KONFLIK DALAM CERPEN KABUT MUSIM GUGUR DI MICHIGAN KARYA ERNEST HEMINGWAY

Diposting pada

Cerita pendek ini dapat dibaca selengkapnya di https://fiksilotus.com/2020/03/28/kabut-musim-gugur-di-michigan/

Pada pertemuan keempat Kelas Cerpen Hijra Edu, saya diminta membaca sebuah cerpen klasik karya Ernest Hemingway.

ERNEST HEMINGWAY adalah seorang sastrawan asal Amerika Serikat yang telah menulis belasan novel, kumpulan cerpen, dan karya non-fiksi. Ia menerima Penghargaan Nobel Sastra di tahun 1954 untuk karyanya, “The Oldman And The Sea.” ‌

Beberapa poin utama menjadi bahan diskusi diantaranya tema utama, konflik, dan tokoh dalam cerita pendek tersebut.  Berikut saya ceritakan secara singkat.

Cerita pendek Kabut Musim Gugur di Michigan Ditulis pada tahun 1921, kemudian direvisi lagi di tahun 1938 oleh ERNEST HEMINGWAY adalah seorang sastrawan asal Amerika Serikat.

Mengambil tema besar Cinta Terpendam, Ernest Hemingway mengisahkan Liz Coates sebagai tokoh utama dalam cerita.  Uniknya, Jim Gilmore sebagai tokoh pendamping diceritakan terlebih dahulu di awal paragraf.  Lelaki itu datang dari Kanada dan bekerja sebagai tukang besi di bengkel yang dibelinya dari laki-laki tua bernama Horton.  Di tempat ini ia bertemu seorang wanita yang bekerja di kedai bernama Liz Coates.

Liz Coates menyukai Jim.  Segala sesuatu dalam diri lelaki itu menarik perhatiannya.  Dari fisiknya yang berkumis, bertangan besar, dereten gigi yang putih, warna kulit, bulu tangan hingga caranya berjalan.  Liz tak pernah berhenti memikirkannya.  Ia ingin melakukan apapun yang terbaik untuk Jim seperti memasak menu spesial saat Jim dan keluarga Smith, bosnya akan berburu.  Meski ditangguhkan karena merasa tak enak hati.

Liz tak pernah mengutarakan perasaannya.   Karena itu pula, Jim tak tahu dan terlalu memperhatikannya.   Hingga suatu malam sepulang berburu, setelah menenggak whiskey Jim mendekati Liz.  Terjadi konflik batin dalam diri gadis itu.  Liz pikir, Jim mencintainya.  Tapi ternyata Jim memperlakukannya dengan sedikit kasar.  Hingga Jim mengajak Liz ke gubuk kecil di tepi teluk.

Menurut saya, kabut musim gugur menggambarkan perasaan Liz.  Perasaan senang karena merasa cintanya berbalas oleh Jim namun takut karena sikap Jim yang terkesan terburu-buru.  Ini kali pertama Liz diperlakukan seperti ini oleh lelaki.  Kabut menggambarkan perasaan Liz yang ketakutan sekaligus menginginkan lelaki itu.  Akal sehatnya menolak Jim, tapi tenaga dan hatinya tak kuasa melakukan.  Hingga malam itu, akhirnya ia menyerahkan keperawanannya pada Jim.  Ini yang membuat Liz sedih seolah segala yang ia miliki telah terenggut pergi.

Rasa takutnya belum habis setelah kejadian itu.  Jim langsung tertidur, mungkin karena kelelahan berburu atau whiskey telah membuatnya mabuk.  Untuk mengurangi kegundahannya, Liz beranjak ke tepi danau.  Saat itu menjelang pagi terlihat dari penggambaran suasana, kabut yang mulai terangkat di sekitar pinggiran teluk.  Namun ia kembali lagi ke gubuk untuk memanggil Jim.  Namun Jim tak bangun hingga Liz pergi meninggalkannya dengan sebuah jaket yang ia selimutkan.

Cerita ini diakhiri dengan kesedihan Liz, hati Liz yang dingin karena pada akhirnya sikap Jim tak memberi kehangatan dalam hatinya.  Ia merasa sendiri setelah Jim mengambil kehormatannya.  Ending cukup menarik dengan deskripsi bahwa gadis itu pulang sendiri melintasi dermaga, melewati jalanan berpasir, menuju ranjang tidurnya sendiri.  Gambaran perasaan Liz memberi kesan kuat.

Meski pembaca masih dibikin penasaran apakah Jim akhirnya bangun atau tidak, apakah Liz mendapatkan cintanya atau tidak, ending ini saya pikir sinkron dengan judulnya, Kabut Musim Gugur di Michigan.  Hanya kabut yang tak memberi kejelasan.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.