Membangun Komunikasi dengan Pasangan di Era Digital

Diposting pada

Komunikasi tak hanya berarti bicara dengan seseorang.  Jika tipe komunikasi dengan pasangan sekedar bicara, yang terjadi mungkin saja basa-basi pengusir sepi.

Anda hanya akan bertanya,

“Kok pulang malam?” sebagai bentuk sapaan daripada tidak bicara sama sekali.

Atau sibuk menceritakan apa yang tadi siang dialami tanpa berpikir mungkin pasangan kita lelah dan butuh secangkir kopi daripada serangkaian kata sambutan.

Komunikasi bukan serentetan perintah dari suami ke istri atau sebaliknya.  Komunikasi juga tak sebatas permintaan istri pada suami yang tak ada habisnya.  Bicara sepihak, lebih mirip seperti ceramah.  Secara lebih bermakna, komunikkasi adalah pertukaran pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kedua pasangan.

Kebutuhan pasangan diketahui melalui interaksi intens.  Maka komunikasi harus dibangun dengan kesadaran masing-masing pasangan untuk saling memahami tanpa merasa lebih dominan.  Semua memiliki peran, hak dan kewajiban yang sama untuk membuka diri.  Menyediakan telinga dan hati.  Mendengarkan keinginan pasangan, bersabar atas ketidak sesuaian harapan.

Tentu saja tidak semudah itu bukan.  Terlebih kita berada di tengah kesibukan teknologi.  Dimana hubungan suami istri mengarah ke digitalisme.  Kita duduk bersama pasangan, dengan dua cangkir kopi di meja ditemani sepiring kue.  Suasana tetap sepi karena kita mengisinya bukan dengan obrolan tapi sibuk menunduk pada ponsel masing-masing.  Kopi terlanjur dingin.  Sedingin hati masing-masing karena kehangatan terjadi di jejaring sosial.  Dunia antah berantah bersama orang-orang yang jauh di luar rumah kita.

Kalaupun pada akhirnya bicara, biasanya masing-masing sedang mengomentari video lucu, kisah tragis, atau hal menarik yang sedang dilihat.  Bertujuan agar pasangan tahu.  Sebenarnya tak enak hati mendiamkan pasangan.  Hanya enggan melepaskan ponsel dari genggaman.

Reaksi pasangan kita mungkin hanya, “ooh!” tanpa sedikitpun menunjukkan ketertarikan pada berita yang sedang dibaca, video yang tengah dilihat dan dikomentari.  Karena pada dasarnya ingin diajak bicara tanpa gangguan piranti digital.

Jika begitu keadaanya, maka piranti digital atau media sosial menjadi penghambat hubungan personal.  Berikut saya rangkum, bagaimana komunikasi suami istri bisa terganggu.

  •        Beda pendapat. 

Tak mungkin dua kepala memberi pendapat yang sama.  Kalaupun mirip, sangat mungkin karena suami istri telah hidup lama bersama.  Sebelumnya  telah berbekal sedikit pengetahuan tentang kebiasaan masing-masing.

 

  •        Pengaruh sentimen pribadi. 

Jika sebelum berkomunikasi kita sudah punya persepsi sendiri, itu yang kita pakai.  Maka tujuan komunikasi untuk mencari solusi lebih baik.  Kadang, kita bertanya, tapi sebenarnya sudah menyiapkan jawaban pertanyaan tersebut.

Sebagai contoh.  Raya lagi dengan suaminya.  Hari itu, akhir pekan, Raya ingin lepas penat, jalan ke pantai tau tempat wisata lainnya.

“Enaknya kemana, nih, Bang?”

“Menurutku, kita silaturahmi aja ke orang tua di Indramayu.  Udah lama kita nggak ke sana,” jawab suaminya bijak.

“Itu sih, bukan refreshing.  Mesti nurutin ini itu.  Mesti ketemu banyak orang.  Capek.  Kudu maksain senyum.  Aku tuh, pengennya santai.  Biar fresh.  Ke pantai kek.  Menikmati deburan ombak dan angin sepoi, sementara kaki-kaki kita akrab dengan pasir.”

Kalimat penolakan Raya lebih banyak dari saran suaminya.  Disertai sedikit emosi pula.  Bukankah sebelum bertanya, Raya sudah punya jawaban, ia menunggu suaminya bereaksi untuk menyampaikan keinginannya.

Sebenarnya ia berharap, suaminya menjawab seperti kata hatinya, ke pantai.  Sayangnya, suami Raya punya jawaban lain.  Ini yang kadang jadi sumber adu mulut.

