Mendadak Olshop

Diposting pada

Aktualisasi Adaptasi di Tengah Pandemi

Meningkatnya penjualan online sejak diberlakukan sosial distancing bisa dipahami sebagai upaya belanja aman.  Namun jika orang-orang yang semula tak berjualan kini berbondong-bondong menjalani bisnis olshop, kemungkinannya adalah, mereka sedang beradaptasi di tengah pandemi, menghilangkan kejenuhan, aktualisasi diri, atau justru sebaliknya, mengalami pergeseran nilai aktualisasi diri.

Kita lihat akar masalahnya.  Upaya pemutusan rantai penularan covid-19 dilakukan pemerintah dengan menerapkan Sosial Distancing, PSBB, Lockdon lokal, atau di rumah saja membawa dampak ekonomi, sosial, pendidikan, ketenagakerjaan, bahkan kesehatan mental masyarakat. 

Dari sisi ekonomi, kita tahu ribuan orang telah kehilangan pekerjaan.  Karyawan secara hormat dikeluarkan perusahaan.  Pedagang besar berkurang penghasilan, pedagang kecil gulung tikar, sopir-sopir tak lagi turun ke jalanan, buruh putus harapan.  Perputaran roda ekonomi seolah berhenti, kemiskinan menjadi gambaran di seluruh negeri.

Golongan menengah ke bawah paling merasakan imbasnya.  Ketika kehilangan pekerjaan sementara tak memiliki tabungan, hidup ke depan akan makin sulit dijalankan.  Karyawan yang digaji bulanan, sebelumnya sudah memiliki target alokasi belanja seperti cicilan, kebutuhan harian, dan sedikit kesenangan.  Boro-boro lebih, kekurangan uang belanja sudah biasa dipenuhi warung tetangga.  Mentok-mentoknya, jual atau gadai barang yang ada.

Sekarang warung tetangga juga nyaris putus nafas hidupnya karena jualan makin sepi.  Tak leluasa lagi berhutang sana sini karena menyadari banyak yang bernasib serupa.  Ketika isi dompet sudah terkuras, saatnya menguras pikiran.  Apa saja yang penting bisa menghasilkan uang.

Adaptasi

Dari kamus yang saya baca, adaptasi berarti penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan, dan pelajaran.  Beradaptasi maksudnya menyesuaikan diri.  Sedang menurut Wikipedia, adaptasi adalah cara bagaimana organisme megatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup.  Artinya, organisme yang mampu beradaptasi mampu untuk merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya.   

Jika dihadapkan pada kondisi pandemi, perubahan terjadi seperti karyawan putus kerja, pekerja seni gagal manggung, fotografer kehilangan job, dan masih banyak lainnya.  Keadaan ini menuntut mereka segera merespon, lekas beradaptasi dengan perubahan agar tetap bertahan.

Orang-orang mulai kreatif menciptakan lapangan kerja sendiri.  Yang paling umum adalah dagang kebutuhan pokok.  Sandang dan pangan yang memang sangat dibutuhkan pada saat ini.  Saya sendiri menyadari, ternyata dari ratusan nomor ponsel yang saya simpan, hampir 90 persen berjualan online.  Dari yang sebelumnya memiliki usaha lain atau bekerja sebagai karyawan, mendadak jualan online. 

Mereka rata-rata memanfaatkan media sosial sebagai ajang promo, sebagai lapak yang efektif karena tak harus sewa tempat apalagi di tengah kebijakan menjaga jarak.  Cukup memasang gambar dan keteraangan lainnya dari rumah.  Dengan metode pesan antar, jual beli lancar.

Bisa dibayangkan, story, linimasa, beranda isinya dagangan semua.  Kalau semua dagang siapa yang beli?  Sekarang ini saya melihat mulai terjadi barter.  Kembali ke zaman belum mengenal uang apalagi ATM.  Misal si A jual jilbab.  Si B jual sembako.  Si B membeli jilbab yang diinginkan, sementara ketika si A butuh bahan pangan, ia membeli dari si B atau lainnya.  Kejadiannya nyaris semacam itu.  Saling beli punya teman, saling mengisi kekurangan, saling dukung di tengah ketidakpastian.  Masing-masing memperoleh rejekinya.  Disini tampak tak kentara seberapa penghasilannya.  Namun dapat kita lihat, telah terjadi perputaran uang, yang artinya sendi-sendi ekonomi turut berjalan.

Banyak orang yang menjajakan dagangan yang sama.  Sehingga praktis diperlukan skil promosi, strategi berjualan yang dapat menarik banyak pembeli.  Mereka belajar secara autodidak karena banyak dari mereka yang memiliki latar belakang di luar marketing.  Masing-masing mencoba peruntungan.

