Diari Besar Bernama Media Sosial

Diposting pada

 

 

 

 

Percayakah Anda pada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa wanita punya mulut lebih dari satu?  Menggelikan sekali membayangkan beberapa mulut menempel di wajah wanita dan semuanya bicara!

Kepala wanita juga sibuk dengan banyak sekali pikiran.  Coba amati ketika seorang wanita menonton televisi, ada di sebuah acara pertemuan, menyimak berita, mengikuti kabar di beranda media sosial, berapa banyak mereka berkomentar?  Berapa kali mereka menanggapi sesuatu.  Tak cukup sekali dan cenderung diucapkan.  Memang demikianlah wanita, sulit mengerem bicara.  Mungkin ada satu dua yang sanggup diam.  Tapi saya tak yakin bahwa kepalanya bebas tak memikirkan apa yang ia lihat, hatinya lega dari apa yang ia amati.  Dan sayang sekali, apa yang terlanjur masuk kepala bukan hal mudah untuk dilupakan.  Bukan perkara yang mudah dihapus saja apalagi dibatalkan.

Wanita tidak hanya bicara secara lisan tetapi juga melalui tulisan.  Diari menjadi tempat curhat yang baik.  Hanya, zaman sekarang, diari besar itu bernama media sosial.  Dilansir dari situs berita harian, Kompas untuk segmen tekno, 12-3-2014 disebutkan bahwa  pengguna media sosial terbesar dari kalangan wanita.

Wanita memang memiliki kemampuan berkomunikasi verbal lebih baik ketimbang lelaki.  Wanita cenderung suka bicara.  Jadi cukup beralasan jika suatu saat, seorang suami, teman saya mengatakan bahwa rumahnya tak pernah sepi, kecuali istrinya tidur.

Sebagian orang mungkin menyangkal.  Namun tak dapat dipungkiri, hal itu telah terbukti secara ilmiah.  Bahkan dengan satu mulutnya, wanita sanggup bicara sepanjang hari.  Topik apapun bisa jadi obrolan seru.  Tema apapun bisa tercurah baik secara lisan maupun tertulis.

Ada banyak hal yang wanita coba bagikan.  Kelucuan anak, aktivitas sehari-hari, acara piknik, acara kumpul teman, atau rapat di sekolah anak.  Momen-momen penting tak pernah ketinggalan seperti wisuda, piknik, menjadi juara lomba, dan masih banyak lagi yang lainnya.  Ada pula yang gemar membagikan keahliannya, kisah sedih maupun bahagia, juga kisah hidup orang lain.  Media sosial adalah diari besar.

Mari bersama singgah di beranda media sosial kita.  Saya merangkum beberapa postingan yang menunjukkan bahwa wanita memang suka bicara.

Pada beranda facebooknya seorang teman menulis, ia merasa bersyukur bisa mengunjungi salah seorang tetangganya yang sakit.  Ia juga mengatakan, banyak temannya yang turut serta.  Selang beberapa jam, masih akun yang sama, ia mengatakan bahwa ia sudah mengantuk sekali sementara anaknya, kelas 1 SD, masih sibuk mengerjakan tugas sekolah.   Ketika anaknya sudah terlelap, saya lihat ia membuat status lagi: me time.

Itu hanya dua dari belasan postingannya dalam sehari.  Wanita bicara tentang anaknya yang sedang belajar sedang dirinya mengantuk bukan main.  Tentang kegiatan silaturahminya dengan komunitas wali siswa, tentang makan siang yang ia santap sehabis menjemput putranya dari sekolah dan masih banyak lagi lainnya.

Postingan tersebut menuai beberapa komentar dari teman-teman satu komunitasnya.  Teman yang sama yang tadi bertemu juga.  Ketika silaturahmi dilakukan, tak mungkin sepi dari obrolan.  Ada saja yang dibicarakan.  Selepas pulangpun, selalu ada foto yang bisa diupload dan diberi caption.  Wanita bicara lagi.  Diantara komentar, terdapat anggota komunitas yang tadi kumpul bersama.  Mereka bicara lagi di media digital tentang serunya pertemuan tadi.  Betapa kata-kata sering berulang, dibicarakan lagi, tertawa lagi, di dunia nyata dan di media masa.

