Anak-anak Hujan

Diposting pada

Parangtritis, 10 Februari 2018

 

Senja turun dengan murung.  Langit merah saga perlahan berubah mendung.   Arakan mega-mega berurai menjadi gerimis nan manis.  Kian deras dan deras.  Lekas-lekas Angkas menarik lenganku.   Kami berlarian menjauhi ombak yang berkejaran memecah pantai.

“Kita duduk di sini,” ujar Angkas saat tiba di sebuah gubuk kecil.  Ia mengulurkan sapu tangan untuk menghapus jejak hujan di dahiku.  Lalu dari bagian depan ranselnya, sebuah botol minum ia sodorkan pula.

Alih-alih terharu, aku meringis.  “Kas, yang kamu lakukan mengalahkan perhatian seorang ibu,” bisikku.

Angkasa tergelak.  Mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di Jogja ini teman masa kecilku.  Dulu kami menghabiskan enam tahun bersama di suatu sekolah dasar di kaki Gunung Sumbing.  Setelah lulus, aku pindah ke Bantul tinggal bersama keluarga Pak De Darto.  Sejak itu, kami tak pernah bertukar kabar.

Enam bulan lalu kami bertemu secara tidak sengaja ketika ia melakukan observasi di klinik tempatku bekerja.  Sejak itu, nyaris tiada hari tanpa mendengar suaranya.  Kami berbincang di darat dalam janji temu di sebuah kedai.  Kami ngobrol di udara melalui sambungan gawai di sela-sela kesibukan.  Kami berbagi cerita di laut, seperti yang kami lakukan barusan sebelum akhirnya hujan membuat kami menepi.

Bagiku, lelaki tinggi kurus itu adalah seniman kata-kata.  Ia mewarnai obrolan kami dengan sendau gurau tiada habisnya.  Ia memahat senyum di bibirnya, juga bibirku sehingga selama apapun kami menghabiskan waktu, tak sedikitpun kami berniat menyudahi.  Aku kerap merindui ucapannya yang mampu membuatku seolah-olah tengah mendengarkan petikan gitarnya Dewa Bujana.  Spontan dan mengejutkan.

“Bukan.  Yang kulakukan bukan perhatian seorang ibu.  Rainy Astagiri, nantinya, kaulah yang akan menjadi ibu…” kata-katanya melayang.  “…dari anak-anakku,” lanjutnya di sela deru ombak Prangtritis.  Kata-kata seperti inilah yang kusebut sebagai petikan gitar.  Aku terkesiap.

Tubuhku terasa dingin.  Dengan bibir yang bergetar kugumamkan kata-kata itu.  Ibu.  Sekonyong-konyong ingatanku terseret pada peristiwa 22 Desember beberapa tahun silam.  Hari itu aku masih berseragam merah putih dengan satu kuncir kuda tanpa pita bertengger di atas kepala.  Hujan mengguyur saat memasuki jam pelajaran terakhir di sekolahku.

Sebagian bersorak bahagia atas kesempatan pulang sambil main hujan.  Sebagian lain menggerutu karena air hujan akan membuat mereka flu.  Aku tak memberi reaksi apapun.  Sebenarnya, telah lama hujan dan aku tak saling bertegur sapa.  Aku tak punya kenangan khusus tentangnya.  Ada hujan atau tidak, bagiku tak ada bedanya.

Bu Dewi, guru Bahasa Indonesiaku memasuki kelas dengan senyum hangat meski kulihat, tubuhnya kedinginan.  Setelah mengucapkan salam, wanita berkerudung itu menyampaikan sepatah dua patah kata.  Menurutnya, peringatan hari ibu membuat hari ini lebih istimewa.

Bagiku semua hari sama saja.  Sejak memasuki sekolah dasar, semua hari adalah hari tanpa ibu.  Jadi, siang ini aku lebih suka mendengar denting hujan yang menyentuh genting ketimbang mendengar pidato berulang tentang betapa berharganya seorang ibu.

Di akhir pidatonya, Bu Dewi meminta kami berkisah di depan kelas.  Mendefinisikan arti ibu menurut versi masing-masing.  Teman-teman butuh waktu sekurang-kurangnya tujuh menit untuk mengurai daftar panjang kebaikan ibu bagi mereka.

Lalu tiba giliranku.  Aku memandang teman-temanku sekelas dengan tatapan tajam.  Akan kubuat pengecualian.  Mematahkan teori indah mereka tentang ibu.  Bu Dewi yang hebat itu membiarkanku mencoba bicara di depan setelah melihat betapa pendiamnya aku.

