Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya

Diposting pada

“Ikatlah Ilmu dengan menulisnya.”

Mendasarkan pada hadits di atas, di ruang virtual ini saya tuangkan setitik ilmu yang pernah kudengar dan kubaca.  Selintaspun tak bermaksud pamer terlebih menggurui.  Masih sedikit pemahaman saya.  Namun ketimbang hanya semacam cakar ayam di buku yang tergeletak begitu saja, barangkali juga bermanfaat untuk kalian semua.  Bukankah ada hadits yang berbunyi, “Sampaikanlah walau hanya satu ayat?”

Sembari terus berharap ampunan dan berkahNya, saya sampaikan juga apa yang Imam Syafii sampaikan:

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang

Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja

 

Menuntut Ilmu Wajib Hukumnya

Sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim (HR. Ibnu MAjah No. 224 dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu disyahihkan Al Albani dalam shahih Al Jaami’ish Shaghir No. 3913)

Kenapa wajib?

Mungkin ada yang bertanya demikian sekadar menguatkan niat untuk melanjutkan membaca, atau memberi dorongan pada diri untuk tetap bersabar menuntut ilmu.

Menuntut ilmu itu wajib karena ilmu adalah kunci segala kebaikan.  Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Alah wajibkan pada kita.

Masih Abstrak?

Begini contohnya, kita tahu sholat itu wajib.  Tapi kalau tak tahu ilmunya, syarat rukunnya, bisa jadi sholat kita tidak sah.  Atau misal kita punya banyak uang (Aamiin)  mau menunaikan ibadah haji tapi kalau tidak tahu ilmunya, bisa fatal.  Bayangkan tawaf yang mestinya tujuh putaran sanking kuatnya dan berharap banyak pahala kita tawaf lima belas putaran.  Ehmm, ini bukan hukuman guru olah raga di sekolah ya, Teman.

Jadi, tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu.  Dengan Ilmu, Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan dan dengan ilmu pula agamaNya disebarkan.  Dengan ilmu, kita memperoleh dunia dan akhirat.

Karena tujuannya yang lebih besar, maka mestinya kebutuhan akan ilmu melebihi kebutuhan makan dan minum.

Ilmu adalah Sarana

Sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Allah, yaitu dengan menunaikan kewajibannya maka diperlukan ilmu yang mesti dipahami secara komprehensif.  Tidak boleh setengah-setengah.  Harus kaffah.

Mendengar hal itu jangan lantas kita khawatir atau takut waktu kita tak cukup, pemahaman baru sedikit, ilmu baru seuprit, terus berpikir tentang biaya, bagaimana mungkin menguasai semua.  Ya, Ilmu Allah memang ibarat samudera yang tak akan habis kita minum.  Lantas?

Lakukan perlahan saja.  Allah tahu betul kapasitas kita.  Maka Allah Subhanahu wa Ta’Ala tak semata melihat seberapa banyak pemahamanmu namun bagaimana niat lurus dan kerja kerasmu untuk menuntut ilmu.

Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit, asal istikomah.  Lakukan tahap demi tahap.  Islam tak menuntut kita untuk secepat kilat menguasai, untuk sekaligus tuntas memaknai.  Yang perlu dilakukan, beramalah sesuai ilmu yang telah dimiliki.  Katakanlah sebagaimana ilmu yang telah didalami.

Imam Bukhari memberi faedah yang penting sekali dalam kitabnya Shahih Bukhari.  Pada suatu bab dikatakan:

Al ‘Ilmu Qoblal Qouli wal ‘Amali”

“Ilmu itu sebelu kita mengatakan dan beramal.”

 

Maksudnya adalah, belajar dulu sebelum mengatakan sesuatu.  Berilmu dulu sebelum mengamalkan sesuatu.  Kalau belum paham tentang hukum pernikahan, kita tak punya kewajiban memberi ular-ular pada kedua mempelai, menasihati mereka, bahkan ceramah sana-sini.

