Hay, Moms! Begini Cara Efektif Berkomunikasi Dengan Remaja Anda!

Diposting pada

Masa remaja umumnya diawali sekitar usia 12 tahun.  Fase ini merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa.  Terjadi banyak perubahan yang memengaruhi kepribadian mereka.  Jika orang tua tak menyiapkan diri menghadapi peralihan ini, komunikasi dengan remaja akan terganggu.

Untuk dapat berkomunikasi dengan remaja, orang tua minimal memiliki pengetahuan mengenai tumbuh kembang mereka.  Memang proses ini dimulai sejak lahir.  Namun ketika anak memasuki masa remaja, kita harus memberi perhatian lebih.

Tumbuh Kembang Remaja

Remaja tak bisa dikatakan anak-anak lagi namun ia belum matang untuk diakui sebagai dewasa.  Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang ditandai dengan perubahan fisiologis.  Diantaranya adalah:

  1. Sempurnyanya sitem reproduksi baik pada laki-laki maupun perempuan yang mengakibatkan terjadinya perubahan sistem hormonal yang berhubungan dengan reproduksi;
  2. Pada perempuan, perubahan hormon menimbulkan tumbuhnya payudara, bertambah halus suaranya, bertambah besar tulang pinggulnya,
  3. Pada remaja laki-laki tumbuh jenggot dan kumis, suara bertambah besar, serta terjadi perkembangan otot dan urat tubuh.

Perubahan fisiologis dapat diukur secara kuantitas.  Misal bertambahnya tinggi badan, masa tubuh, ukuran tubuh, dan lainnya.  Disamping itu, terjadi perubahan yang tak dapat dilihat secara kasat mata.  Perkembangan ini mengacu pada perubahan psikologis.

Remaja akan merasakan perubahan perasaan akibat perubahan hormonal.  Jadi baik fisik maupun psikis rupanya saling berpengaruh terhadap kondisi emosional remaja.  Begitu juga pemahaman remaja semakin bertambah.  Yang terakhir adalah perubahan interaksi sosial seperti menciptakan persahabatan, kebutuhan aktualisasi diri, memiliki pandangan romantic, serta mulai memperhatikan penampilan.

Penghambat Komunikasi Remaja

Sering merasa kesulitan berkomunikasi dengan remaja Anda?  Dinasihati pelan tidak mempan, memakai nada tegas dan tinggi malah makin runyam.  Tidak hanya itu, serentetan pembelaan mulai dibeberkan remaja kita ketika diberitahu bahwa ia melakukan kekeliruan.  Jika kita terpancing emosi, akan berlanjut adu argumen tanpa akhir tanpa solusi.

Menurut Muhammad Nabil Kazim dalam bukunya Mengelola Masa Puber, dijelaskan beberapa faktor berikut merupakan penghambat komunikasi dengan remaja adalah:

  1. Tidak memahami perbedaan faktor perkembangan pada masa kanak-kanak;
  2. Tidak memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja;
  3. Tidak ada kata sepakat dari kedua orang tua dalam kiat-kiat mendidik anak dan remaja;
  4. Tidak sanggup mengontrol emosinya di hadapan anak-anak jika sedang ada masalah keluarga;
  5. Tergesa-gesa dalam memberikan reaksi pada setiap kesalahan anak dan remaja;
  6. Lemahnya hubungan komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya pada masa kanak-kanak dan remaja.

 

Seni Berkomunikasi dengan Remaja

Berkomunikasi dengan siapapun pada prinsipnya kita mesti menerapkan asas partisipasi, cinta, mendengarkan, bersimpati, menanggapi harapan serta menggunakan teknik berbahasa yang baik.