Kemudian Raya bisa saja berkata pada suaminya, “kamu nggak bisa ngertiin aku.”

Kita memang bukan paranormal yang bisa menebak pikiran seseorang.  Tanpa dikomunikasikan, jangan anggap orang tahu maksud kita lantas uring-uringan jika tak sesuai.

 

  •        Tuntutan 

Merasa memiliki memunculkan adanya tuntutan pada pasangan.  Ini yang bisa menghambat komunikasi.  Kadang kita berharap, tanpa menjelaskan detail, pasangan tahu yang kita maksud.  Sayangnya, pasangan kita bukan paranormal yang bisa meramal, membaca hati dan pikiran.

Sedikit saya kisahkan sepasang suami istri, Radit dan Hanum.  Beberapa hari ini Hanum mengeluh pusing, matanya berkunang-kunang dan tak bertenaga.  Dalam keadaan begitu ia masih disibukkan urusan rumah tangga.  Menyiapkan makan malam.  Belum lagi dua anaknya yang kebetulan masih balita.  Hanum tetap melakukan kegiatan, seperti biasa sambil ngomel.

“Emak-emak emang nggak boleh sakit!”

Suaranya tak terlalu keras tapi suami yang tadinya sibuk di depan laptopnya, sontak menoleh.  Ia mendengar sindiran itu dengan jelas.  Perlahan suaminya bangkit menemani anaknya.  Sementara Hanum diam seribu bahasa.

Ketika anak-anak mereka tidur, Radit memberanikan diri bertanya pada wanita yang membisu sejak tadi.

“Kamu kenapa sih, Bun?”

“Nggak papa,” jawab Hanum ketus.

“Please…”

Kata-kata memelas suaminya ini yang dimanfaatkan Hanum untuk meluapkan semua perasaannya.

“Bukannya dari kemarin aku udah bilang.  Tadi siang juga aku kirim whatsapp.  Kepalaku pusing, badan sakit semua, capek.  Makanya kalau ada orang WA itu dibaca.  Namanya perhatian sama istri.  Udah online terus tapi pesan diabaikan.  Sebenarnya chat sama siapa sih?

 

Nah, muncullah kata-kata “Aku kan udah bilang”.  Yang Hanum inginkan sebenarnya sederhana.  Kalau dia sudah menyampaikan sebuah keluhan, mestinya Radit memahami.  Hanum sedang menuntut untuk lebih diperhatikan, misalnya beli makan saat pulang kerja.  Lalu menemani anak bermain dan memberi kesempatan istri beristirahat.

Kekecewaannya berujung pada kalimat, “chat sama siapa sih?”.  Hanum merasa memiliki Radit.  Ia hanya boleh menjadi wanita satu-satunya.  Bahkan komunikasi dengan teman-teman Radit yang perempuan seringkali membuat Hanum cemburu.

Dalam kadar yang ringan, cemburu perlu.  Pada tingkat tertentu, cemburu membunuhmu.  Membunuh dalam arti meniadakan karakter fitrahmu yang sebenarnya.  Karena cemburu berlebihan mengarah pada cemburu buta.  Pada perilaku-perilaku yang tidak semestinya.

Dalam membangun cinta, cemburu adalah bumbu.  Menuntut juga menjadi hak istri.  Namun luapan perasaan yang tidak diberi rambu-rambu, tidak diberi logika, berdampak pada sifat berlebihan.

Laki-laki punya logikanya sendiri dalam berkomunikasi.  Mereka lebih suka bersikap terbuka dan apa adanya.  Kalau niat kita menuju A, ya langsung saja.  Jangan ke C dulu, berkeliling ke F, G, dulu.

Apalagi komunikasi verbal yang sekarang lebih dominan.  Bahasa tulis melalui pesan whatsapp atau lainnya harus jelas dan tidak menimbulkan ambigu.  Bahasa yang kurang pas menimbulkan persepsi berbeda sehinga pesan tidak tersampaikan.

Ini yang sering dilakukan wanita.  Bicara melalui kode-kode rahasia seperti dalam spionase.  Hanya orang-orang tertentu yang mampu menerjemahkan.  Bahasa puitis pun jadi kurang efektif dalam komunikasi sehari-hari.  Membuat status untuk menyindir seseorang bahkan suami.  Belum tentu juga suami membaca.  Kalaupun baca, belum tentu paham maksudnya.  Alih-alih bersikap sesuai yang diharapkan, malah tak peduli sama sekali karena sudah malas dulu dengan sikap kurang terbuka tersebut.