“Bagiku, ibu adalah seseorang yang dari rahimnya melahirkan seorang putri.  Ia menyusui dan meninabobokan putrinya dengan suara paling merdu yang pernah kudengar, lalu meninggalkanku tanpa kabar!”

Aku berhenti di menit pertama.  Sepertinya semua dahi berkerut dan dengan teman-temanku memasang pandangan tak percaya.  Begitu pula Bu Dewi yang hebat itu.  Kupikir ia ingin sekali bertanya kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutku.

Aku tersenyum ketika guruku mendekat dan mengusap kepalaku.  “Tak apa..” suara lembutnya benar-benar tertelan hujan.  “Bagaimanapun, ibu telah dengan susah payah mengandung kita selama sembilan bulan lalu melahirkan kita dengan nyawa sebagai taruhan.”  Gelegar petir kudengar setelahnya.  Seisi kelas berpaling ke jendela.

Aku tahu, Bu Dewi ingin aku berterimakasih atas jasa ibu dengan mengatakan itu.  Yang tak kumengerti adalah, bagaimana mungkin setelah melewati perjuangan yang teramat berat, dengan nyawa sebagai taruhan, seorang ibu sanggup meninggalkan putri kecilnya di tahun ke lima kelahirannya?

Bu Dewi memang tak mengerti sejarah kelamku.  Namun sikapnya hari ini, juga sikap teman-temanku adalah ironi yang membuat langit siang ini semakin murung.  Guruku berkata lagi dengan bijak.  “Tanpa ibu, kita tiada,” desisnya lalu aku merasakan hangat peluknya dalam tubuhku.

“Kita juga bukan apa-apa tanpa kehadiran seorang ayah,” bantahku.

Bu Dewi mengangguk setuju.  Atas dasar penghargaan terhadap nilai-nilai keadilan, maka ia meminta anak-anak untuk bercerita apapun tentang ayah kami semua.

Teman-teman, secara bergiliran mengutarakan kebanggaan dan rasa sayang mereka pada sosok ayah.  Mengingat kesanku tentang ibu cukup mengerikan bagi mereka, ada sedikit ketegangan ketika tiba giliranku berkisah tentang ayah.

Aku berdiri dengan mantap lalu mulai bicara.

“Ayah adalah seorang yang mengaku sebagai lelaki perkasa namun ia menangis sesenggukan ditengah malam buta.  Setelah menenggak tiga botol minuman beralkohol, tanpa sadar ia akan terlelap di sembarang tempat.  Keesokan harinya, dengan kepala berputar ia bangun dan mengatakan segalanya baik-baik saja.  Ayah adalah seorang lelaki yang setiap pagi meyakinkan putrinya untuk tidak mengkhawatirkan apapun sambil menyajikan omelet gosong.  Ia bilang, protein itu akan menopang hidupku seharian.  Tak ada dongeng tentang peri pun kisah-kisah dari berbagai negeri pada malam hari.  Tanpa berkata, ia hanya akan mengisahkan betapa ragam cita rasa negeri kita begitu beraneka.  Awalnya aku juga tak mengerti, sama seperti kalian.  Namun ketika setiap malam secara berganti-ganti ia menyuguhkan semangkuk mie instan aneka rasa, barulah aku percaya.  Ada mie kuah soto, mie rasa kari, mie cake strawberry, mie rasa soto tengkleng, mie goreng rasa rendang, mie goreng rasa baso dan masih banyak yang lainnya.  Tak kurang dari tujuh bungkus mie rebus kami konsumsi dalam sepekan.”

Teman sekelasku melongo mendengar cerita panjangku.  Aku tersenyum bangga karena kali ini sekitar lima menit waktu kuhabiskan.  Itu menunjukkan betapa aku mengenal ayahku dengan baik.  Senyumku berubah ketika menoleh ke tempat Bu Dewi berdiri.  Ia mendekat dengan tatapan mata semerah senja.  Bukan keindahan petang yang kusaksikan namun getar bibirnya jelas sekali menunjukkan kemarahan.

“Tidak bisakah kau berterimakasih atas kerja keras ayahmu yang telah menyekolahkanmu tanpa mengatakan hal-hal buruk di depan kelas?”  Suara Bu Dewi terdengar seperti desis ular berbisa di bawah reruntuhan kehancuran gedung-gedung di Palestina.  “Kamu!” tunjuknya dengan satu jari, “telah mempermalukan diri, Rainy!”

