Membahasakan Matematika

Diposting pada

Kecakapan baca, tulis, hitung sebagai literasi dasar mestinya mampu menjadi solusi minimal bagi permasalahan sehari-hari.  Realitanya, saya masih menyaksikan banyak orang termasuk saya tergagap-gagap saat dihadapkan pada hitung-hitungan ringan.  Apalagi jika dipertemukan dengan matematika yang lebih komplek.

Selepas SMA, saya masih masih butuh kertas pulpen untuk corat-coret menghitung kapan bertemu dengan seorang teman di tempat kursus jika saya berangkat sepekan sekali sementara jadwal teman saya lima belas hari sekali.  Kilas balik, dulu di bangku sekolah, seberapa fokus saya melamun hingga abai guru di depan kelas?

Beberapa orang memilih bertanya berapa uang yang harus dibayarkan jika pada celana yang tergantung di toko tertulis Rp 287.000,- sementara penjual memberi diskon 5%.  Atau teman lain entah karena kepalanya panas atau malas berpikir, salah minum obat.  Yang seharusnya tiga kali sehari dua sendok, hanya minum dua sendok dalam waktu tiga hari.

Hal serupa pernah disampaikan pengajar matematika di sekolah menengah atas, anak didiknya masih menghitung dengan jari ketika diberi beberap soal perkalian sederhana.  Terlalu banyak bermain atau memang ada yang keliru dengan praktek literasi di sekolah?  Tak hanya itu, seorang guru kelas rendah di suatu sekolah dasar masih kebingungan memecahkan soal cerita kelas atas.

Apa yang saya sampaikan hanya sekelumit cerita yang saya temukan di lapangan.  Lingkupnya terlalu sempit.  Anda mungkin menyanggah adanya kesalalahan pada praktik literasi di sekolah sebagai tempat yang dianggap paling kredibel memberikan sejumlah pengetahuan pada anak didik.  Namun, jika literasi belum menjadi solusi, apa yang terjadi?

CNN Indonesia, Rabu 4 Desember 2019 merilis berita bertajuk peringkat membaca dan matematika Indonesia terendah di dunia.  Penilaian ini didasarkan pada riset OECD Programme for International Student Assessment (PISA) 2018.  Indonesia menempati peringkat 75 dar 81 negara di dunia.

Indonesian Family Life Survey (IFLS) menyuguhkan data tak jauh beda, bahwa kecakapan berhitung rata-rata orang Indonesia masih rendah.   Indonesian National Assesment Program (INAP) yang diselenggarakan Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperlihatkan hasil bahwa sebagian besar siswa kelas 4 sekolah dasar kurang cakap dalam literasi matematika.

 

Bahasa Matematika

Banyak pendapat mengenai literasi.  Menurut wikipedia.org, iterasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Memang, literasi tak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.  Begitu pula dalam literasi matematika yang merupakan salah satu literasi dasar.  Kemampuan membaca bahasa matematika sangat diperlukan sehingga pengetahuan yang didapatkan baik di sekolah maupun di luar sekolah dapata diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rendahnya literasi matematika dapat kita lihat dari dua sisi, baik peserta didik maupun pengajarnya.  Kreativitas yang rendah membuat cara mengenalkan matematika secara kaku, teks book, dan membahasakan dengan cara menakutkan.

Peserta didik menganggap matematika sebagai hal abstrak.  Angka-angka seperti berada di dunia lain yang tak memiliki korelasi dengan kehidupan sehari-hari sehingga merasa tak masalah jika dihindari.  Literasi matematika di sekolah sebagian bersar berakhir di buku tugas.  Beberapa memang berusaha sendiri, lainnya hasil gotong-royong.

Jika yang terjadi demikian, masih sangat dibutuhkan kemampuan membumikan matematika. Tak sekadar berhitung namun bermatematika untuk memecahkan banyak persoalan kehidupan.  Kemendikbud dalam hal ini mendeklarasikan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika.  Tujuannya mengubah mindset bahwa matematika itu sulit.

Bermatematika menyenangkan dimulai dari penanaman konsep, mengenalkan lewat hal-hal konkret yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari maupun melalui beragam permainan.  Anak diajak mengembangkan pengetahuan, membangun pemahaman dari pembelajaran dua arah.  Ingat, matematika bukan sulap.  Guru bukan ilusionis yang show up angka-angka yang entah dari mana datangnya dan siswa tak datang ke sekolah, untuk jadi penonton.  Pada tingkatan lebih tinggi, penggunaan metode-metode tertentu dengan menyertakan media pembelajaran akan mempermudah pendalaman materi.

Penutup

Literasi tak bisa dipisahkan dari kemampuan berbahasa dan menulis.  Tak terkecuali bahasa matematika sebagai bagian dari literasi hitung.  Jika kesalahan praktek literasi di dunia pendidikan dibenahi, akan terjadi peningkatan pemahaman bermatematika.  Ini sama saja seperti tengah membangun intelektualitas generasi yang akan datang.

 

Sumber:

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191204122003-284-454012/peringkat-membaca-dan-matematika-indonesia-terendah-di-dunia

https://tirto.id/indonesia-tak-cakap-berhitung-karena-matematika-dianggap-sulap-dacn

https://new.edmodo.com/post/781199948

 

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.