Jangan Ada Drama di Tengah Corona

Diposting pada

Sudah selayaknya, kita menjaga kewarasan.  Dalam waktu sebulan lebih banyak berada di rumah, mengurangi bepergian, mengurangi berkumpul dengan banyak orang, meniadakan acara-acara yang mendorong terjadinya kerumunan.  Dan bekerja dari rumah atau Work From Home.  Ah, sebagai makhluk sosial, mendadak bersikap seakan kita individual itu sulit.

Apa yang terjadi ketika seorang hidup dalam kesendirian?  Merasa terisolasi, merasakan pahit manis hidup seorang diri tanpa berbagi.  Ah, ya!  Zaman sekarang memang berbagi tak menuntut kehadiran fisik bukan?  Media digital dengan piawai membantu kita tetap menjadi makhluk sosial.

Tapi, bagaimanapun juga ada kebutuhan fisik yang harus dipenuhi seperti interaksi langsung, bertatap muka, membaca ekspresi lawan bicara, bersentuhan, bahkan berpelukan.  Biasanya ketemu teman salaman.  Ada semacam perasaan nyaman dan diterima.  Sekarang bahkan gerak bibir saja tak terbaca.  Sungguh menyiksa bukan? 

Sosial Distancing

Tak ayal, kebijakan sosial distancing yang bahkan mengerucut pada physical distancing ini memberi efek samping.  Kekhawatiran, perasaan tak punya teman, gabut istilah anak mudah zaman sekarang.  Diperlukan adaptasi dalam situasi serba sulit ini. 

Pada tahap awal, mungkin terjadi kegalauan.  Keinginan duduk dan berbincang dengan teman dilakukan melalui media sosial.  Curhat ini sharing itu.  Kadang marah, kadang cekakak-cekikik di depan ponsel.  Dan benda kecil ini menjadi pelarian.  Lebih banyak dipegang dari biasanya.

Kita bisa membaca saat hari-hari gabut yang tak teratasi itu lari pada ponsel.  Lama-lama chat dengan teman bosan, maka mulailah bercuit di media.  Twitter, facebook, ig, whatsapp.  Ini dianggap cara paling aman.  Curhat tanpa merasa dihakimi.  Apa-apa dibagi, apa-apa jadi story.  Maklum, ini kebutuhan. 

Bekerja Dari Rumah

Bagi ibu rumah tangga, berada di rumah saja tak asing lagi.  Banyak hal yang bisa dilakukan.  Mereka beradaptasi dengan baik tentunya.  Tak kaget lah, meski sebenarnya ingin lebih bebas saat keluar rumah. 

Nah, bagi wanita pekerja yang tiap hari pergi, ini jadi catatan tersendiri.  Sebenarnya, bekerja dari rumah bukan wacana baru.  Banyak orang-orang yang memang berkarir dari tempat tinggalnya.  Tetap di rumah juga bukan kisah langka.  Toh kita tak sendirian. Kita bukan dipenjara, ada dukungan sosial dari segenap masyarakat dunia.  Itu yang mestinya menjalani hari-hari di rumah sebagai kebijakan pencegahan corona ringan-ringan saja.

“Iya, udah biasa kerja dari rumah.  Tapi biasanya COD gak was-was.  Keluar nyaman.  Mau hang out juga asyik aja.  Nah sekarang?” pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab.  Karena kita semua paham pergerakan kita secara sosial memang tengah di batasi.  Inikah sumber masalah itu?

Hal ini sebenarnya yang menjadikan dirumah saja seperti siksaan berat.  Penyebab kegabutan, sumber masalah ketidakwarasan.  Eh, tapi kita jangan mengabaikan kerja logika lantas menukarnya dengan sentimen pribadi. 

Sebagai makhluk sosial, wajarlah kalau kita ingin berkumpul, berbagi bersama teman, ngobrol, dan melakukan kegiatan bersama.  Berada di rumah saja dalam beberapa waktu, terbatasnya mobilitas kita menjadikan ada yang aneh, sedih, merasa sendiri.  Kesendirian berujung kejenuhan.  Rasa jenuh mengarah pada ketidakwarasan.    

Sepertinya agak berlebihan ya kalau saya menggunakan ketidakwarasan.   Kata ini berkonotasi negatif.  Baiklah, mestinya kita tetap menjaga emosi kita selagi di rumah saja menjadi hal yang harus dipatuhi.

“Ya, sebenarnya nggak papa di rumah saja.  Sambil memantau perkembangan berita covid-19.  Kita tetap waspada meski sebenarnya takut.”

Takut dan tetap di rumah.  Malah masalah kian bertambah karena kepanikan yang dirasakan tak segera terhapus.  Biasanya di bawa keluar bertemu teman saja, sudah melegakan. 

Betul sekali.  Perkembangan pandemi covid-19 yang dapat kita ikuti beritanya di berbagai media memberi kita wawasan dan pemahaman bagaimana menjaga diri sekaligus menjaga kehidupan sosial.  Sayangnya, yang kita tonton tak selamanya benar.  Kadang, berita tak terkonfirmasi secara benar, sudah disebarluaskan.  Kita yang tak tahu asal-usulnya dapat dengan mudah asal percaya.  Ujungnya panik berkelanjutan.

