakukan dapat bernilai ibadah. 

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman.  Seluruh urusannya merupakan kebaikan, dan ini tidak dimiliki kecuali oleh orang beriman.  Jika mendapatkan kenikmatan dia bersyukur, dan itu baik baginya.  Jika tertimpa musibah dia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim).

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.