A Moment To Rose_Part 69: Dapatkah Kau Rasakan Adaku?

Diposting pada

Lampu badai berayun tertiup angin dan meredup lalu mati seiring lunasnya bahan bakar di dalamnya.  Rendra berjalan dalam gelap.  Ia tahu Rose duduk di salah satu bangku di beranda.  Ia tak berniat mengusik Rose.  Ia butuh waktu beberapa lama untuk menyendiri.  Sekalipun Rendra menyusulnya keluar, ia mengambil tempat duduk di sebuah batu besar di bawah pohon rambutan tak jauh dari beranda.

Dari tempatnya duduk, ia puas mengamati Rose yang tetap ayu meski dibalut kesedihan.  Bagaimanapun, Rendra turut prihatin.

Ia mendesah.  Rendra merasa bagai titik hitam, di atas batu hitam Pesangkalan yang ditelan malam.  Aku tiada. Desisnya menyatu dengan desau angin malam tanpa bintang. Rose, dari kesadaranmu yang paling inti, dapatkah kau rasakan keberadaanku?  Bahkan ketika tak secuilpun keberanian tumbuh dari jiwaku untuk menyampaikan perasaanku padamu?   Pikirnya sedih.  Tak apa.  Aku sadar tak satupun komponen dari hidupku yang mampu membuatmu bangga, apalagi bahagia.  Ini sudah berakhir dan sudah selayaknya aku membuka lembaran baru setelah segala yang kucari kutemukan jawabannya di sini.

Oh, kegelapan begitu lembut dan nyawiji dalam diriku.  Mengapa selama ini aku mengira bahwa segala yang tak terlihat berarti tiada?  Mungkin aku tak dapat menangkap titik kebenaran itu dengan kamera tercanggih manapun karena setitik  cahaya itu ada di balik kegelapan yang paling muram.  Namun dengan mata hati yang suci, kebenaran itu terang adanya.  Ia ada dalam ketiadaannya.

Angin bukit Midangan menampar-nampar wajahnya.  Derai grujugan di balik bukit ini terdengar bagai nyanyian alam yang Tuhan suguhkan pada kegelapan.  Tak pernah ia dapatkan merdu suara ini di tengah kota Banjarnegara.  Ia terpejam sesaat lalu membuka matanya kembali.  Keadaan benar-benar masih sama.  Kecuali keyakinannya kini berangsur teguh kembali.  Berdiri di atas jiwa raga yang tangguh.

Luna, maafkan aku.  Aku akan menyampaikan pada keluargamu kebenaran ini.  Tenanglah di sisi TuhanMu.  Rendra mendongak seolah-olah Luna ada di atas.  Ia berdoa agar Tuhan menerima Luna di sisiNya.

Ia kembali memandang Rose.

Rose, kusadari tak satu komponenpun penyusun diriku membuatmu bangga.  Setidaknya kita sama-sama menyadari bahwa Tuhan telah menuntun kita menemukan sebuah jawaban.  Jika cinta berarti sebuah kepemilikan, maka perasaanku lebih indah dari sekedar memiliki ragamu.  Lebih tinggi dari sekedar harapan selalu berada di sampingmu ketika terjaga dari tidurku.  Aku lebih bahagia melihatmu menjadi dirimu sendiri, dalam duniamu yang luas.

Keyakinan itu membuat Rendra tenggelam dalam lautan kegelapan yang terasa begitu menenangkan.  Ia tersenyum di sebuah palung yang ternyata palung itu adalah sebuah jalan keluar menuju dunia yang begitu bercahaya.  Seperti itu pula yang ia katakana pada Satriyo belum lama ini.

Rendra merasa harus mengajak karibnya pula.  Melaju segera di jalan keluar itu.  Ia membentangkan tangan, dan menarik lengan seseorang ke dalamnya.  Ia terkejut ketika ia benar-benar menyentuh sebuah tangan.

Secara reflek, Rendra melemparkan tangan itu sekenanya.  Yo tak kalah terkejut.

“Apa yang kau lakukan!” serbu Rendra.

