Kamar Kost

Diposting pada

Diana terperanjat begitu sampai di kamar kostnya seusai kuliah.  Bantal-bantal terserak di lantai.  Sprei tak terlipat lagi di bawah kasur.  Pandangannya beralih ke meja belajar dimana buku-buku saling tumpang tindih.  Beberapa tercecer di lantai.  Laci terbuka dan satu benda mungil tak ditemukan di sana.  Flashdisk. 

Diana berkacak pinggang.  “Satu-satunya orang yang bisa masuk adalah Mira!” bibirnya bergetar saat mengucapkan nama teman sekamarnya di Yogyakarta.  “Atau ibu kost,” tambahnya.  Bergegas Diana mencari Mira atau ibu kost.  “Aku harus dapat penjelasan!” pekiknya.

Langkahnya terhenti oleh dering ponsel ketika baru mencapai pintu.  “Halo?” sapanya menjawab panggilan dari nomor tak dikenal.

“Halo, Diana!  Ini aku, Mira.  Maaf, ponselku mati.   Jadi aku pinjam milik pamanku.”

“Kamu dimana?” tanya Diana penasaran.

“Aku di rumah sakit.  Ibuku kena DB.  Tadi paman menjemputku ke sekolah.  Aku tak sempat mampir ke kost, takut kemalaman sampai Banjarnegara,” terang Mira.

“Apa?? Ibu..mu?” Suara Diana terdengar gagap.  “Oh, Mir.  Semoga ibumu lekas sembuh.”

“Terima kasih.  Kau sahabat terbaikku.”  Mendengar ucapan Mira, Diana hanya bisa bersandar pada pintu. 

“Ibu kost, mungkin…” Diana mulai ragu.  “Apa yang wanita tua itu cari di kamarku?” Diana bangkit, mempercepat langkah menuju rumah induk.  Senyap.

“Cari siapa, Mbak?” tanya anak kost lain yang melintas. 

“Ibu kost.”

“Jadi, mbak belum tahu?”

Diana memicingkan mata.

Anak itu melanjutkan ceritanya.  “Ibu kost ada acara seminar di Pacitan.  Mungkin dua hari.  Beliau berangkat tadi pagi-pagi sekali.”

Kening Diana berkerut.  “Oh, ya.  Apa tadi ada tamu?  Atau seseorang yang mencurigakan?”

Anak itu mengangkat bahu.  “Aku baru pulang.”

Diana menghempaskan nafas beratnya.  Ia mengambil satu tempat duduk di teras rumah induk.  Kedua belah tangannya memegang kepala yang dipenuhi berton-ton pertanyaan.  Ia ingin menghubungi seseorang.  Tapi siapa? 

Dalam beberapa waktu, ia hanya memandang deretan kontak di ponselnya.  “Hah,” desahnya.  Detik berikutnya ia dibuat terkejut oleh pesan whatsapp yang masuk. 

“Kau tak akan bisa lari dariku, Di.  Kau boleh putuskan aku.  Tapi foto mesra kita di kamarmu akan viral di media sosial dalam beberapa waktu.  Kalau kau mau aman, beri aku 10 juta.  Itu harga yang pantas.  Dan kau akan mendapatkan kembali flashdiskmu.”

Bahu Diana meluruh.  Ponselnya jatuh dari pegangan.  “Jadi…”  lidahnya kelu.  “Jadi, Radit yang melakukan ini?” Masih terbayang jelas senja lalu, ketika dengan berani ia menyatakan putus dari lelaki itu.  Ia abaikan keinginan Radit untuk kembali.  Bahkan ketika Radit bersimpuh dan berjanji untuk terus mencintainya.  Diana bergeming dan kini ia mendapati segala keyakinan yang ia pegang akan segera membunuhnya’

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.