Jika kita belum paham ilmu tentang mendidik anak, sebaiknya belajar.  Sebelum dan sesudah punya anak.  Agar tidak salah asuh.  Pengetahuan juga harus diupgrade setiap saat.

Dari situ bisa kita lihat bahwa Islam adalah agama yang ilmiah.  Ada tahapan-tahapan tertentu sebelum menegakkan sebuah hukum maupun teori.  Meski tetap mendasarkan pada Al Quran dan Hadits, islam sangat terbuka dengan pemikiran-pemikiran baru terkait muamallah non peribadatan.  Disesuaikan dengan zamannya tentu saja.

Dan yang paling penting adalah mengamalkan ilmu segera setelah kita memperolehnya.  Jangan asal meneruskan broadcast pada whatsapp, kopi pasti artikel tanpa membacanya dengan benar, unduh gambar lalu pasang tanpa terlebih dahulu bertabayyun, mengonfirmasi kebenaran, dan lain sebagainya.

Pelajari dulu.  Dengan belajar, terangkat satu kebodohan dari dalam diri kita.  Misalnya kita belajar lima teknik memasak yang benar.  Maka, lima kebodohan, ketidaktahuan tentang memasak telah terangkat.  Tergantikan keterampilan setelah kita belajar.  Bahkan jika kita terus mempraktikannya, kita akan semakin ahli.

Manfaatnya banyak, untuk membahagiakan keluarga bahkan masyarakat.  Sebagai sarana pengambahan diri.  Atau lebih jauh lagi, kita memasak untuk orang banyak pada saat pengajian.  Bukankah itu merujuk pada urusan akhirat?  Mempermudah, membuat kenyang anak-anak saat menuntut ilmu di suatu majelis, memberi kita pahala jariyah.

Eh, kok jadi memasak?

Iya, ilmu di dunia ini banyak sekali.  Kita tak boleh sempit memaknainya.  Bukan saja ilmu Al Quran, karena ilmu ini memang wajib.  Namun jika keahlian lain yang kita miliki menjadi sarana untuk dapat menunaikan kewajiban kita pada Allah, kenapa tidak?

Misalnya menulis, jika yang kita tuliskan hal-hal baik dan bermanfaat bagi banyak orang maka kita tak boleh tanggung-tanggung mempelajarinya.

Syarat Memperoleh Ilmu

Sebagaimana perkataan Imam Syafii bahwa menuntut ilmu itu perlu memiliki bekal.

”Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara:  Kecerdasan, kemauan, semangat/kesungguhan, bekal cukup (berupa harta), bimbingan ustaz, dan waktu yang lama.”

Kecerdasan hanya akan sia-sia jika tak mau berusaha.  Sudah berusaha tapi tak sabar dan kehilangan semangat juga tak akan memperoleh ilmu yang berkah.  Ilmu itu hanya dapat diraih dengan sabar, butuh waktu lama di bawah bimbingan ustaz yang kredibel.  Selain itu, kita mesti punya bekal cukup.

Ada yang menyampaikan bahwa di era digital ini tak sulit mendapatkan ilmu.  Kita bisa googling, simak youtube atau baca buku.  Kemudahan itu memang tak dapat disangkal.  Sisi lemahnya, kita harus berjuang memahami, menafsiri, menerjemahkan kalimat demi kalimat dalam buku atau artikel secara mandiri.  Lain lagi dengan mengikuti kajian melalui youtube.  Asal kita tahu bahwa yang kita ikuti adalah ustaz yang amanah, kredibel, maka tak jadi soal menyimak penjelasan dan menggali ilmu dari media tersebut.

Biasanya, sang ustaz memiliki metode saat menyampaikan ilmu.  Mungkin bertahan bagian per bagian dalam beberapa video.  Selain itu, bisa juga kita ikuti secara live, berkomunikasi langsung.  Media online membuka ruang diskusi yang memungkinkan kita bertanya saat mengalami kesulitan pemahaman.  Namun begitu, jauh lebih direkomendasikan belajar secara langsung pada ustaz di sebuah majelis.

Demikian hasil kajian Jumat siang tadi.  Astaghfirullah.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.