Mendidik Diri di Tengah Pandemi

Diposting pada

Pandemi covid19 telah mengubah wajah dunia dalam segala aspek kehidupannya.  Tak terkecuali dunia pendidikan.  Yang paling terasa adalah berlakunya kebijakan menjaga jarak sosial yang dikenal dengan sosial distancing.  Aplikasi pembatasan gerak ini antara lain, sistem sekolah di rumah, di rumah saja, dan hindari kerumunan.

Bisa dibayangkan, anak-anak usia sekolah baik SD, SMP, maupun SMK dengan mobilitas tinggi mendadak ‘dirumahkan’.  Seberapa krisisnya jiwa mereka, sebagai makhluk sosial yang gemar bermain, berkumpul, berbincang, melakukan kontak fisik, dan bergerak leluasa tiba-tiba harus menjaga jarak.   

Kebosanan Anak di Rumah

Keterkejutan dengan pola baru pasti terjadi.  Kemudian muncul kebingungan.  Biasa bangun pagi, sarapan, mandi, berdandan bersiap ke sekolah.  Saat berada di depan kaca, sangat mungkin terlintas pikiran: “Loh, ngapain mandi pagi-pagi coba, kan libur!”

Kebingungan lain menyusul seiring dengan nihilnya kegiatan sebagaimana terprogram di sekolah.  Beberapa sekolah menerapkan sistem daring sebagai media pembelajaran.  Sekolah lain, jangankan daring, komunikasi guru siswa kadang tak aktif.  Sebenarnya bukan lepas tanggung jawab, hanya berusaha merangkul orang tua untuk berperan aktif menjadi guru bagi anak-anaknya dirumah.  Katakan saja mereka percaya.

Orang tua dipercaya oleh guru, tapi apakah anak-anak percaya pada orang tua mereka?  Pertanyaan ini menjadi penting mengingat kedekatan anak dan orang tua secara emosional memberi potensi anak manja, tak mau mendengar orang tua karena memang mereka bukan ahli di bidangnya, dan malas karena merasa tidak di pantau guru.  Pikiran pendek anak-anak adalah, untuk apa repot mengerjakan tapi hasilnya tak jelas.

Lari dari beban pelajaran karena memahami materi sendiri terasa menyusahkan.  Namun tak urung, dalam usaha menghindari itu, mereka terjebak kebosanan.  Antara padatnya memikirkan tugas, kesulitan yang mungkin dihadapi serta tidak ada kemungkinan kegiatan yang lebih menyenangkan terselip putus asa. 

Perasaan serba salah melakukan apa-apa, otak terasa buntu, hati tak menentu.  Yang terjadi kemudian, lari pada piranti digital.  Yang namanya pelarian biasanya tanpa tujuan.  Maka bukan sebuah gagasan baik ketika anak-anak memegang ponsel.  Mereka hanya membuka media sosial, melihat-lihat, membaca-baca apapun.  Informasi berseliweran tentang apapun.  Tak ada fokus tertentu yang bermanfaat. 

Sulitnya orang tua menjadi guru di rumah

Tugas kita sebenarnya memulihkan kebosanan mereka sembari menyesuaikan diri menghadapi perubahan.  Karena bukan anak saja yang merasa gamang.  Jadi kita memang harus berjuang beriringan.  Ingat seleksi alam, mereka yang pandai menyesuaikan diri dengan perubahan yang akan bertahan. 

Terlebih bagi wanita pekerja yang selama ini banyak menghabiskan waktu di luar, yang selama ini mempercayakan pendidikan pada institusi, pada tempat les, pada asisten rumah tangga, atau pada kerabat.  Belum lagi benturan dengan lelah yang menggelayuti diri, inilah awal munculnya konflik work from home atau bekerja di rumah saja dengan upaya mendampingi anak-anak.

ketika kita masih punya setumpuk pekerjaan, tapi sistem kerja terjadwal atau harus tetap bekerja dari rumah.  Bekerja sambil memakai daster memang nyaman.  Tak ada tuntutan tampil segar memakai wewangian, baju resmi yang kadang panas di badan.  Masalahnya, ketika laptop di buka, masih terbayang cucian.  Ketika memulai mengetik atau melakukan pekerjaan, tiba-tiba si bungsu datang tanpa merasa berdosa mengajak bermain.

Memilih menemani anak tentu ketimbang fokus hilang, mood melayang saat bekerja dan hasilnya tidak maksimal.  Waktu menjadi demikian panjang.  Bermain dengan anak di siang hari bagi wanita pekerja hal yang langka bukan, sayangnya, sebagian otak kita telah tertancap gagasan menyelesaikan tugas dengan lekas pada jam-jam tersebut.  Sehingga acara bermain membuat hari lelah dan membosankan.  Mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian anak.  Kadang, tanpa pikir panjang kita menyodorkan gadjet. 