Prinsip ini akan tampak pada sikap:

  1. Sopan dalam berinteraksi;

meskipun mereka anak kita bukan berarti kita bisa bersikap seenaknya.  Pandang mereka sebagai individu yang harus kita hormati keberadaannya;

 

  1. Membiarkan rahasia yang tersembunyi.

Izinkan mereka memiliki privasi.  Apa saja sih, rahasia remaja kita? Menurut Nancy Samalin, pendiri dan direktur Parent Guidance Workshops, New York menyampaikan 6 rahasia remaja antara lain:

  • Meskipun menolak nasihat orang tua, tetap ada nilai yang masuk dan mempengaruhi anak. Hanya saja, anak sering bersikap paling tahu dan menganggap enteng nasihat;
  • Remaja sebenarnya mendengarkan kata orang tua meskipun sering lupa. Maka disarankan gunakan bahasa yang menyenangkan, menggunakan contoh ketimbang menguliahi anak, atau melalui cara lain secara tak langsung untuk memberi tahu anak;
  • Batas yang ditetapkan orang tua sebenarnya dianggap bukti kasih sayang orang tua terhadap anak meski anak terlihat menyangkalnya;
  • Meski tampak menjauhi orang tua, berinteraksi lebih banyak dengan temannya dan memiliki dunia sendiri, sebenarnya anak Remaja perlu waktu kita sama banyak pada saat mereka kecil;
  • Remaja ingin diberi kepercayaan penuh;
  • Orang tua tak bisa memilihkan teman anak namun bisa membantu anak menolak tekanan kelompok;

 

  1. Memberi kebebasan berpendapat

Sediakan waktu, tenaga, perhatian, telinga serta hati yang lapang untuk mendengar pendapat, cerita, bahkan celoteh pra remaja tentang apa saja.  Jika merasa tak sepakat, jangan langsung mendebatnya.  Tanyakan alasannya.  Jika kita memotong pembicaraannya, anak akan merasa tidak dihargai serta mulai enggan bercerita lagi.  Akibatnya, mungkin kita tak paham apa yang mereka inginkan, apa yang dirasakan, serta apa yang mereka alami di luar kontrol kita;

 

  1. Ajak Dialog dan Diskusi

Pada masa ini, fungsi otak mereka berkembang pesat. Pemahaman dan nalar mereka semakin bagus.  Maka ajak mereka diskusi tentang apa saja.  Pada saat melarang, ketimbang berkata jangan, jelaskan alasan Anda melarang mereka melakukan sesuatu.

Atau tanyakan pada anak mengapa mereka melakukan sesuatu.  Jelaskan bahwa setiap perbuatan kita memiliki konsekuensi tertentu.  Selain akan memahami sebab akibat, ini melatih kecerdasan dan kecakapan dalam hidup.

Anak mungkin menolak dan tetap melakukan sesuatu yang kita larang.  Namun ketika ia mencoba dan mendapati akibat dari perbuatannya, anak akan semakin paham.

 

  1. Perhatikan penampilan mereka;

Pada proses pertumbuhan remaja, terjadi perubahan ukuran tubuh, keringat yang lebih banyak, bahkan mungkin jerawat yang mengganggu.  Menyediakan kebutuhan mereka merupakan bentuk komunikasi non verbal antara orang tua dan anak.

Namun begitu, biarkan anak memilih pakaian sesuai warna dan model favoritnya, dengan batasan menutup aurat.

 

  1. Jadilah panutan anak

Pra remaja adalah makhluk kritis.  Alih-alih menasihati banyak-banyak, berikan contoh.  Anak lebih menghargai perbuatan nyata ketimbang hanya kata-kata abstrak.  Perilaku baik yang kita lakukan dapat lebih diterima, ditiru tanpa merasa digurui.

 

  1. Pengukuhan kepribadian

Hargai setiap perbuatan baik.  Beri pujian asal tidak berlebihan.  Sifat dasar manusia, mereka senang dipuji.  Pujian membuat mereka terdorong melakukan hal lebih baik lagi.

 

Sumber

Ali, Muhammad dkk. 2018. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta.  PT Bumi Aksara.

Nabil Kazim, Muhammad. 2007.  Mengelola Msa Puber:  Kiat-kiat Berinteraksi dengan ABG. Surakarta. SMART Media.

Majalah Parent Guide Vol IV. No. 4. Januari 2006.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.