Istri Milenial di Ruang Digital

Diposting pada

 

Jika kita seorang istri dalam rentang usia 20 hingga 40-an, kita adalah istri milenial .  Kita tengah berada di ruang digital yang mampu menembus batas-batas ketidakmungkinan.   Hanya dengan smartphone, semua akses di segala penjuru bumi bisa kita kunjungi.  Dunia dalam genggaman.

Sikap terbuka istri milenial pada perkembangan teknologi terlihat jelas pada perilaku sehari-hari.  Ponsel setara makan dan minum.  Tak sehari pun berlalu tanpa membukanya.  Dari bersosial media, membaca berita, melihat-lihat gambar, mencari informasi penting, belanja, berbisnis, dan masih banyak lagi aktivitas lainnya.

Melalui piranti digital, banyak hal mustahil menjadi mungkin.  Jika dulu seolah tak mungkin mengirim foto diri pada teman jauh dalam sekali klik, sekarang semua bisa dilakukan.  Jika dulu berbincang dengan banyak orang secara online serasa tak pernah bisa, kini video converence, video call, dan webinar bukan hal aneh.

Menyenangkan rasanya bisa berbagi tanpa terikat ruang dan waktu.  Begitu pula belajar.  Tak harus dilakukan dengan tatap muka.  Semua tersedia secara online.  Betapa hal ini memudahkan ibu-ibu milenial yang kesulitan mengajari anak-anak di rumah.

Hal kecil lainnya terjadi pula akibat perkembangan dunia ditigal.  Dulu ketika tak tahu resep masakan, mungkin kita buru-buru menelpon ibu bertanya bumbunya apa, atau dengan menempel catatan resep di dapur.  Kini, kita bisa melihat tutorial step by step di you tube.

Selain itu, wanita di era digital senang mengeksplorasi diri.  Mereka bangga dengan kemampuan diri hingga memunculkan rasa percaya diri yang cenderung berlebihan.  Apa-apa yang mereka miliki diaktualisasikan melalui media sosial.  Kehidupan sosial dan standar hidup mereka semakin meningkat, terutama di dunia maya.

Wanita tak bisa biasa-biasa saja.  Harus ada sesuatu yang lebih.  Bahkan tak boleh sama dari waktu ke waktu.  Setiap kegiatan harus berpenampilan beda.  Harus ada caption beda setiap postingan fotonya.  Ternyata, foto mampu mengubah penampilan wanita.

Jadi, tak hanya marketing saja yang menampilkan produk dengan kata-kata iklan provokatif.  Banyak wanita belajar secara otodidak merangkai kata-kata hanya untuk membuat caption, mengawali unggahan fotonya.

Kalau kita mengenal istilah digital marketing untuk pemasaran di dunia digital, maka boleh dikatakan digital marketing bagi wanita berfungsi untuk melabeli diri, menunjukkan citra diri secara lebih menarik.

Perilaku ini bukan hal tabu sekarang.  Tak bisa dipungkiri, teknologi mengiringi gaya hidup masa kini.  Ponsel sebagai terjemahan teknologi smart bukan lagi kepanjangan tangan yang memudahkan hidup seseorang, tapi lebih dari aktualisasi nilai diri.

Pemahaman ini juga yang akhirnya ditangkap industri digital.  Para pelaku bisnis ini mengembangkan perangkat berteknologi canggih menyasar wanita sebagai pasar.  Banyak fitur-fitur yang ditawarkan, dari aplikasi foto cantik plus, edit foto dan video, poster maker dilengkapi dengan huruf-huruf menarik, aplikasi belanja dan masih banyak lagi lainnya.

Tipe Istri Milenial dalam Bermedia

Perkembangan digital ditanggapi secara positif oleh istri-istri zaman now.   Terutama media sosial sebagai aplikasi paling mendominasi.  Sebagai akibatnya, muncul dua kelompok istri milenial saat bermedia.

Istri milenial kelompok pertama akan memanfaatkan media sosial dan perkembangan teknologi untuk hal-hal positif.  Sebagai ruang belajar informal, sebagai media berbagi, berbisnis, ajang silaturahmi, dan mendapatkan bermacam informasi.  Informasi ini bisa dari situs berita, dari anggota komunitas, dari grup pekerjaan, atau lainnya.

Dari komunitas itu mereka belajar tentang banyak hal.  Tentang menulis, berdagang, bahkan belajar ilmu agama, kajian, dan masih banyak lainnya.   Kelompok ini menggunakan media sosial secara wajar.

Kelompok kedua  Istri milenial yang melewatkan waktu produktif dan waktu istirahat mereka.  Menggunakan media sosial sebagai ajang eksistensi diri.  Sebagai tempat memperoleh pengakuan.  Tipe-tipe ini ditandai sering upload foto, posting status galau, gonta-ganti profil picture.  Sering komen tidak jelas, tak sekedar sebagai pengisi waktu.  Bahkan sampai menghabiskan banyak waktu.

Aktualisasi boleh-boleh saja.  Namun jika salah tempat dan situasi, bisa berakibat fatal.  Kita mengenal penyakit ‘ain.  Penyakit hati seperti iri, dengki, hasad, yang ditimbulkan oleh pandangan mata.

Lekat dengan dunia maya bisa berakibat ancaman kejahatan siber akibat sistem pengamanan yang tak diperhatikan.  Selain itu, kesehatan bisa terganggu akibat terlalu lama terpapar layar biru.  Mata berkunang-kunang, leher kaku, sakit kepala hingga insomnia.

Sisi negatif lainnya, seperti saat kita menginstal program di perangkat komputer atau ponsel, akan ada sesampahan bahkan virus yang menyertainya.

Lalu bagaimana kita sebagai istri milenial, menyambut perkembangan teknologi untuk hal positif sekaligus melakukan daring secara aman?  Hal pertama dilakukan adalah, sadari nilai diri.  Kita adalah seorang istri.  Istri milenial dengan karakter shalihah tahu batas.  Mana yang boleh dilakukan mana yang tidak menurut syariat.  Bekali diri kita kemampuan beradaptasi dengan teknologi.  Pahami aktualisasi, eksistensi sebelum berbagi terlalu banyak di media sosial.  Jika seni bermedia sudah kita pahami, perkembangan teknologi bagi istri milenial bahkan sangat membantu, syaratnya tetap jaga attitude, kenali teman dunia maya, tetapkan batasan serta jangan asal percaya.  Renungkan dan konfirmasi kebenaran sebuah berita, kabar, atau peristiwa sehingga kita tak mudah tertipu.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.