Aku terdiam sama seperti ketika aku bertanya pada ayah, kemana ibuku pergi.   Ucapan Bu Dewi yang penuh emosi terasa seperti mie rebus yang menjalar di lambungku setiap hari.  Butuh waktu cukup lama memahaminya.  Bahkan hingga belasan tahun lamanya saat aku bekerja di klinik ini, aku tak kunjung mengerti.

Aku tidak sedang mempermalukan diri, bukan pula aku mengatakan hal buruk, aku hanya menceritakan yang sesungguhnya.  Adapun rasa terimakasih, telah kutunjukkan dengan cara apapun yang kubisa dengan mendampingi lelaki pemabuk yang bernama ayah.  Aku mencintainya.  Begitu pula seorang wanita yang bagi orang-orang adalah ibu, aku mencintainya dalam hatiku.  Tak peduli dimana dia berada.  Jika semua orang tak dapat melihat cinta itu di mataku, berarti kemarahanku jauh lebih tebal menutupinya.

Masih jelas pandangan Bu Dewi kala itu.  Kilat matanya mengatakan aku Malin Kundang masa kini.  Aku memikirkannya sepanjang jalan pulang di bawah hujan lebat.  Di saat kepalaku sibuk oleh pikiran itu, temanku melintas sambil berkata aku anak durhaka, karena itulah ibu meninggalkanku.

Aku tak tahan untuk tidak mendaratkan pukulan di kepalanya.  Aku ingin membuat mereka melihatku lebih dalam.  Namun itu tak berhasil.  Setelah terlibat pertikaian sengit, aku pulang dengan hidung berdarah.  Aku berlari setelah mendorongnya ke selokan. Dan anak itu adalah Angkasa!

Di bawah langit hujan petang ini, kenangan pahit itu tiba-tiba mencuat kembali.  Kututup mataku rapat-rapat.

“Rainy, mari pulang.  Hari telah petang,” ajak Angkas.   Aku membuka kelopak mataku perlahan.  Kurasakan tatapan mata Angkas  lebih intens.  “Rainy, jadilah ibu bagi anak-anakku.”  Ia mengulang kata-katanya dengan tegas.

“Jangan bergurau!”  Aku berusaha keras menahan tawa.  “Kau mau kuceburkan ke selokan lagi, ha??”

Angkas tersenyum.  Dari dalam saku celananya dikeluarkannya sebuah cincin.  Gaya bercandanya benar-benar kelewatan.  Aku menarik diri, sehasta menjauhinya.

“Tak ada lelaki yang bercanda seserius ini, Ra.”

“Tapi, Kas… “  Aku menggeleng.  “Aku tak akan bisa menjadi ibu yang baik.  Aku tak pernah belajar menjadi ibu yang baik.  Aku tidak bisa karena aku benci ibuku.”

Sulit dibedakan mana hujan mana air mataku.   Aku berterimakasih pada Tuhan yang telah menurunkan hujan.  Karenanya, derai tangisku tak dominan.  Terlebih, debur ombak pantai parangtritis dan petir yang berkali-kali menggelegar di langit Februari sambung menyambung meningkahi perasaanku yang haru biru.

“Ra, lihatlah laut di depanmu.  Kau persis seperti itu.  Bergejolak, bergelombang, beriak.  Namun dalam jiwamu terdalam, tersimpan banyak keindahan.  Kau tahu hujan-hujun itu.  Mereka bagai anak-anak yang membelaimu.   Kepada laut, kepadamu, mereka bermuara.”

“Ibu dan anak-anak hujan?” desisku dalam isak.

“Dan aku akan menjadi langit yang menangkupimu.  Kita bertemu di batas cakrawala.  Kau akan menguapkan segenap hidupmu ke angkasa, menjadi awan, dan akan kuturunkan kembali hujan untukmu.”  Bagaimana mungkin lelaki yang telah kudorong ke selokan mampu mengucapkan kata-kata itu?  Ia bukan hanya seniman kata-kata.  Angkasa adalah calon dokter.  Ia akan menyembuhkan banyak orang.  Mungkin, ia juga akan menyembuhkan luka yang kubawa sejak dulu kala.

Hujan seperti tak mau berhenti.  Karena petang beranjak malam, kami nekad pulang.  Tanpa payung tanpa pelindung apapun.  Aku membiarkan anak-anak hujan membelaiku.   Namun apakah aku tengah memasuki gerbang kegelapan?   Menjadi ibu?  Akankah belaian hujan mengubah definisiku tentang ibu?

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.