Minus Seratus

Diposting pada

Dieng, 30 Agustus 2014

Waktu menunjukkan pukul 10.00 saat alunan musik jazz menyapa pengunjung di pelataran komplek candi Arjuna pada malam puncak Dieng Culture Festival 2014.  Nafas musik nan lembut membuat mereka bertahan di tengah suhu Dieng yang meluncur ke bawah nol derajat celcius.  Rendra berusaha menghalau gigil dengan jaket dan sebuah penutup kepala dari benang wool.  Kamera ditangannya siaga mengabadikan penampilan sebuah grup musik jazz asal Purwokerto di panggung.

“Begitu indah…begitu indah….”  Bibir Rendra bergerak menirukan lagu grup band Padi yang ditembagkan ala-ala jazz itu.  Sesekali ia melirik Luna yang bersila di sampingnya.

Dalam balutan jaket rajut pink dan penutup kepala dengan warna senada Luna manggut-manggut mengikuti irama musik.  Suara merdunya mengalun lebih keras di banding Rendra yang hanya berkomat-kamit saja.  “Ini luar biasa, Ren!” teriaknya di telinga Rendra.

Rendra tersenyum.  “Kau suka?” tanyanya lembut.

Luna mengangguk lebih karena ia berada di samping Rendra.  Ia ingin meminjam bahu Rendra, bersandar di sana, menikmati desah jazz di negeri atas awan bersama seorang fotografer yang dikaguminya. 

Tak tahu bagaimana memulainya.  Minta izin meminjam bahu?  Ah, lugu sekali.  Langsung bersandar?  Bagaimana jika ia menghindar?  Ndak tahu anggah-ungguh.  Sibuk Luna dengan pikirannya sendiri.

“Kenapa, Luna?”

Luna menggeleng.  Rendra tahu ada sesuatu yang Luna pikirkan.  “Kau kedinginan?”

Luna menggeleng malu.  Hati kecilnya berbisik, Kenapa tak berbohong sedikit saja.  Rendra mungkin akan menggeser duduknya lebih dekat untuk memberinya sedikit kehangatan.

Luna memberanikan diri menoleh menatapnya.  Debar jantungnya meningkat dua kali lipat.  Gigil udara Dieng tak lagi Luna rasakan.  Sekujur tubuhnya memanas. 

“Emm, sebenarnya…”  Luna menggantung ucapannya.  Katakana Luna! Bisik hatinya.  Bagaimana jika di tolak?  Ah tak mungkin.  Lihat!  Rendra telah menunjukkan perhatiannya, menanyakan perasaanmu, menanyakan keadaanmu, mengajakmu ke Banjarnegara, bahkan bertemu orang tuanya di salah satu desa di Banjarnegara.  “Ren, bisakah kita selalu begini?” kata-kata itu akhirnya meluncur diiringi tetesan keringat yang mungkin salah tempat.  Tak seharusnya ia berkeringat menjelang malam di ketinggian lebih dari 2000 mdpl ini.

Rendra mengangkat kedua alisnya.  Luna tahu persis makna dua alis yang terangkat menjauhi bola mata yang dilindunginya.  Maka ia dengan percaya diri melanjutkan kicauannya untuk memperjelas segalanya. 

“Ren, kita sudah lama menjalani hari-hari bersama.  Tak bisakah kita menjadi lebih dekat.  Kau tahu bagaimana perasaanku.  Dan aku tahu perasaanmu.”  Ucapan Luna setegas panas kawah di ruang dingin Dieng.  Sedikit bergetar dan terlalu cepat.

Pegangan Rendra pada kamera yang sejak tadi merekam lagu karya Padi itu mulai goyah.  Ia yakin bukan lantaran cuaca dingin membuat jemarinya kebas.  Ia tak punya masalah dengan susunan syaraf di tangannya. 

Dalam iringan Begitu Indah, ucapan Luna lirih merintih mendarat di telinganya.  Mengusik keseimbangan dirinya.  Ia mencoba mengambil oksigen sebanyak mungkin.   Akhirnya, kamera di tangan ia turunkan perlahan seiring turunnya suhu tubuh Rendra.  Rasa dingin menjalar melalui aliran darahnya menuju ke hatinya.  Membeku di sana.

Mata bulat Rendra memandang gadis 21 tahun itu dengan tatapan kosong.  Gadis polos itu membalas tatapan fotografernya tak mengerti.  Tak biasanya fotografer itu memandangnya tanpa arti. 

