Menghadirkan Makna Ramadan di Tengah Wabah

Diposting pada

Siang tadi, langit berkilau dengan buih-buih putih awan menggumpal membentuk gugusannya sendiri, tak lama berarak berformasi menjadi gambaran lain.  Di ketinggian itu, terdeskripsi keceriaan dalam keheningan, kedamaian dalam nuansa putih biru yang memanjakan mata.  

Siapa sangka, di hamparan bumi yang dinaunginya, sesuatu terjadi.  Kematian demi kematian susul menyusul dalam statistik pandemik virus.  Menyisakan kegetiran dan rasa kehilangan bagi keluarga yang ditinggalkan. 

Meski kesembuhan terus saja ada.  Siapa bisa mengira, seseorang yang kemarin ceria hidup di alam bebas sambil menikmati awan-awan di atas bumi Indonesia kini bisa jadi terbarig di ruang isolasi.  Hanya ada alat-alat medis, dokter, dan perawat.  Tak bisa menyapa sanak keluarga apalagi tetangga. 

Saat-saat sendiri namun tak sengaja menyepi.  Waktu untuk berdiam diri namun bukan semedi.  Berjuang melawan rasa sakit mendominasi lantaran virus yang menggerogoti. 

Kisah tentang corona belum berakhir.  Data hingga 9 April 2020, di Indonesia, total kasus telah mencapai 3.512, 306 meninggal dan 282 orang sembuh.  Pada cakupan lebih luas di seluruh dunia, telah terjadi 1,6 juta kasus, dengan kematian lebih banyak daripada kesembuhan. 

Apa yang disampaikan bank data dunia tentang perkembangan corona memang fakta.  Prihatin, sedih sudah pasti.  Hati siapa tak luka memandang saudara-saudara tergeletak, pergi menghadap illahi sebanyak dan secepat di luar sangkaan kita sebagai awam.  Lalu sampai kapan?

Percaya atau tidak, tergantung sikap kita!

Ajal memang urusan Tuhan.  Jika Tuhan telah menuliskan kematian kita karena virus, kemana lagi mau sembunyi?  Namun bukan berarti kita pasrah begitu saja bukan?  Salah satu fungsi akal yang diberikan Tuhan kepada manusia salah satunya untuk berpikir bagaimana berjuang dalam kehidupan. 

Kita hanya boleh pasrah ketika semua langkah telah diupayakan.  Seremeh apapun yang kita bisa.   Itulah pentingnya kita membuka diri untuk beberapa informasi, memilahnya lalu Anda boleh memutuskan setelahnya.

Saya ingin sampaikan beberapa sumbangsih banyak pihak di dunia dini dalam penanganan covid-19.  Tenaga medis jelas, mereka adalah pejuang dalam garda terdepan.  Menangani langsung sekaligus memahami bagaimana pola-pola penularan dan persebaran, menyampaikan statistik data kepada pihak tertentu, memahami gejala dan mengupayakan berbagai metode pengobatan, merawatnya dengan segala kesungguhan hati dan pikiran.

Masyarakat dari berbagai kalangan mulai menggalakkan donasi untuk para korban maupun masyarakat terdampak.  Beberapa orang kehilangan mata pencaharian karena harus tinggal di rumah,atau tempat mereka mengais rezeki telah tutup. 

Dalam bidang sains, kita bisa melihat banyaknya kajian tentang virus ini.  Data yang diperoleh dari perkembangan persebaran virus corona sejak awal munculnya, ternyata menggugah para akademisi untuk melakukan penelitian.

Hasil kajian dari beberapa ahli matematika memberi jawaban yang berbeda.  Simulasi tentang persebaran covid-19 memberi gambaran bagaimana virus menyebar, pola-pola penularan, kapan mencapai titik puncak, dan bagaimana menangguhkan penyebaran penyakit. 

Disampaikan pula bahwa fungsi paling esensial dari suatu model matematika epidemiologi adalah sebagai alat untuk mensimulasikan suatu strategi, juga merupakan cara untuk melihat potensi kondisi yan g terjadi di masa yang akan datang dan bagaimana hal itu berubah akibat pilihan/tindakan yang kita buat hari ini. 

Saya menggaris bawahi bagian terakhir.  Penelitian ini berdasarkan metode ilmiah, Anda boleh saja percaya atau sebaliknya.  Namun yang paling penting sebenarnya, tindakan apa yang kita pilih untuk turut menanggulangi persebaran covid-19. 

Intervensi tegas dari pemerintah dalam hal ini sangatlah diperlukan.  Dapat saya katakana, perilaku tidak disiplin dari kita sendiri yang memberi ruang bebas tumbuh dan berkembangnya covid-19 berkali-kali lipat.  Tidak rindukah kita menjalani Ramadhan dengan lebih hikmat?