Seorang teman yang berprofesi sebagai pengajar, lebih serius lagi.  Ia mengupload kegiatannya di sekolah.  Ketika mengajar, ketika menunggu siswanya mengerjakan test semester, juga saat menunggu siswanya menyalin materi.  Saat siswanya mengantuk di meja atau ketika anak didiknya presentasi di depan.

Menyampaikan kegiatan sehari-hari hanya bersifat informatif.  Pemilik akun hanya ingin memberi tahu banyak orang tentang aktifitasnya.  Biasanya, postingan macam ini mempunyai rating kecil.  Karena pada dasarnya setiap orang mencintai dirinya sendiri.  Keaktifan orang lain, kegiatan teman, mungkin tak terlalu menarik bagi kita.  Lebih kejam lagi jika dalam hati berkomentar, mau apa saja, bodo amat!

Tak ada yang melarang memberi informasi.  Namun jika setiap kegiatan diinformasikan, orang akan jenuh.  Apalagi jika yang kita informasikan berita bohong.  Alih-alih memberi manfaat, hal ini merugikan.

Begitu pula mengupload, atau memberi informasi kegiatan-kegiatan seperti mengaji, menyantuni anak yatim, perjalanan ibadah haji.  Niat kita mungkin agar menginspirasi.  Namun bisa jadi kita dianggap pamer.  Fatalnya lagi, dikhawatirkan merusak nilai ibadah kepada Allah SWT.

Lain halnya jika seseorang memiliki akun yang sengaja dibuat untuk berdakwah.  Menyampaikan satu ayat Al Quran, satu hadist, atau kalimat toyyibah lainnya, akan dibaca banyak orang.  Dan disinilah bagusnya media sebagai ladang ibadah.  Beramal jariyah

Informasi lain seperti imunisasi bagi balita, info sensus penduduk, info tentang kemacetan jalan, tempat wisata, sekolah, informasi produk-produk kecantikan atau informasi ringan lainnya.  Saat membutuhkan, informasi ini dicari banyak orang.  Kita bahagia karena merasa berguna.

Ada beberapa status yang mendulang tanggapan dan komentar.  Diantaranya adalah status emosional maupun status kontroversial.  Orang yang marah-marah di story WA, di beranda facebook biasanya menuai banyak like, banyak tanggapan, banyak komentar.  Begitu pula status kontroversial.

Saya masih ingat ketika seorang teman bicara di media sosial tentang kemarahannya pada seseorang.  Dia menuliskan:

“Heran loh, punya tetangga macam dia.”

Teman-teman di akun media sosial tersebut buru-buru bertanya.

“Ada apa?”, “Kenapa?”, “Memang tetangganya kenapa?” dan lain sebagainya.

Jika hal-hal berbau negatif, hujatan, kemarahan lebih menarik banyak orang, artinya status seperti ini lebih diminati.  Orang jadi ingin tahu kenapa?  Ada yang sekedar bertanya, ada yang benar-benar ingin tahu entah untuk tujuan apa, ada yang bersimpati memberi solusi.  Ujung-ujungnya, masalah yang diposting tersebar dengan cepat.  Dari akun ke akun.  Dari mulut ke mulut.  Viral itu gampang.  Akibatnya, kita repot sendiri, bukan?

Tanpa sengaja kita menyebarkan keburukan orang lain.  Mungkin kita tak menyadari bahwa apa yang kita lakukan termasuk ghibah.  Dan kita mendorong orang lain melakukan hal serupa.  Keburukan yang berlipat karena tergelincirnya lisan dan tulisan.

Ketika ditanya mengapa seseorang melakukan itu, mungkin mereka akan menjawab, ‘habis, kesel!  Sudah diperingati baik-baik nggak mempan.  Aku sudah cerita sama suami, tapi nggak ditanggapi’.  Nah!

Banyak orang mengalami masalah, namun tidak mendapatkan tempat semestinya untuk mengungkapkan permasalahannya.  Dalam hal ini media sosial tak pernah menolak untuk dicurhati.  Saat orang marah dan tidak mempunyai kesempatan untuk meluapkan kemarahannya, media sosial jadi jalan pintas.  Media menerima, tak marah balik, bahkan memberi feedback berupa simpati orang lain.

