Menyombongkan Apa?

Diposting pada

Antara Juminten dan Tarmini

Banyak yang berubah setelah dua sahabat ini belasan tahun terpisah.  Perjumpaan kali ini membuat keduanya saling tatap penuh tanda tanya.

“Wow, Jum! Kamu sungguh makmur.  Pasti baju-baju dariku dulu tak muat lagi, kan?” Tarmini tak bisa menahan diri.

Jum tersipu.  “Ndak lah.  Daster saja aku.  Nggak gerah.”

“Tentu saja, adem.  Tapi ya gimana lagi.  Suamiku tuh senengnya beliin kaos-kaos impor.  Suka marah kalau nggak dipakai.”

Juminten memicingkan mata.  Bibir kanan atasnya tertarik ke atas.  “Oh, ya.  Tentu saja.  Ngomong-ngomong mana anakmu?”

Tatapan Tarmini kini menerawang.  “Apa sih, enaknya punya anak.”  Ucapannya mengambang.

Juminter tersenyum.  Sedikit membusungkan dada ia menepuk bahu Tarmini.  “Tar, meski repot, anak itu penguat ikatan suami istri.  Kamu mesti berdoa.”

“Hehhh???” Tarmini terlonjak.  “Pikirmu aku tak tahu apa yang mesti kulakukan?  Memang anakmu berapa?”

“Lima,” jawab Juminten tegas dan sumringah.

Tarmini terbelalak.  “Secerpat itu??  Kalau pergi gimana?”  Nada Tarmini melemah penuh simpati.  “Kamu kan sampai sekarang nggak punya mobil.”

“Kita bergaya hidup sehat.  Sering jalan kaki kemana-mana.  Kalau jauh sewa.  Ahh, jalan kaki saja anakku hebat-hebat dan membanggakan.  Nanti suatu saat Insya Allah kebeli.  Inget kan kamu dulu gimana. Sekarang aja punya segalanya.  Terus pakai barang mewah gitu.  Kalau bukan karena aku, kamu nggak lolos kerja ke ibu kota, Tar,” kenang Juminten

Tarmini melengos.  “Aku berjuang dari nol.  Dari keringat sendiri.  Tapi kadang Tuhan tak adil.”

“Sekarang tinggal mikirin momongan.  Nggak usah diet.  Biar subur,” saran Jum.

“Nggak lah.  Dasar badanku aja yang ideal.  Padahal tiap malem makan di luar.  Ah, ya gimana lagi.  Udah gaya hidup sih.  Lagian kupikir, Tuhan tak adil.”

“Itu kenapa mukenamu mulai jarang dipakai?” tanya Jum.  Ia ingat pesan whatsapp yang dikirim Tarmini setahun lalu.

Tarmini membisu.  Juminten menatap ke teras melalui jendela.  Biasanya keluarganya makan di luar di sana.  Sejenak mereka disergap keheningan hingga tiba-tiba suara riuh gedebak gedebuk mengejutkan mereka.  Lima anak Jum baru tiba dari rumah nenek. 

 

Kisah Juminten dan Tarmini sampai di sini dulu ya.  Romansa belasan tahun tak bersua diisi obrolan seru yang jika diteruskan tak akan selesai sepekan.  Ada saja yang ingin ditunjukkan.  Berlomba menggali kelebihan untuk merendahkan lainnya.  Menjatuhkan yang lain untuk mengangkat diri.  Tarmini Juminten terjebak di medan perang kesombongan tanpa tahu apa yang mereka cari sebenarnya.

Mungkin Anda berpikir.  Jika Tarmini yang nyinyir pedas, julid akut, dan sombong tak tertanggungkan dibiarkan saja, dia akan terus menyerang Juminten.  Maka Juminten harus membalas dengan perkara yang jauh lebih menjatuhkan Tarmini.  Kalau begini, kapan selesainya?

Hasrat ingin lebih dari yang lain menjadi tirai hati dan pikiran.  Sehingga tak lagi jernih dalam menilai seseorang.

 

Memetik Hikmah dari Kisah Juminten Tarmini

Sombong itu menolak kebenaran dengan takabbur dan merendahkan orang lain. (HR. Muslim)

Merujuk pada hadits di atas, maka definisi sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Dari obrolan Juminten dan Tarmini, dapat kita lihat bahwa Tarmini merendahkan Juminten yang tambun, beranak banyak, dan miskin karena Tarmini merasa lebih baik.  Begitu juga Juminten, tak terima dibuli, ia berusaha menjatuhkan Tarmini dengan menyentil kekurangan sahabatnya yang belum bisa punya anak setelah belasan tahun menikah.

Termasuk sikap sombong lainnya adalah menolak dinasihati.  Tarmini menolak dinasihati karena merasa dirinya sudah paham.  Keilmuannya bahkan lebih tinggi dari Juminten.

Di sisi lain, lantaran dirinya hidup sederhana, Juminten menganggap Tarmini yang memiliki apa-apa, datang dengan mobil sebagai bentuk kesombongan.  Kita tak boleh gegabah menilai.  Orang yang terbiasa membawa mobil kemana-mana, berpakaian rapi dan branded, belum tentu karena sombong.

“Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Bisa jadi memang kesehariannya semacam itu.  Kondisi dan pola pikir kita saja yang sulit menjangkaunya.  Terlebih keinginan untuk lebih unggul dari orang lain sementara tak mampu melakukannya menimbulkan rasa iri.  Menganggap orang lain sombong karena tidak sesuai dengan keinginannya merupakan salah satu bentuk kesombongan.