“Seperti yang kau sadari, aku melihatmu dalam kegelapan.”

“Kau mengejutkanku.”

Satriyo menyeringai.  “Solusi seringkali tersembunyi jauh dari kerumunan.  Siapa menyangka di tempat inilah segalanya berakhir.”

“Berakhir?  Mungkin tidak.  Bisa jadi sesuatu baru saja dimulai,” ujar Rendra.

“Ya, Ren.  Aku merasakannya…”

“Apa yang kau rasakan?” tanya Rendra bingung.

Yo merasakan apa yang Rendra alami.  Ini masih terkait dengan wanita penangkap cahaya yang beraroma mawar.  Gadis berduri yang patut dirindui.  Rose.  “Bagaimana seseorang tahu perasaanmu jika kau diam saja?  Kau pikir semua orang paranormal?”

Rendra menggeliat.  “Aku sudah mencobanya.  Dulu.  Dan kameraku nyaris hancur karenanya.”

Satriyo memang tak tahu masa lalu Rendra.  Bagaimana kehidupan Rendra saat kuliah atau saat bekerja di Yogyakarta.  “Mungkin kau perlu mencobanya lagi.  Dengan cara yang lebih elegan.” dukungnya.

Rendra menggeleng.  “Bagaimana jika aku dipermalukan lagi??  Aku sudah semakin tua dan tak pantas bagi wanita cantik berpendidikan tinggi itu.  Aku tak mau ia semakin muak melihatku.  Kau tahu?  Banjarnegara mengingatkannya selalu pada seorang lelaki yang sebentar lagi mengisi tajuk berita di semua media.  Prasetianto.  Ia ingin melenyapkan lelaki itu dari kepalanya.  Kupastikan ia akan menjauhi segala yang beraroma Banjarnegara termasuk diriku.  Biarkan ia dengan dunianya, Yo.  Aku akan bahagia di sini.”

“Kamu masih sama, Ren!” ujar sebuah suara.

Baik Rendra dan Yo sama-sama terkejut.

“Kekanak-kanakan!” ujar suara itu lagi.

“Rose!” Rendra kelimpungan.  Dalam mulut terkatup, Yo cekikikan.

Memanfaatkan cahaya dari senter ponsel, Rose dengan berani menatap lelaki kerempeng dengan mata bulat dan rambut acak-acakan di depannya.  Kini Rendra hanya bisa mengacak-acak rambutnya.  Matanya kian bulat memandang Rose.

“Emm, maksudku..” ucapan Rendra tertahan.

“Sebaliknya Ren.  Banjarnegara menjadi kota kecil yang selalu memanggilku kembali.  Bagaimanapun, tanpa Pak Pras, aku tak ada.  Seperti hari ini, segalanya tak akan terjadi tanpa seizing Tuhan.” Rose menjelaskan dengan pelan.

Rendra dan Yo tampak mengangguk-angguk.

“Kau benar Rose.”  Dalam keraguan, suara Rendra terdengar cukup menyakinkan.  “Rose, pada kesempatan ini, aku hanya ingin minta maaf atas segalanya.”

Rose mengernyit.  Ia mematikan ponselnya.  Suara langkah Yo terdengar menjauh memberi kesempatan keduanya secara pribadi.  Rendra tak mencegahnya.  Begitu pula Rose.  Dalam perasaan yang dicekam kegelisahan, Rose bertanya.  “Minta maaf dari segalanya?”

“Aku telah terlalu sering tanpa izin memimpikanmu, mencuri fotomu, mengusik kehidupan damaimu, bahkan melibatkanmu dalam bahaya.”.

“Rendra, kau bicara apa?”  Bukan itu yang ingin Rose dengar.  Mungkin ini bukan waktu yang tepat.  Di dalam sana, Nea dan bu Roto tengah berduka.  Nea adiknya…  Jadi ia punya dua adik?  Nea dan Shinta?   Ingatan itu membuatnya mengabaikan lelaki yang entah mengapa menjadi begitu melankolis alih-alih romantis.

 

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.