Nah, karena latar belakang yang berbeda itu, saya mengamati.  Ada pekerja seni yang lantas berjualan.  Ada sopir yang mendadak dagang, ada banyak pendidik yang juga ikut mengadu nasib di bidang marketing ini.  Mereka seolah melakukan sesuatu diluar bakat dan minat yang dimiliki, menjalani usaha diluar nilai-nilai yang selama ini dihidupi, serta menarik diri dari potensi yang selama ini menjadi bagian dari aktualisasi diri mereka. 

Apakah krisis telah mengubah wajah kita, menggeser jiwa kita, menampik takdir kita?

Aktualisasi Diri

Aktualisasi berasal dari kata actual.  Seperti biasa saya akan membuka kamus online yang dapat memberikan terjemah secara obyektif dan benar.  Aktual artinya betul-betul ada, atau sesungguhnya.  Ketika mendapat tambahan isasi, menjadi aktualisasi akan berarti perihal mengaktualkan atau menjadikan aktual.

Saat diterapkan pada pribadi seseorang, aktualisasi diri bermakna menjadikan diri aktual, menjdikan diri yang sebenarnya.  Bagaimana menjadikan diri yang sebenarnya?  Apakah kita makhluk yang palsu? 

Bukan itu maksudnya ya, palsu atau asli, kita sendiri mesti bisa memahami.  Deskripsi tentang aktualisasi diri saya sampaikan menurut Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag, M.Ag.  seorang dosen UIN Sunan Kalijaga program studi Aqidah dan Filsafat Islam.       

Menurut beliau, aktualisasi memiliki maksud mewujudkan diri sebagaimana yang kita inginkan, tidak mudah terpengarauh oleh lingkungan sekeliling.  Dapat saya singkat, bahwa mengaktualisasikan diri itu upaya menjadi diri sendiri sesuai jati diri kita.

Syarat menjadi diri sendiri ada tiga, otonom, realistis, serta spontan dan sederhana.  Langkahnya, begini:  mula-mula individu mesti menerima nilai diri, kodrat, serta menerima kenyataan bahwa orang-orang di sekeliling kita memang berbeda.  Setelah dengan sadar menerima diri apa adanya, selanjutnya kita menilai realitas kehidupan kita. 

Kita kaya atau miskin, kita laki-laki atau perempuan, oran kota atau orang desa, kita punya tampang pas-pasan atau lebih, kita memiliki suatu kelebihan dan kekurangan di sisi lain.  Kita mempunyai kekuatan di samping kelemahan.  Pahami realitas-realitas hidup kita agar bisa mengembangkan diri sesuai bakat, minat dan kodrat kita.

Kemudian, yang terakhir adalah bersikap spontan dan sederhana.  Sikap spontan akan menunjukkan siapa kita sebenarnya, tidak ada basa-basi, tidak ada yang dibuat-buat apalagi bermuka dua.  Menerima diri dan orang lain sebagai manusia tanpa memandang pangkat jabatannya, kaya miskinnya, atau apapun yang dimilikinya.  Semua sama sebagai manusia.  Kebahagiaan sejati hanya bisa dirasakan ketika kita benar-benar menjadi diri sendiri yang otentik. 

Nah ini menjadi menarik ketika kita menghubungkan aktualisasi diri di tengah pandemi.  Bagaimana keterkaitan aktualisasi dengan adaptasi?

Hubungan baik Aktualisasi dan adaptasi di tengah pandemi

Saya akan kembali bertanya, akankah kita tetap jadi diri sendiri ketika krisis mendera?  Akan jadi siapa diri kita manakala pandemi bahkan mengubah wajah dunia? 

Ketika banyak perubahan harus segera disikapi, menuntut kita beradaptasi, seperti fenomena munculnya pedagang online dadakan, ikut-ikutan asal jadi penuhi kebutuhan harian, apakah ini gejala kita tak lagi memegang otonomi atas diri sendiri?  Pasalnya mereka melakukan hal yang mungkin tak sesuai keinginan, bakat dan minat? 

Atau yang terjadi malah sebaliknya.  Pandemi, wabah, krisis, menjadikan mereka berupaya secara serius menggali potensi diri dan menemukan memang dagang atau menciptakan kerja sendiri merupakan bagian dari aktualisasi?  Bisa jadi, Teman.

