Hijrah Masal Menuju Virtual

Diposting pada

Tech, Lingkaran, Teknologi, Abstrak

Kebijakan tetap di rumah semenjak meluasnya wabah telah membuat banyak orang kehilangan arah.  Menyadari kehidupan harus tetap berjalan, berbondong-bondonglah mereka bergerak dari cara-cara manual sebagaimana dilakukan sebelum pembatasan sosial menuju ranah virtual.  Gelombang besar hijrah virtual ini seyogyanya tak kehilangan makna sejatinya.

 

Makna Hijrah

Secara bahasa, hijrah merupakan kata kerja Bahasa Arab yang berarti keluar, berpindah, menjauhi, dan meninggalkan.  Sedang menurut istilah, bermakna keluar dan pindah dari wilayah kafir menuju wilayah islam.

Terminologi hijrah merujuk pada apa yang Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lakukan bersama para sahabat.  Mereka berpindah dari Makkah ke Madinah dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan agama akidah.  Selain itu, sejarah Islam mencatat kisah hijrah pada peristiwa Isro Mi’roj.

Mesti kita pahami bahwa ada hijrah fisik dan non fisik.  Hijrah fisik melibatkan ruang dan waktu.  Dimana orang yang hijrah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya yang lebih baik.  Sementara hijrah non fisik menunjukkan bahwa yang bisa berpindah bukan hanya badan saja, namun jiwa manusia.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, pada hakikatnya hijrah adalah bergerak menuju Allah dan Rasulnya.  Maka hijrah ini bersifat fardu ‘ain bagi setiap orang di setiap waktu.

Manifestasinya bisa bermacam-macam.  Bekerja, belajar, memasak, apapun praktik memberi arti hidup.  Jadi  pada intinya hijrah adalah upaya mengubah hidup menjadi lebih baik hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Hijrah Virtual

Semenjak pandemi virus korona telinga saya sering menangkap kata virtual.  Sering dikaitkan dengan aktivitas yang berkaitan dengan perangkat lunak, misalnya. Internet.

Jika kata hijrah dan virtual digabungkan akan membentuk sebuah istilah Hijrah Virtual.  Maksudnya peralihan cara-cara manual ke cara virtual.   Memang, dunia virtual bagi orang tertentu bukanlah hal baru.  Namun bagi kebanyakan orang, istilah ini sama sekali asing.

Beberapa kegiatan yang semula lebih banyak dilaksanakan secara manual, sejak pandemi covid-19 bersulih secara virtual.  Diantaranya, sekolah, bisnis, pameran seni, peragaan busana, kajian-kajian keagamaan.  Sebagian besar orang memilih belanja dari rumah saja secara daring ketimbang membuang waktu, merepotkan diri dengan banyak protokol kesehatan.

Dari yang awalnya tergagap-gagap, selama beberapa bulan berlangsung saya mengamati orang-orang mulai terbiasa.  Bahkan telah membentuk gaya hidup baru.  Meski sebenarnya, nurani mereka merindu hidup secara leluasa.   Boleh dibilang, kita telah mengorbankan banyak kebersamaan.

Agar apa yang kita lakukan tak hanya mengurangi penyebaran virus, namun juga tak menyia-nyiakan perjuangan mengendalikan diri, maka hijrah virtual mesti kita niatkan secara benar.  Dalam konteks kehidupan modern, hijrah jangan semata pindah dari perilaku lama ke perilaku baru yang modern.  Namun seyogyanya perubahan ini tetap dalam bingkai ketaatan pada Allah Aza wa jala.

 

Selalu Ada Plus Minus

 

Dunia virtual menjadi pilihan realistis untuk mengakomodir beberapa kebutuhan saat ini.  Melihat kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ini sungguh menarik untuk diikuti.  Dunia baru terbentang luas dengan kecanggihan teknologi yang serba cepat.  Bayangan kita melesat bahkan jauh ke masa depan.

Praktiknya tak semudah itu.  Diperlukan persiapan panjang dan matang, dari membuka mindset orang-orang, menyajikan konten yang tak hanya menarik namun informatif.  Butuh waktu agar terbiaasa.  Namun begitu, segampang kehidupan virtual, kita butuh real life atau kehidupan nyata.

Kemudahan itu antara lain, aktivitas virtual bisa dilakukan dimana saja.  Kita hanya butuh perangkat pendukung.  Meskipun terkadang waktu tetap terbatas oleh jadwal live, tapi bukan berarti kita tak dapat mengakses kembali materi atau konten yang disuguhkan.

Kita tahu sekolah telah sejak Maret 2020 ditutup.  Tak ada cara lain keculai sekolah dari rumah secara virtual.   Kita tinggal mendengarkan video atau hanya audio.  Kerjakan tugas lantas mengirimkannya dari satu tempat yang mungkin bisa dilakukan sambil duduk santai bahkan makan minum.

Sayangnya, tak semua memiliki pemahaman yang sama.  Tatap muka saja siswa tak langsung mengerti, apalagi berusaha belajar sendiri materi yang diunduh dari website atau media sosial.

Selain itu, jangakauan internet menjadi satu kendala.  Berkurangnya ikatan emosi yang dirasakan saat bertemu langsung menjadi hal lainnya yang tak luput dari perhatian kita.  Virtual memang memudahkan, namun manusia adalah makhluk sosial yang butuh bersosialisasi secara langsung.

 

Penutup

Ruang virtual adalah jawaban bagi mereka yang menolak kalah pada wabah.  Ini sebagai salah satu bentuk hijrah di era digital.  Hanya, seluas apapun pengembangannya, kita mesti melandasi hijrah ini pada hakikat hijrah itu sendiri.  Maka, virtual jangan membawa kita semakin jauh dari nilai-nilai islam.  Kecanggihan jangan sampai meninabobokan kita.  Sebaliknya lebih kreatif dan produktif dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.