Sayangnya, tidak semua orang punya niat baik.  Tulisan di kolom komentar bisa saja memberi emotikon sedih, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa hatinya juga bersedih.  Bagaimana jika malah bersorak?

Begitu pula saat kita curhat pada orang lain.  Teman-teman yang kita percaya, kita cenderung menceritakan apapun, bahkan rahasia.  Mungkin teman kita berkata bahwa dia sedih.  Menggerakkan lidah memang ringan.  Tapi siapa yang akan tahu isi hati mereka saat  memberi simpati.  Bisa jadi terselip rasa iri sebagai sesama wanita. Itu masih lebih baik ketimbang curhat dengan seorang yang bukan mahram.

Wanita bisa menghabiskan berjam-jam untuk mengurai pikiran, meluapkan perasaan, mendedahkan masalah untuk mendapat pemecahannya.  Jika yang diajak diskusi bukan mahram, saya khawatir hal-hal buruk yang akan terjadi seperti, pria yang diajak bicara akan bersimpati, dan terjalin kedekatan. Yang pada mulanya hanya melalui media sosial, tidak menutup kemungkinan hubungan berlanjut ke dunia nyata.  Berlama-lama chatting saja sudah mengganggu, apalagi sampai sering bertemu.  Ini awal munculnya fitnah.

Kita semua bisa memaklumi bahwa wanita memang gemar bicara.  Namun menjaga lisan dan tulisan lebih baik.  Pertimbangkan mana yang boleh kita sampaikan pada dunia, mana yang lebih baik disimpan saja.  Karena segala sesuatu akan kita pertanggung jawabkan.  Seluruh sikap kita, baik lisan dan tulisan.

Memang, bukan hanya wanita yang melakukan ini.  Hanya saja, karena wanita cenderung mengedepankan sisi emosional ketimbang logika, maka saya merasa perlu mendiskusikan ini dengan Anda.  Karena istri shalihah adalah wanita yang menjaga lisannya dari mengumbar kata-kata kotor, atau rahasia rumah tangga.

Karena wanita punya lebih banyak kosakata, mungkin juga, setiap wanita adalah pendongeng hebat.  Lihat saja di rumah, pendongeng bagi putra-putrinya, biasanya ibu.  Ini menjadi sarana edukasi bagi anak-anak.

Atau saat seorang ibu cerewet pada anaknya.  Mereka sebenarnya bukan marah.  Tapi banyak hal bisa dipikirkan bersmaan.  Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan, seorang ibu langsung bicara.  Mengomentari anaknya yang sudah siang belum mandi.  Menunjukkan handuk yang belum dijemur.  Ribut ketika PR belum dikerjakan sementara anak-anak masih asyik nonton televisi.  Marah ketika belum sholat tapi anak masih sibuk dengan ponsel.  Anakku berkata, bukan ibu kalau tidak cerewet.  Tak mengapa, cerewet demi kebaikan.  Ini salah satu cara terbaik memanfaatkan kemampuan verbal yang dimiliki wanita.

Karena dunia digital jauh lebih luas dari ruang gerak kita dan jangkauan panjangan kita secara fisik, kita dapat memanfaatkannya untuk menyebar kebaikan.  Peraturanya:  Tulis sesuatu yang bermanfaat.  Tips mendidik anak, info perkembangan anak, info lainnya, atau sekadar hiburan.  Bukankah berfaedah membuat orang lain tertawa.  Yang penting

No sara.  Dunia maya mungkin lebih sensitive ketimbang kenyataan.  Kita boleh menulis apa saja, tapi pemahaman orang lain tak selalu sama.  Kadang menulis sendiri, dikira menyinggung orang lain bukan?  Namun dengan alasan ini, jangan sengaja juga mengusik orang lain.

Bicara secukupnya saja.  Di sini mungkin kita bisa menerapkan makna puasa yang sebenarnya.  Menahan untuk tidak larut dalam arus digital.  Bersabar mencermati dan memilah mana yang benar mana yang salah sehingga tidak asal membagi.  Puasa digital yang akan kita kulik nanti akan mendukung kita hidup lebih baik lagi.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.