Pada kondisi ini saya lebih memilih menggunakan skala prioritas.  Sebagai contoh, kita akan menghadiri acara penganugerahan penghargaan atas prestasi kita dalam suatu bidang.  Pada waktu yang sama, anak kita sakit parah, tak bisa ditinggal, tak ada orang lain yang menggantikan, hanya kita yang bertanggung jawab.  Mana yang kita pilih?  Tentu saja saya akan membatalkan acara penganugerahan atau tetek bengek lainnya.  Saya akan menunggui anak yang sakit.  Itu analogi ekstrem mungkin ya. 

Pada kondisi kepepet, suami putus kerja, istri kehilangan penghasilan misalnya, sementara anak-anak harus makan, kita harus tunaikan angsuran, dan kebutuhan lainnya, maka beradaptasi satu-satunya jalan.  Kadang, kita tak lagi memutuskan mana yang cocok untuk kita atau tidak melainkan segalanya bermuara pada bagaimana bertahan hidup. 

Bertahan hidup di tengah wabah pun bukan perkara mudah.  Agar bisa mengaktualkan potensi yang kita miliki, pertama kita perlu keikhlasan.  Ya, apalagi kalau bukan ikhlas menerima bahwa dunia ini memang tengah terjangkiti wabah dan sebagai akibatnya, kita menjadi termiskinkan.  Anggap ini sebagai cobaan kita di tahun 2020.  Lalu juga mesti paham, bukan kita saja yang terdampak.  Banyak orang yang sepenanggunan dengan kita. 

Langkah awal ini membuat mata hati kita terbuka.  Lalu kita akan menengok realitas diri kita.  Apa sih, yang bisa saya lakukan.  Kita punya modal apa, berapa?  Modal ini bisa berarti fisik yang sehat, sejumlah uang, dan tak kalah penting adalah kemampuan.  Mungkin sedikit-sedikit kita bisa masak.  Punya kenalan juragan buah yang bisa diajak kerjasama untuk menjajakan dagangannya.  Mungkin kita bisa menulis, atau yang lain mungkin memiliki keahlian sebagai pembicara, penceramah, ahli psikologi yang bisa membuat kelas-kelas online.

Banyak dari publik figure yang kehilangan kesempatan mengaktualisasikan kemampuanya secara offline lantas melakukannya secara online.  Tak sedikit dari mereka yang menyumbangkan penghasilannya membantu mengatasi penanganan wabah covid-19.  Ini juga bagian dari aktualisasi di tengah pandemi.

Penerimaan terhadap keadaan membuat kita bersikap realistis.  Sikap ini mendorong kita mengelola stress akibat jenuh, pusing, bosan, dan lainnya.  Menerima tidak membuat kita buru-buru mengeluh, hasilnya, kita menjadi kreatif.  Menciptakan sesuatu sistem pertahanan baik secara mental spiritual dan fisik. 

Langkah Panjang Ke Depan

Sekalipun kita berhasil mengatasi stress jangka pendek dengan berdagang online atau apapun jenis adaptasi kita, kita harus paham bahwa pandemi ini tak selesai dalam waktu sebulan dua bulan. 

Faktan di lapangan jumlah terkonfirmasi positif covid-19 semakin meningkat, meski angka kesembuhan juga naik.  Namun data-data ini memberi kita bekal untuk berpikir.  Pandemi belum akan berakhir dalam waktu cepat.  Bahkan meskipun pemerintah berhasil mengatasi secara tuntas, akan diperlukan upaya pemulihan kondisi di berbagai sektor kehidupan yang membutuhkan waktu lama.

Untuk itulah, kita mesti kuatkan diri untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan diri.  Diperlukan segera strategi untuk menjalani kehidupan agar penyangga ekonomi tak gampang tumbang, disamping menjaga kesehatan tetap prima.  Yang kehilangan pekerjaan mungkin tak serta-merta mendapatkannya kembali ketika wabah berhenti.  Maka dukungan dari semua pihak akan sangat berarti dalam menyokong kekuatan jiwa raga kita. 

Kita semua mesti bahu membahu, menjadi jujur dan apa adanya, menjadi penolong bagi sesame manusia, lalu fokus mengelola masalah tak lantas pasrah sebelum berusaha.  Sikap demokratis dibutuhkan agar kita selalu terbuka terhadap masukkan dari orang lain, membebaskan diri dari sikap egois, basa-basi dan semaunya sendiri serta tak kalah pentingnya membebaskan orang lain juga untuk bersikap kreatif dan original.

Aktualisasi sekaligus adaptasi bisa berjalan berdampingan jika berkonsentrasi.  Kita tak perlu kehilangan jati diri hanya karena virus yang menjangkiti. 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.