Selain itu, membalas kesombongan dengan kesombongan sama sama sekali tidak boleh.  Maka sebelum bicara bagaimana agar tawadu’ alangkah baiknya mengetahui beberapa macam sombong.

 

Sombong itu Luas

Ada salah satu kalimat Juminten yang cukup menarik.  “Itu kenapa mukenamu mulai jarang dipakai?”  Sebenarnya Juminten ingin mengatakan bahwa Tarmini kini jarang sholat, jarang berdoa yang artinya ia mulai menjauh dari Allah SWT.  Alasannya karena sekuat dan sekeras apapun Tarmini berusaha, harapannya memiliki momonngan belum juga Tuhan kabulkan.

Sikap Tarmini yang menolak kebenaran takdir, yang mengingkari cara kerja Tuhan, yang mendikte keinginannya adalah salah satu bentuk sombong.  Kekecewaan kerap membuat orang lupa bahwa sehebat apapun, kita hanya makhluk ciptaannya.  Yang tak berhak menolak takdir Tuhan kecuali dengan doa.  Ini termasuk sombong dalam perkara agama.

Seperti sombongnya orang yahudi, sehingga mereka menolak syariat setiap nabi yang tidak sesuai keinginannya. Allah berfirman,

Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. al-Baqarah: 87)

Jadi sombong jenis ini berkaitan dengan syariat Islam.  Mengingkari kebenaran Al Quran dan Hadits.  Dengan kata lain, menolak perintah Allah dan Rasul-Nya, juga menyembah pada selain Allah.

Sementara, urusan saling merendahkan antara Juminten dan Tarmini termasuk sombong perkara dunia.  Tentu saja ini tak boleh.  Namun begitu ada jenis sombong yang diperbolehkan dalam islam yaitu sombong kepada musuh Islam dalam konteks peperangan.

Misalnya sombong di depan pasukan orang kafir ketika perang, untuk menghinakan mereka.  Pada saat perang uhud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan sebuah pedang untuk para sahabatnya,

“Siapa yang mau mengambil pedang ini dengan menunaikan haknya?”

Kemudian Abu Dujanah bertanya, “Apa haknya Ya Rasulullah?”

“Engkau menebas leher-leher musuh sampai mereka terpukul mundur.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian berangkatlah Abu Dujanah, dan dia berjalan menunjukkan keangkuhannya di depan pasukan musyrikin. Melihat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar,

Ini cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali jika dilakukan di tempat seperti ini.

            Sungguh sikap sombong itu begitu luas.  Sangat mungkin terjadi pada hal remeh temen, terjadi pada skala kecil maupun besar.  Terjadinya perang di dunia bukti adanya keserakahan dan praktik kesombongan.  Rasisme yang terjadi merupakan sikap merendahkan kaum lain karena merasa diri lebih baik.

Awal Sikap Sombong

Kebutuhan atas pengakuan menjadi awal munculnya sikap sombong.  Seperti contoh di atas, Tarmini ingin diakui keberhasilannya.  Ia ingin semua orang tahu ia bukan orang susah.  Begitu juga Juminten, meski bukan termasuk orang kaya, ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia bahagia dan bangga memiliki anak-anak yang sehat.   Kalau begitu, kepemilikian atas harta, jabatan, pangkat, keahlian, ilmu, berpotensi membuat orang menjadi sombong.

Merasa berjasa adalah hal lainnya yang menyebabkan orang menjadi sombong.  Terkadang melakukan hal kecil, membantu orang lain, membuat orang merasa kalau tanpa dirinya, mungkin itu tak terjadi.  Seperti yang dikatakan Juminten.  Ia merasa berjasa atas bantuannya pada Tarmini sebelum Tarmini berjaya dulu.  Ia lupa bahwa semua adalah kehendak Allah SWT.

Hilangnya Cinta dan Kasih Sayang

Jika Tarmini dan Juminten masih melanjutkan perdebatan sengit mereka, masih mengunggulkan diri dan saling merendahkan, tunggu saja, dalam hitungan detik, cinta kasih mereka sebagai sahabat akan terkikis habis.  Yang tersisa hanya penyesalan.

Tak hanya kehilangan sahabat, jauh lebih tak diinginkan adalah kemurkaan Allah.  Dialah Yang Maha Sempurna, yang berhak sombong.  Baik Juminten, Tarmini, siapapun juga makhluk di bumi ini bagai debu.  Apa yang pantas kita sombongkan?

Sikap sombong mendorong kita pamer.  Sia-sia saja energi, waktu yang kita kerahkan kalau mesti hilang dihempas riya.  Itu kenapa sangat penting mengelola hati, mengendalikan dari godaan meyombongkan diri baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.

 

Mengelola Hati Agar Tak Sombong

Sombong bersinonim dengan tinggi hati, maka lawannya rendah hati.   Jika sombong dikatakan sebagai takabur, maka lawannya adalah tawadu’.

Sebagai amalan hati, sombong bukanlah bawaan.  Sikap ini bisa diubah dengan niat yang lurus, dan tekad kuat untuk bersikap rendah hati.

  • Menanamkan kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Kelebihan dan kekurangan kita, rezeki, prestasi, atau apapun juga terjadi atas kehendak Allah;
  • Berusaha mengenal Allah dan sifat-sifatnya untuk menanamkan kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang penuh dosa;
  • Merasa khawatir jika amalan kita yang tak seberapa tak diterima Allah SWT;
  • Mengatasi sombong bukan dengan kesombongan lainnya namun dengan nasihat;
  • Belajar ilmu agama agar memahami syariat serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.