Bulan Nararya, Memanusiakan Manusia

Diposting pada

Resensi Sebuah Novel

Judul Novel        :  Bulan Nararya

Penulis                 :  Sinta Yudisia

Penerbit              :  Indiva Media Kreasi

Tebal                     :  256 halaman

Dalam Bulan Nararya, penulis tengah memberi makna hidup yang sesungguhnya.  Mamanusiakan manusia.  Manusia adalah makhluk mulia meski bukan sempurna.  Segala kelebihan yang dimiliki selalu bersanding dengan kekurangan diri yang tak bisa ditolak.  Namun begitu, manusia punya sifat dasar, ingin dihormati dan diperlakukan dengan penuh cinta.

Secara apik, novel ini mengurai bagaimana tokoh utama yang seorang terapis melakukan pendekatan-pendekatan pada kliennya para pengidap schizophrenia.  Dedikasi pada pekerjaan, ketulusan hati dan cinta atas dasar kemanusiaan membuat kliennya berubah secara signifikan. 

Novel yang mengambil setting di Mental Health Center, Surabaya ini sudah tentu didasarkan pada riset  matang.  Sehingga kuat dari segi isi dan penceritaan.  Satu hal yang menarik, sekalipun punya kemampuan lebih, keahlian dalam melakukan terapi,  tokoh utama dalam novel ini bukanlah dewa.  Sebagai manusia biasa, ia tak luput dari banyaknya himpitan permasalahan yang menimpa.  Dari konflik keluarga, rekan kerja, hingga terlibat permusuhan dengan sahabat.

Setelah mengaduk-aduk perasaan pembaca dengan dramatisasi kisah, penulis dengan arif menawarkan solusi jitu.  Tak perlu berkecil hati dengan banyaknya cobaan hidup.  Bersembunyi dari masalah hanya akan menjadi bumerang.  Penerimaan dan pemaafan itulah yang membuat manusia kuat menghadapi bermacam ujian dalam kehidupan.  Dan satu hal, betapa pentingnya sebuah keluarga.  Maka hubungan baik dengan keluarga, menjalin cinta dengan sesama menjadi kunci jawabnya.

Selain hal-hal di atas, masih banyak kelebihan dalam novel ini.  Tokoh-tokoh digambarkan dengan karakter kuat sehingga seolah mereka nyata.  Alur maju dan menyuguhkan kejutan-kejutan yang sulit ditebak membuat pembaca merasa penasaran.  Pilihan bahasa tak biasa, membuat pembaca betah berlama-lama menuntaskan Bulan Nararya.

Tak bijak rasanya jiwa mengulik sebuah karya dari satu sisi saja.  Memandang dari sudut lain mungkin akan menambah pengetahuan pembaca.  Mungkin ini bukan kekurangan, hanya kelebihan yang kadang belum tentu dimengerti setiap pembaca.  Dalam novel ini bertebaran istilah-istilah asing dan istilah-istilah sulit.  Sekalipun setiap kata sulit diiringi dengan artinya, membaca novel ini seolah tengah membaca artikel ilmiah.  Hal ini diperkuat dengan beberapa penjelasan tentang masalah kejiwaan dalam paragraf-paragraf panjang. 

Secara keseluruhan novel yang menduduki juara III Kategori Novel dalam Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia ini saya rekomendasikan untuk memupuk kekayaan jiwa, kebijakan hati, referensi bagi pemaknaan kehidupan.  Sebagaimana judulnya, Bulan Nararya, Bulan melambangkan kelembutan.  Sedang Nararya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti mulia.  Manusia adalah makhluk mulia yang pantas kita perlakukan dengan penuh kelembutan.  Selamat membaca!

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.