Perbedaan Ramadhan Tahun Lalu dengan Sekarang

Jelang Ramadhan di Indonesia sering ditandai dengan tingginya intensitas penayangan iklan sirup, kue, atau sarung yang semakin tinggi .   Selain itu, melambungnya harga sembako di pasaran turut mengiringi naiknya permintaan bahan-bahan tersebut adalah gejala-gejala  Ramadhan segera tiba.   

Bagaimana dengan tahun ini?  Sebenarnya tak jauh beda.  Hanya dalam beberapa hari harga bahan makanan pokok mengalami penurunan.  Beberapa toko menutup diri meski himbauan yang datang dari pemerintah agar waspada dan pemberlakuan jam buka.

Pasar tak seriuh sebelumnya, beberapa pedagang ikan muram, pedagang baju lesu, penjual mainan ada yang gulung tikar, penjual dawet mulai mengundurkan diri.  Ini yang saya lihat dari sisi ekonomi. Entah beberapa hari lagi.  Mungkin keadaanya akan berbeda.  Hanya, pasar beralih secara daring. 

Peraturan sosial distancing yang telah ditetapkan oleh pemerintah juga menyasar ranah ibadah.  Menteri Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran nomor:  SE.6 TAHUN 2020 TENTANG PANDUAN IBADAH RAMADHAN DAN IDUL FITRI 1 SYAWAL 1441 H DI TENAH PANDEMI WABAH COVID-19

Dalam surat edaran tersebut telah diatur secara gamblang, yang pada intinya tetap menjaga jarak.  Larangan sahur on the road, buka bersama, tarowih bersama, tilawah bersama, tarawih keliling, serta takbir keliling.  Shalat idul fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau lapangan, ditiadakan.  Demikian juga halal bihalal, dapat dilakukan melalui media sosial atau perangkat digital.

Adapun pengumpulan zakat, diatur dengan protokol tertentu, untuk tetap menjaga jarak dan kebersihan.  Seyogyanya dilaksanakan sebelum ramadhan agar segera terdistribusikan pada mustahik.  Terlebih, dengan adanya wabah corona, sebagian masyarakat kehilangan pekerjaannya.  Inilah waktu yang tepat untuk berbagi. 

Menjaga Semangat Ramadhan Di Tengah Wabah

Gempita muslim dunia menyambut Ramadhan tak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.  Pola ibadah juga berugah dengan sejumlah aturan dari pemerintah.  Sedih bukan tak dapat saling sapa dalam buka bersama.  Tak dapat saling jabat usai tarowih bersama, tak dapat saling bermunajat, bertilawah di masjid yang sama dengan getar syahdu lantunan ayat-ayat-Nya?

Di sinilah sebenarnya konsistensi kita diuji.  Semangat saat shalat berjamaah, akankah demikian ketika sendirian?  Tak lelah bertilawah bersama, masihkah betah duduk bersila mengaji sendirian?  Jawaban pertanyaan ini akan menunjukkan seberapa istikomah kita ketika hanya kita dan Tuhan yang tahu apa yang kita lakukan.

Lain itu, Ramadhan kali ini memang menerapkan sosial distancing.  Di balik itu, tercipta family gathering.  Selalu ada penyeimbang agar kita terbiasa di tengah suasana tak biasa.  Berjamaah di rumah, membaca Al Quran di rumah, kuliah subuh online, semua tergantung niat.

Menggemakan takbir dari ruang kecil tanpa berkeliling, sahur di rumah, bukan on the road, tak akan mengubah nilai ibadah.  Esensinya tak hilang sama sekali hanya karena kita mentadaburi diri di ruang sepi.  Kehadiran kita sepenuh jiwa ragalah yang akan mampu menghadirkan makna-makna dalam kesenyapan. 

Kalau sudah sedemikian dalam pemahaman itu kita tanam dari sekarang, Ramadhan di rumah saja tak masalah.  Tiga puluh hari yang didera lapar, haus, bosan karena jarangnya kebersamaan, Ramadhan di tengah wabah yang membuat kita lelah, semoga memberikan kekuatan pada kita sebagai gantinya. 

Sekarang, seolah terpenjara kita, namun berdoalah kemerdekaan jiwa akan kita raih kala fitri tiba.  Takdir kemunculan covid-19 yang menyiksa hanya dapat dihadapi dengan kesabaran dan doa.  Saat segalanya berakhir nanti, dengan hati kita yang putih dan selapang angkasa akan mampu melanjutkan hari-hari ke depan dengan semangat Ramadhan. 

“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir kecuali doa” (HR. Tirmidzy)

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.