Seingat Luna, Rendra selalu antusias.  Setahu Luna, Mata bulat Rendra mampu meradiasi hingga dasar hati sekalipun ia memandang Luna dibalik lensa kamera.  Dia tampak begitu seksi dengan itu semua.  Semua yang melekat di kepala Luna, luruh sudah.  Ia tak mampu menerjemahkan maksud tatapan lelaki kerempeng bermata surya itu. 

“Luna, apa yang bisa kuberikan padamu selain hati yang beku?” kata-kata itu seolah ledakan kawah Dieng yang ingin dihindari siapapun.

Luna berhenti bernafas seketika.  Ia mengutuki pengakuannya, menyesali keberaniannya.  Ia seperti tengah berlari menaiki Gunung Prau, menjemput awan lembut di Puncak Si Kunir, terbang dengan iringan jazz penebar cinta pada sesama, namun tiba-tiba gemuruh lava panas menggelegak, letusan gunung melemparkannya kembali ke lembah.  Begitu curam. 

‘Hati yang beku’ dan tatapan kosong itu sudah bicara banyak.  Ia tak ingin lagi memandang sepasang bola mata Rendra yang bulat.  Begitu indah, namun kosong.  Luna buru-buru mengalihkan pandangannya ke panggung.  Tak berani berlama-lama dalam sihir mematikan itu.  Atau lebih tepatnya, ia tak ingin mata bulat lelaki itu mendapati dirinya berkaca-kaca.

Lagu itu berakhir.  Pembawa acara bicara panjang lebar menyapa penonton, mengomentari penampilan para musisi, mengulas sedikit tentang jazz, lalu menyemangati pengunjung dengan seruan yang memerdekakan jiwa. 

Tak satu kalimatpun mampu Luna tangkap.  Ia terpenjara dalam kebekuan Dieng. Perasaannya yang telah seratus persen tertambat pada Rendra, kini bahkan berkurang dengan jumlah yang sama, minus seratus. Ia seperti mendapat pukulan yang sama telaknya untuk kembali pada tempatnya semula.

Rendra menunduk, ia ingin merengkuh Luna dalam pelukannya, membiarkan ia menangis jika itu dapat menghiburnya.  Ia menyayangi Luna seperti menyayangi Wulan adiknya.  Usianya tak terpaut jauh.  Hanya berselang satu setengah tahun.  Luna, Wulan.  Apa bedanya?  Mereka rembulan di hati Rendra.  Dua satelit yang ingin ia jaga tetap pada orbitnya. 

Cinta orang dewasa?  Semacam orbit yang tak mungkin dilewatinya atau mungkin susunan tata surya hidupnya menjadi berantakan.  Tak akan mampu Rendra berikan itu pada gadis yang ia anggap adiknya.

“Luna, aku…”

Getar ponsel Luna mengejutkan keduanya sebelum Rendra menyelesaikan kalimatnya.  Luna sempat mengusap matanya.  Rendra dapat melihatnya.  Ia hendak memberikan sapu tangan, namun tangannya tertahan oleh tangan kiri Luna yang terbuka ke arah Rendra. 

“Sebentar,” ujar Luna lalu berdiri mencari tempat yang agak sepi.

Di tengah lautan manusia yang hadir, baik yang duduk bersila maupun berdiri di tepian, seluruhnya membentuk harmoni bersama desahan musik jazz yang menyapa setiap jiwa dengan keramahannya, menyatu dengan alam.  Namun tidak demikian yang terjadi pada Rendra.  Ia terpekur, sendiri, menggigil, merenung.

Ia bisa memahami perasaan Luna sebaik memahami perasaannya sendiri.  Hal sama telah terjadi padanya tahun lalu saat ia mendekati adik kelasnya saat kuliah di Yogyakarta.  Rose, seorang fotografer muda berbakat.  Berkepribadian teguh.  Wanita tangguh yang lembut itu telah memikat hati Rendra begitu rupa.  Hingga lelaki kerempeng asal Banjarnegara yang tak punya apa-apa selain bakat memotretnya berani mendekati Rose. 

Kenangan itu seperti slide film, begitu jelas di mata Rendra.  Hingga ia tak sadar, telah lewat satu jam sejak Luna pergi menerima panggilan dari seseorang.  Ia belum kembali ke sisinya.

Bersambung…..

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.