Serba Status

Saya sendiri kerap menjadikan beranda facebook atau story untuk bicara apa saja.  Sementara ini tidak menimbulkan masalah berarti kecuali mungkin membuat bosan yang membaca kalau memang dibaca.  Sangat mungkin itu dilewati saja.  Tapi sebenarnya, saya akui, itu cukup melegakan.  Mewartakan apa yang berseliweran di kepala.  Meluapkan apa yang bercokol dalam hati.  Terkadang, apapun yang dilihat. 

Kenapa perlu bicara dan mendapat penyaluran yang tepat?  Sudah jadi kodratnya, dalam satu kepala wanita berkelindan ribuan kejadian.  Melihat sesuatu yang ganjil, kepikiran.  Menyaksikan berita kematian, terus saja menancap dalam benak.  Melihat iklan baju, bikin angan-angan melayang.  Belum lagi hal-hal yang bersifat rutinitas yang belum tuntas, akan menjarah otak wanita dengan cara memikirkannya terus-menerus.  Maka bicara seperti terapi untuk menguraikan keruwetan.

Wanita pendiam akan lebih sulit bicara dengan orang lain, akhirnya bikin status.  Wanita cerewet, juga butuh penyaluran lebih terutama di masa sosial distancing ini, akhirnya bikin status.   Status sebagai ajang mengungkapkan berbagai hal menurut versi yang bersangkutan. 

Lama-lama, story, status, bukan sekedar curhat online.  Namun mengarah pada eksistensi wanita.  Maka, status ini dibuat berdasarkan karakter pribadi, atau ingin terlihat seperti apa dirinya.

Hati-hati

Ingin dunia tahu, dan ingin apa yang mereka rasakan, pikirkan tak terlalu lama tersimpan.  Sekarang, jika ada seribu pengguna media sosial aktif yang setiap harinya tak luput membuat status, bisa dibayangkan bukan betapa sibuknya media sosial.  Betapa sibuknya kita yang mengikuti arus ini. Apa jadinya?? 

  • Galau karena status orang.  Status entah buat siapa, kita ikut baper.  Lihat story teman di tempat wisata, galau.   Lama-lama galau bukan karena tak ada teman bicara, tapi galau karena apa yang dibaca.
  • Menelan mentah-mentah iklan.  Melihat betapa indahnya suatu produk di pajang tanpa sadar dibalik semua itu ada skenario iklan yang bagus, ada ilmunya, pedagang cari anglenya, ada pencahayaan, ada teknik-teknik yang diperhatikan secara serius.  Lalu beli tanpa pikir panjang.
  • Memakan informasi tanpa mencernanya.  Masih sejalan dengan poin dua.  Setiap saat kita disuguhi berita tentang corona yang begitu banyak.  Kadang kita membacanya sekilas.  Berita penting dari sumber yang kredibel, dengan bahasa yang kadang sulit, kita malas baca.  Berita yang tampak penting namun sebenarnya hoax, kita baca secara serampangan.  Sehingga apa yang masuk ke kepala kita tidak berimbang.  Benar salah tak dapat dibedakan.  Adanya keinginan eksis dalam segala cuaca, ingin tampak dalam berbagai situasi, buru-buru share, adu cepat posting di media.  Sudah keburu dibaca banyak orang.  Bagaimana jika tak benar?  Rasa takut, khawatir, panic tentu saja.  Disinilah perlunya literasi digital.  Memahami dulu apa yang akan diucapkan, mematangkan informasi yang kita dapat.  Baru setelah itu berani mempertanggung jawabkan apa yang kita bagi untuk publik.

Bisakah tak ada drama di tengah corona?

Mendengar korban yang terus bertambah setiap harinya praktis membuat nyali ciut.  Meski selalu ada kesembuhan di balik pasien yang tumbang.  Tak urung hal ini memengaruhi kita secara emosional.  Prediksi berdasarkan para periset dalam pemodelan matematika mengatakan wabah ini akan berhenti di satu waktu tertentu.  Namun begitu, kita sendiri tak tahu drama ini akan berlalu.

Meski tampak biasa, perasaan kita sebenarnya was-was luar biasa.  Maka, beredarnya hoax di tengah berita yang benar, boleh dikatakan sangat jahat.  Atau sebenarnya bukan berita bohong namun tidak yang belum terkonfirmasi secara lengkap namun sudah diedarkan.  Ah, sungguh meresahkan.

Drama ini terjadi akibat disrupsi teknologi informasi.  Berkembangnya isu-isu, informasi tak jelas, kabar burung yang tak kalah mewabah menjadikan kondisi emosi masyarakat labil.  Ini benar-benar meresahkan.  Jangan sampai karena drama corona, Indonesia makin berduka.

Jika memang ingin mengikuti perkembangan kasus, baca situs yang kredibel.  Kalau belum jelas kebenarannya, jangan buru-buru berbagi.  Simpan saja di kepala, atau mungkin bicara sendiri.  Atau ditulis kalau mau. 

Kita bukan ahli dan tak punya kewajiban berbagi banyak berita.  Tanpa kita, semua orang sudah banyak membaca media.  Lebih penting mengabarkan berita yang bersifat optimisme, tidak menimbulkan rasa takut, atau kegiatan-kegiatan positif yang dapat dilakukan ketika kita di rumah saja, atau sambil bekerja dari rumah. 

Percaya saja, corona pasti berlalu atas izin Allah

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.