A Moment to Rose_Part 70: Temukan Cahaya di Gelap Cangkir Kopimu

Diposting pada

Semua rombongan telah tiba kembali di Banjarnegara menjelang tengah hari.  Rose ingin sekali membenamkan dirinya dalam selimut lembut.  Tapi dimana?  IPTU Yudha mengatakan dirinya benar-benar tak aman jika sendirian.  Ia berada di bawah perlindungan polisi sebagai saksi.  Maka, hidupnya masih dalam pengawasan.

Masih adakah kebenaran yang tersembunyi setelah semua misteri menemukan jawabannya?

“Rose!” panggil Rendra mengejutkan Rose. “Mau kopi?” lanjutnya.  Ia menarik tangan Rose tanpa persetujuan gadis itu.  Rupanya keceriaan Rendra telah kembali.  Ia bukan lagi lelaki yang melankolis.  Sebaliknya, dengan id card tergantung di lehernya, ia tampak begitu berharga lebih dari biasanya.

Rose menuruti Rendra berjalan dalam bimbingannya menuju sebuah kedai kopi di sebelah selatan kantor polres Banjarnegara. ‘Temukan setitik cahaya dalam gelap cangkir kopimu’  Rose membaca sebuah tulisan dari cat putih pada papan kayu tergantung di depan kedai itu.

Ia tersenyum lalu mencari meja dengan dua kursi kayu di dekat jendela yang menghubungkan kedai dengan sebuah taman kecil berisi pot-pot mawar yang cantik.

Rendra segera menyesap kopi hitamnya setelah pramusaji menyajikannya.

“Kau indah seperti mawar-mawar itu,”  kata Rendra melihat mawar-mawar yang tumbuh mempesona dari balik jendela tanpa kaca.  Butuh waktu teramat lama dan kekuatan dari secangkir kopi untuk mengatakan kata-kata sederhana itu.

Mata Rose berbinar.  Sungguh seindah mawar.  Rendra tak mengerti bagaimana Tuhan menciptakan gadis seayu ini dari setetes air seorang lelaki yang sebentar lagi menghabiskan hidupnya di balik jeruji besi.

Darah wanita Tionghoa itu pasti yang mengalir di seluruh urat nadi Rose.  Lalu Prasetianto mengambil bagian mana dari Rose?  Matanya.  Ya, memang tak bisa dibantah sekalipun Rose menolaknya.  Mata indah yang gagah memandang dunia itu diwariskan dari ayah Rose.

Dulu, mungkin Kinasih dan Pras saling mencintai.  Sesuatu dapat membuat hidup seseorang berubah.  Sungguh.  Seperti secangkir kopi yang kembali disesap secara perlahan oleh Rendra dan Rose.

Rose memandang Rendra dan mawar-mawar di luar secara bergantian.

“Ia berduri.”

Gelombang suara itu terasa seperti duri yang menusuk telinga Rendra.  “Gadis mawar selalu menyimpan misteri.  Orang-orang mungkin akan abai pada duri di batangnya ketika mencium harum mawar yang menebar cinta.”  Rendra berhenti.  “Namun, Rose.  Kau wanita tangguh yang harus memiliki itu semua untuk melindungi dirimu sendiri.  Menjaga agar cinta yang kau tebarkan, tak berbalik membius dirimu sendiri.” Perasaan Rendra begitu membuncah ketika mengucapkan kata-kata itu.

Rose memiringkan kepalanya mencoba memahami kata-kata filosofis itu.  Sebelum semua tercerna dengan baik, Rendra mengalihkan pembicaraan.  “Rose, aku sangat berterimakasih atas segala bantuanmu.  Kau telah bersusah payah untuk semua ini,”  Rendra menatap Rose serius.

“Itu sudah berkali-kali kau ucapkan.  Adakah hal lain yang belum kau sampaikan?  Sebelum aku kembali ke Jakarta…” ucap Rose agak kesal.

“Emm… Rose.  Kumohon tinggalah sebentar, aku akan mengantarmu saat kau dinyatakan boleh pulang.”

Rose tersenyum.  Pengadilan yang memintanya tinggal.  “Pernyataan itu, kapan aku bisa mendapatkannya?”

“Setelah kuperkenalkan pada orang tuaku…”

“Aku telah berbincang akrab dengan mereka di rumah sakit, waktu itu.  Kau bilang aku belum mengenal mereka?”

“Karena kau wanita terhormat, ingin kukenalkan dengan cara terbaik yang kubisa…”

Mata Rose berbinar.

“Orang tuaku pasti akan bahagia jika ia mempunyai menantu sepertimu…”

Rose terbelalak mendengarnya.

Rendra tergagap.  “Itu… itu jika kau tak keberatan..” Ia kembali mengacak-acak rambutnya.  “Bagaimana menurutmu?”

Rose tersenyum.  Mulutnya terkunci.  Ia memandang keluar jendela.  Menimbang-nimbang sejenak.  Ia mencoba mencairkan suasana dengan menghiurp harum kopi lalu menyesapnya dengan hidmat.  Pada saat yang sama, ucapan Rendra yang dianggap terlampau berani, tergesa-gesa itu ia resapi benar-benar.  Jiwanya sungguh tersentuh dengan cara Rendra memahami dirinya.  Ia begitu tertarik dengan cara Rendra mengungkapkan isi hatinya.

“Aku mau,” ucapnya setengah berbisik sambil meletakkan cangkir kopi kembali di atas meja.

Angin kembali berhembus.  Angin yang syarat muatan air itu kini terasa ringan.  Tempias di wajah ayu Rose.  Seorang jurnalis fotografer yang telah menambatkan cintanya di Banjarnegara.  Kota kecil yang selalu memanggilnya kembali.

 

 

 

 

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.