Menjadi Guru Literat

Diposting pada

Berbulan-bulan kelas sunyi karena pandemi.  Rindu celotehan siswa sekadar iseng atau serius berdiskusi.  Juga ekspresi guru yang jengkel saat melihat siswanya lebih memerhatikan teman sebelah ketimbang pelajaran.  Belajar dalam jaringan telah meminimalisir interaksi guru siswa.  Namun dari kondisi senyap ini kita tahu bahwa literasi tak terputus hanya karena virus.

Seorang guru sekolah dasar di suatu desa yang saya hubungi menyampaikan kerinduannya mengajar secara langsung.  Ia juga merasa asing dengan sederet media pembelajaran berbasis internet.

Guru terdesak untuk beradaptasi.  Saya jadi berpikir bahwa literasi mestinya tak berhenti hanya pada baca, tulis, dan hitung.  Namun melampaui berbagai bidang, kondisi dan waktu tertentu agar dapat memenuhi fungsinya.

Makna Literasi

Secara bahasa, literasi diartikan sebagai ‘orang yang belajar’.   Idealnya literasi mampu menyusun potongan-potongan pengetahuan yang diperoleh melalui membaca, menulis, melihat, mendengar serta merenung menjadi seperangkat ilmu yang secara kreatif dapat menyelesaikan permasalahan.

Lebih jauh lagi, literasi menumbuhkan imajinasi tentang apa yang mesti dilakukan di masa mendatang.  Karena berliterasi meliputi banyak jenis, manfaat, dan tujuan.  Jika dilakukan terus-menerus akan membentuk pola pikir dan karakter seseorang.  Jika karakter pembelajar telah terbentuk, sepertinya tak kesulitan ketika perubahan terjadi

Literasi adalah Solusi

Realitanya, literasi dalam dunia pendidikan mengalami banyak tingkatan.  Ada yang hanya dipahami sebagai baca tulis.  Ada yang meningkat menjadi sejumlah keterampilan.  Ada yang pada taraf tertentu telah mencapai keahlian dalam suatu bidang serta mampu menjadi pemecahan masalah.

 

Seperti di era pandemi saat ini, literasi digital menjadi keniscayaan.  Guru, siswa, dan orang tua harus belajar memahami teknologi.  Ruang digital memudahkan guru berhubungan dengan siswa-siswanya.  Sehingga pendidikan tetap berjalan sekalipun selalu ada kendala dalam prosesnya.

Kendala penggunaan media digital tak hanya terjadi secara teknis seperti susah sinyal, kurangnya paket data, server down atau perangkat yang tidak memadai.  Lebih dari itu, kedekatan dengan media digital ini memungkinkan kita terpapar banyak informasi dalam waktu singkat.  Kurangnya pengetahuan akan membuat kita mudah termakan berita.

Maka, literasi digital meliputi cara menggunakan media digital, alat komunikasi, serta bagaimana menganalisis informasi, memilih yang baik untuk kita serta secara cerdas mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna.  Karena tak semua yang dihadirkan internet baik untuk kita.

Menyeluruh bukan Separuh-separuh

Agar bermanfaat, selain terus-menerus, literasi perlu dilakukan secara menyeluruh.  Sebelum mengajar, guru harus belajar menguasai materi agar dapat mentransfer ilmu secara efektif.  Untuk bisa melakukan hal ini, guru harus belajar dan membaca keseluruhan materi.  Bahkan menambah referensi.

Contoh lain, akibat literasi dilakukan separuh-separuh.  Hanya karena termakan status, seroang siswa membunuh temannya.  Bukan karena salah baca.  Tapi siswa tersebut langsung menyimpulkan menurut versinya apa yang dilihat di media sosial.

Orang yang melakukan literasi secara mendalam dan menyeluruh tak akan gampang termakan berita palsu.  Baca lengkap, konfirmasi kebenaran, dan jangan asal menghakimi sesuai persepsi sendiri.  Jangan pula asal repost, sekalipun benar, pikirkan kembali apa perlu kita bagikan.

Satu lagi pentingnya literasi digital bagi seorang guru.  Ia harus menjalin komunikasi efektif dengan siswanya.  Bukan seberapa merdu suaranya.  Tak hanya seberapa jelas menyampaikannya.  Dalam hal ini penguasaan media digital tak kalah penting.

Selain mengikuti pelatihan resmi, beberapa guru rela merogoh dompet untuk mengikuti workshop penggunaan media digital baik virtual maupun manual.  Tujuannya, agar tak hanya pasrah pada operator ketika menggunakan banyak perangkat berbasis teknologi.  Namun tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi gangguan teknis.

Penutup

Literasi memiliki dasar membaca, menulis, dan menghitung.  Dari sinilah literasi berkembang.  Orang yang melakukan literasi seharusnya memiliki dan menguasai ilmu untuk memaksimalkan fungsi literasi.  Yaitu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan.

Literasi digital guru di era pandemic adalah solusi.  Pendidikan harus tetap berjalan bahkan mengalami percepatan.  Bagaimanapun, era yang kita hadapi tak lagi serba manual.  Digitalisme tengah memainkan perannya.  Jika kita berdiam diri, guru hanya akan gigit jari.  Tergerus teknologi tinggi.

 

 

 

 

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.