Wanita ingin tanpa bicarapun suami tetap paham.  Paham dari sikap, tingkah laku, bahkan paham dari cara bernafas dan menatap.  Disamping itu, wanita yang cenderung lembut hatinya, senang pada kata-kata romantis, mudah terharu, senang membicarakan apa saja, bahkan puisi-puisi.  Namun seringkali ini menjadi sumber masalah.

Memahami perbedaan, bukan untuk menghilangkan karakter laki-laki dan perempuan tapi untuk bisa menyeimbangkan keduanya.  Komunikasi terbuka tanpa prasangka.  Tapi tetap bisa saling menghargai.

 

  • Toleransi dengan teman lebih besar

“Tadi aku buru-buru banget.  Suami nggak mau nunggu bentar aja.  Heran deh!” keluh seorang wanita kesal.  Ia menenteng belanjaan yang ia beli dari mall.  “Padahal kemarin jalan ma temen buat beli laptop, sabar-sabar aja tuh.  Padahal kan lama karena harus instal program pula!”

Saya kerap mendengar kalimat tersebut terlontar dari bibir wanita.  Sebagai ungkapan kekesalah, bahwa toleransi seorang lelaki pada temannya kadang jauh di atas istrinya.  Di satu sisi, lelaki beralasan bahwa ia menjadi diri sendiri di hadapan wanita yang telah lama hidup dengannya.

Mengapa harus menjadi orang lain.  Kalau tidak mau ya katakana tidak, kalau mau yan mau.  Toh tidak selalu suami menerapkan sikap yang sama.  Pada keadaan darurat, misalnya istri atau anak sakit, mau sampai jam berapapun tetap ditunggu bukan?

Untuk hal-hal tertentu yang dianggap enteng, kadang suami berharap, istri tidak perlu manja.  Sebaiknya mandiri sehingga tidak terkesan selalu merepotkan.  Prinsip suami semacam ini yang sering disalah artikan wanita.

Pernah seorang kawan berkisah dengan menggebu-gebu.  Suatu sore ponsel suaminya berdering.  Tak lama, diangkatnya telepon itu dan suami mulai bicara dengan bahasa yang begitu sopan.  Tidak seperti saat ia bicara dengan istrinya.

Setelah telepon itu ditutup, kawan saya meletupkan kekesalan.  “Hmmm biasanya kalau aku yang telepon nggak gitu-gitu amat.  Ngangkatnya juga lama.  Ngomongnya sebentar.   Kalau WA juga lama balesnya.  Padahal online!”

Yap!  Kalimat itu cukup memanaskan telinga suami.  Sehingga konfirmasi muncul dengan cepat dan tandas.  “Kamu bisa menganalisis nggak sih.  Masa iya aku bicara sama atasan dengan gaya santai kaya sama kamu?  Bisa-bisa dipecat aku.  Kalau udah gitu, yang rugi kamu juga kan?”

“Iya, tapi kalau aku kirim pesan Whatsapp balesnya lama kenapa?”

“Whatsapp selalu aku buka, karena pekerjaanku di bidang layanan.  Harus fast respon bagi informasi baru atau bahkan complain dari pelanggan.  Lagipula aku kan kerja, bukan lagi main.”

Protes demi protes keduanya saling bertukar memenuhi malam hingga tak terselesaikan.  Seandainya hal ini dibicarakan sebelumnya, tak mungkin terjadi salah paham.

Kadang laki-laki berharap istrinya memahami dirinya.  Dan kebanyakan laki-laki tidak suka basa-basi.  Telepon dengan istri, apalagi yang mau dibicarakan?  Soal anak-anak, ledeng rusak, lampu kamar yang mati.  Hal-hal remeh temeh di tengah kesibukan kerja terasa mengganggu.

Pahami seni berkomunikasi.  Berkomunikasi dengan pasangan cukup sewajarnya.  Sikap berlebihan bagaimanapun juga kerap membosankan.  Jeda, memberi ruang rindu.  Maka bersikaplah elegan tidak kekanakan.  Baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Kesabaran tidak menghilangkan sikap toleransi apalagi merampas hak kita.  Percaya saja, Tuhan menjaga kita.  Tidak menghubungi kita, bukan berarti pasangan menghubungi yang lain.  Tidak menelpon kita sehari saja, tak berarti pasangan melupakan hubungan.  Bersikap dewasa memberikan hati seluas samudera.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.