Amplop Coklat dan Gelegak Kali Code

Diposting pada

 

November 2010.  Di senja yang terus mengirimkan dingin kaku ke dadaku, Kali Code menggelegak.  Membawa material merapi, potongan kayu, serpihan batu, dan sesampahan lainnya.  Memaksa setiap jiwa yang meraup hidup di tepiannya untuk menjauh.

Sesungguhnya, aku dengan sukarela mengosongkan rumahku.  Sayangnya, bapak tak mau dipaksa-paksa.  Bahkan bujukan lembut sekalipun.  Upaya para tetangga sia-sia belaka.

Untuk kelima kalinya, Pak Lurah menyambangi rumah kecil kami.  Meski hanya berpagar bambu, kami berpantang menyebutnya gubug.  Jadi aku menganggap itu sebuah rumah kecil.  Tempat dua orang lelaki kerdil bernaung di bawahnya.

Peringatan orang yang paling disegani di desa kami berbalas diam.  Keyakinan bapak tak tergoyahkan.  Membuat wajah Pak Lurah merah padam.

“Ini yang terakhir, Ranu!  Segera kosongkan istanamu kalau tak ingin semuanya hilang!  Bahkan nyawa kalian!”  Teriakannya seperti tiupan sangkakala.  Aku bergidik karenanya.

Kini, atau segalanya tergilas lahar dingin merapi.   Aku sependapat.  Tapi bapak tidak.  Bagaimana aku meninggalkannya seorang diri di sini?

Aku bergerak secepat kilat di dalam rumah kecil kami, membenahi segala yang kuanggap berharga.  Sementara, bapak masih terpekur layu di atas ambennya.

“Pak, tak ada waktu lagi!”  Aku tak tahu apa yang bersemayam di kepala lelaki itu sementara riak Kali Code telah berdebur di pagar.  “Nunggu apa lagi, Pak?”

Kupikir tak ada gunanya menyelamatkan barang-barang sedang bapakku sendiri menyerahkan diri pada maut.  Aku berhenti dan menariknya dengan kuat.  Lengan kokohnya menepisku.

“Rumah ini.  Aku tak bisa meninggalkannya!”

Sedetik aku ternganga.  Apakah lelaki tangguh yang jarang tersenyum itu tengah bicara tentang kenangan?  Waktu melesat demikian kejam.  Ia tak peduli apakah aku tengah tertatih.  Apakah bapak tengah duduk merintih.

Merapi telah memuntahkan laharnya.  Semua orang di Bantaran Kali Code telah mengungsi kemanapun dapat menampung raga mereka.

“Kau lahir di sini.”  Bapak mulai berdalih.

“Sama sekali tak penting membicarakan hal itu sekarang.  Melanjutkan hidup lebih berharga ketimbang mengenang kelahiran.”

Hal konyol apa yang menguasai lelaki itu?  Ia coba menyokong delapan belas tahun kehidupanku.  Mengokohkan jiwa dan pandanganku.  Melindungi dari hembus angin kali yang menerpa.  Membuatku tegak berdiri di gubuk kecil yang nyaris roboh.  Tempat kami berdua senantiasa bercengkerama.  Bergeming dari amukan badai dan banyak cobaan.  Tapi hari ini, siapa menyangka ia berani pertaruhkan hidupnya hanya untuk sebuah kenangan.  Tidak masuk akal.  Bukan masanya menghargai hal kecil ini.  Rumah, apalah artinya saat bencana hendak menelan kita mentah-mentah.

Aku membujuknya sekali lagi.  Ketika ia teguh pada posisinya, aku berdiri.  Memandang sekeliling.  Kulihat lemari di kamar ini masih rapat tertutup.  Aku bermaksud mengambil sesuatu yang mungkin bisa dibawa.  Namun sekuat tenaga Bapak menyingkirkanku.  Aku nekad membuka lemari kayu jati di samping ranjang.  Menarik keluar baju-baju dengan lengan kanan karena lengan kiriku dalam pegangan Bapak.

“Berhenti aku bilang!” teriaknya.  Jarang sekali ia membuang suaranya senyaring itu.

Pada saat bersamaan, tangan kananku meraih setumpukan jaket.  Lipatannya berhamburan.  Sesuatu menyembul dari dalamnya.  Amplop coklat usang melayang dan terjatuh.  Lalu kemarahan seolah berpindah dari merapi ke jiwa Bapak.

“Jangan sentuh!”  Benda yang tak pernah kulihat itu, menyentakku begitu kuatnya.  Bapak hidupi melebihi nyawanya sendiri.  Melindungi melebihi anaknya sendiri.

Sambil berjongkok dipungutnya amplop itu dengan hati-hati.  Lantas menunduk begitu dalam dan tergugu lama di sana.  Inilah kali pertama lelaki tangguh itu tampak begitu rapuh.

Menyaksikan air mata, lidahku kelu tak temukan kata-kata.  Bertumpu pada kedua lututku, kupeluk punggung laki-laki yang bertahun-tahun mendampingiku.

“Bapak, kita keluar sekarang.”  Aku membimbingnya berjalan ketika air matanya menyusut.

Aku ingin ia mendebat, memarahiku atau semacamnya.  Kebisuan membuatku kian tersiksa.  Kurasakan tangannya gemetar hanya karena amplop seringan itu.  Ketika kami melangkah melewati pintu, ia ambruk.

“Pak…!” Tubuhku tertarik bobot tubuh bapak.  Duduk dengan lutut terlipat memangkunya.  Terhuyung aku berusaha berdiri membopong lelaki tangguh yang menggendongku tiap subuh.  Ke Kali Code.  Sekedar berbasuh atau bahkan mandi di sana.  Sejak usiaku dua tahun.  Sendirian.

“Ranu…,” desahnya memanggilku.  Suaranya beradu debur arus kali.  Ia menggeleng menghentikan langkah beratku.  Dalam desak nafas yang keluar masuk tersendat-sendat, ia menyuruk-nyurukkan amplop yang sedari tadi dipegangnya erat.  Tatapannya tajam menembus jantungku.  “Ranuu Gatra….”  Ia memanggilku sekali lagi sebelum pandangannya entah kemana.

“Pak!!!” pekikku.  “Bapak!” kuulang sekali lagi.  Suaraku bergetar.  Lututku lemas.  Kuraba nadinya.  Dua jariku tak merasakan detaknya.  Tak ada lagi!  Tuhan!

Bendungan yang kupertahankan menampung segala kepedihan, kemiskinan, kesendirian, kelemahan, dan lain sebagainya, kini jebol.  Air mataku memancar ke seluruh Yogyakarta.

Di lantai plester dingin dan hampa, aku luruh.   Memeluk jasad kaku di pangkuanku.  Telingaku masih berdenging oleh teriakannya.  Lidahku tak lagi kelu karena tubuhku yang sekarang membatu.  Lelaki tangguh yang memberiku amplop coklat usang di akhir hayatnya.  Tak satu kalimatpun terucap dari bibirnya.  Selain namaku mengiringi kepergianya.

Hujan belum lagi berhenti.  Kali Code meluap, membuat keretakkan pada kokohnya Jembatan Gondolayu.  Mungkin juga rumah kecilku sesaat lagi.  Aku tak peduli.  Bangunan keyakinan diriku, perlahan namun pasti hancur berkeping pasir.

Kubuka dengan tangan gemetera amplop coklat itu.  Di sana, tersimpan surat nikah, lipatan kertas berisi kata pamit, lalu foto usang.  Keluarga kecil, ayah ibu dan anak kukira.  Di belakang foto itu tertulis, Kinasih, Ranu Gatra, dan nama Bapak.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.