Solusi Pendek berbuntut panjang

Orang tua yang bekerja dari rumah membutuhkan beberapa waktu sendiri.  Namun jika untuk mendapatkan waktu khusus dengan tenang dan nyaman bukan perkara mudah.  Anak-anak akan beranggapan ketika orang tua berada di rumah, mereka berhak memiliki waktu mereka juga.

Sementara kebanyakan orang tua tidak merasa siap menyediakan kurikulum di rumah serta berdisiplin dengan jadwal.  Sementara tuntutan pekerjaan dari kantor mungkin menumpuk, banyak yang akhirnya memberikan gadjet sebagai solusi. 

Menurut saya ini solusi yang berbuntut panjang.  Saya tidak sedang antipati atau menyampaikan kampanye anti digital.  Sementara hal itu memang sangat kita butuhkan saat ini.  Namun perlu disiplin tinggi untuk membatasi penggunaannya.

Saya tak bisa mengontrol, apakah ketika anak saya belajar secara daring, mereka tak coba membuka media sosial, chat, nonton film kesukaan tau lainnya?  Tak ada jaminan.  Ketika saya bekerja dan anak saya yang kecil asyik dengan totonannya, saya tak bisa pastikan yang mereka tonton benar-benar berguna.

Dan dalam waktu beberapa jam, mereka kembali terjebak kebosanan dan akan merengek-rengek kembali pada orang tua. Sementara orang tua yang telah bekerja merasa lelah, mata pedas, keinginan merebahkan diri begitu kuat.  Jerat-jerat bantal bagai sihir yang meluluhlantakkan segala pertahanan. 

Susun Strategi

Kita tidak tahu kapan krisis global ini akan berakhir.  Perjalanannya mungkin panjang.  Sekalipun suatu saat berhenti, kita juga harus punya strategi, menyusun langkah sejak dini, apa yang mesti kita lakukan sekarang, dan bagaimana sikap kita setelah pandemi berakhir.

Sesuatu yang awalnya terpaksa, lama-lama juga terbiasa.  Baiklah, mungkin prinsip itu yang akan kita pakai.  Tentu tetap menempatkan kesadaran bahwa segalanya memang berubah, dan kita harus luwes dengan perubahan tersebut.  Sikap kaku hanya akan menempatkan kita sebagai pecundang yang kalah dalam pertarungan hidup.

Saya bukan ahli pendidikan, dan mungkin strategi yang saya terapkan hanya cocok untuk anak-anak saya.  Itu juga belum teruji. 

Mari melapangkan hati, menyediakan diri untuk terbuka menerima apa yang terjadi.  Penerimaan akan berujung pada keihlasan.  Ikhlas yang kita niatkan dengan baik akan tampak sebagai sikap tenang ketika menghadapi anak-anak.  Sikap tenang ini menular dalam bentuk kedamaian juga dalam hati anak-anak.

Langkah berikutnya yang paling mungkin adalah terus belajar.  Orang tua harus terus belajar bagaimana menjadi orang tua, pola pendidikan apa yang pantas diterapkan dalam keluarga.  Caranya bisa dengan membaca, mengikuti workshop online, ikuti kajian-kajian penting.  Belajar menutrisi diri sembari tetap menjaga kewarasan di tengah pandemi agar tak terseret arus kekalahan.

Kita butuh dukungan dan kerja sama dari semua pihak.  Maka libatkan anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk merasa bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri.  Pandemi menjadi tanggung jawab kita semua.  Maka harus dibuka kesadaran untuk menghadapinya bersama-sama.  Ajak anak berkomunikasi alih-alih hanya dilarikan pada ponsel atau dibiarkan bermain sesukanya.

Mendampingi anak-anak ketika mengerjakan tugas memberi mereka ketenangan dan perasaan diperhatikan.  Sebagai gantinya, kita memang harus menyediakan waktu lebih untuk mengerjakan pekerjaan kita sendiri.

Terakhir tentu saja tetap berdoa agar segalanya berjalan normal kembali. 

Kesadaran Baru

         Pada kondisi yang membuat putus asa ini, yang terjadi pada otak saya adalah lelah dan bosan karena ketidakpastian.  Di sisi lain, sejenak mulai berpikir bahwa Tuhan memberikan cobaan tak mungkin melebihi kapasitas yang dimiliki hamba untuk menanggunya.

         Dari situ kesadaran baru mestinya terbentuk.  Anggap ini cobaan, maka mari kreatif menghadapi cobaan ini.  Pada jarak yang terentang, memang ada hati dan pikiran yang harus dijaga agar bertahan di segala cobaan.

         Kebahagiaan tentu tak selalu terletak di luar sana.  Sejauh apapun kita mencari, kita tetap akan kembali.  Titik ini adalah jeda untuk menumbuhkan kembali kebahagiaan sejati dalam diri.  Pendidikan, pekerjaan, memang penting.  Namun, pandemi, social distancing memberi kesempatan pada kita untuk lebih memaknai pendidikan sejatinya tentang membentuk kesadaran menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi apapun.   Baik orang tua maupun anak, keduanya mesti memiliki kesadaran ini.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.