A Moment To Rose_Part 68: Sekarang, Terserah Bagaimana Kau Memandangku

Diposting pada

Kau bisa mengandalkanku, Rendra,” ucap nenek seolah tahu jalan pikiran lelaki muda di depannya yang dari wajahnya jelas sekali telah hilang kesabaran.  Nenek menarik nafas dan menghembuskannya begitu perlahan melalui mulutnya.  Merasa dirinya diremehkan, ia mulai bicara.  “Aku ingat malam it, 23 Agustus 2014, gerimis turun dengan deras ketika klinik kami akan tutup.  Kira-kira pukul 22.00 seorang berjaket parasit hitam turun dari mobilnya di depan klinik dengan sebuah payung.  Ia masuk menemui resepsionis dan menyerahkan amplop coklat panjang.  Aku tidak tahu isinya, namun setelah apoteker kepala membaca pesan pada surat dalam amplop itu, ia langsung menyuruhku menyiapkan sebuah suntikan, sebotol cairan beracun, dan sebotol pil obat tidur.  Aku tidak pernah bertanya obat-obatan itu untuk apa karena aku percaya kredibilitas apoteker kepala.”  Ia memandang Rendra.  “Setelah itu aku bergegas pulang dengan motor astrea lamaku.  Orang itu juga pulang dengan mobilnya.  Di persimpangan Kutaringin, kulihat orang itu berhenti dan menyerahkan sebuah keresek dari apotik pada seseorang di dalam mobil.  Aku tahu persis itu mobil siapa namun aku tak dapat memastikan orang di dalamnya.”

Rendra mengernyit.  “Jadi kau tidak tahu siapa yang menerima obat itu?”

“Pada awalnya tidak.  Dan aku pulang ke rumahku di kostku di daerah Pasar Wage.  Pada hari minggu seperti biasa, aku datang ke sebuah villa di Midangan.  Saya keluarga jauh pemilik villa.  Pada setiap akhir pekan, aku datang untuk membantu memasak.  Mereka menyukai masakan ibuku.  Sejak ibuku meninggal, akulah yang menggantikannya.”

“Siapa pemilik villa itu?  Lalu apa yang terjadi setelahnya?” tanya Yudha.

Nenek menghela nafas berat.  Rendra cemas ia kelelahan dan tak bisa melanjutkan kesaksiannya.

“Satu-satunya villa di Pesangkalan ini milik seorang Bos Besar,” ujarnya.  “Keluarga Besar Wijaya.  Aku heran, hari itu tak satupun keluarga Pak Wijaya datang ke tempat itu.  Aku berniat membersihkan tempat itu saja, tidak memasak seperti biasanya.  Alangkah terkejutnya ketika kutemukan sebuah kantong plastik dari Klinik tempatku bekerja.”

“Bagaimana kau memastikan kantong itu adalah kantong yang sama yang kau berikan malam itu?”

“Aku selalu memberi tanda, paraf, tanggal, serta waktu peracikan obat.  Waktunya tepat.  Lelaki berjaket parasit, adalah pelanggan terakhir kami malam itu.”

Semua orang menunggu.

“Aku menyimpan kantong plastik itu hingga kini.”  Dari saku jaket rajutnya, Nenek mengeluarkan sebuah kantong plastik berwarna putih pudar dengan tulisan berwarna hijau, sebuah paraf, tanggal, dan waktu.

Yudha memeriksa kantong itu dan menyimpannya.  “Itu berarti salah satu dari anggota keluarga Wijaya yang menggunakan obat-obat itu?” imbuhnya.

“Setelah villa itu rapi, aku menelpon ibu Ratna Pratiwi.  Aku memang dekat dengannya sejak ia masih kecil.  Ia mengatakan tak akan datang ke villa karena dia semalam ia baru saja datang.  Aku bertanya kenapa ia datang lebih awal tanpa memberitahunya dan aku minta maaf tak bisa menyediakan makanan untuknya.”

“Tanpa curiga ia mengatakan ingin bermalam saja dengan salah satu sekretarisnya.  Saat itu juga aku nyaris pingsan.  Aku tak bertanya mengapa ia tidak berakhir pekan dengan suaminya karena saat itu Pak Pras sedang ke luar kota.  Bapak baru kembali hari Kamis, 28 Agustus 2014.”  Suara wanita tua itu bergetar.  Tergambar kengerian di wajahnya.

“Bagaimana kau tahu, cairan itu digunakan untuk membunuh seseorang?”

Wanita itu menerawang jauh.  “Kupastikan, ia melakukannya karena setelah berita kematian seorang gadis tersebar ke seluruh dunia, ia mendatangiku, mengancam dan membungkamku.  Aku tak berani berbuat apapun.  Kau tahu, ia pemilik saham terbesar klinik tempatku bekerja.”  Wajahnya penuh penyesalan.  “Sejak itu aku keluar dan menganggur.  Dan beberapa bulan setelahnya, aku mengalami stroke oleh sebab banyaknya tekanan yang kuderita.  Aku dirawat di klinik itu pula.  Entah pengobatan macam apa yang kuterima.  Kondisiku memburuk setelahnya.  Ketika akhirnya Nea memutuskan membawaku pulang, aku bahagia sekaligus ketakutan.  Jadi kami bersembunyi di sini.  Pengaruh Ratna tak terbatas.  Mungkin aku korban berikutnya karena suaraku akan menguak segalanya.  Maka pembunuhan perlahan menjadi misi selanjutnya.  Aku rela itu terjadi untuk menebus kesalahanku.  Namun, Nea meyakinkan, beban dosaku akan terbawa mati sampai aku mengungkapkan segalanya.”

Semua orang hanyut dalam kisah menyedihkan itu.

“Setelah melihat jarum suntik itu, aku makin yakin benda itu telah membuat Luna mati.  Kode pada jarum suntik kutulis juga pada buku pengeluaran barang.  Hingga kini aku menyimpannya.”  Pandangannya berpaling pada Nea.  “Tolong ambilkan di bawah kasurku!”  Nea bergegas mengambilkan buku yang tersimpan dalam plastik hitam dan dilakban dengan erat.  Nea menyerahkan bukti itu pada Yudha.

Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.  Merasa ngeri mengingat peristiwa yang telah lewat.

“Nek, kau berani bersumpah atas kesaksianmu?”

“Aku berani mati,” ujar Nenek diikuti batuk-batuk.  Tubuhnya limbung.  Pandangannya berkunang-kunang.

Di seberang meja, Satriyo masih memegang kamera besarnya.

“Wanita – itu….. Huk!” nafas nenek tersengal-sengal.  “..yang meminta cairan dan jarum suntik padaku serta sebotol pil obat tidur..”  Pandangan nenek mulai kabur.

Nea dan bu Roto memagangi punggunya.  Ia tampak khawatir.  “Apakah ini sudah cukup?” tanya Bu Roto.  Matanya tertuju pada Yudha yang duduk di samping nenek.

Yudha memandang Rendra lalu menimbang-nimbang sejenak.  Ia menarik nafas dan mengatakan ya  setelah menghempaskan nafas beratnya ke udara.

Angin malam Pesangkalan bertiup menggoyangkan lampu badai, menyerbu ke ruang dimana semua orang kini berkumpul.  “Terima kasih, Nek,” ujar Yudha.

Sementara Yo menekan tombol off kameranya.  Rose menyimpan kembali ponsel yang ia gunakan untuk merekam sejak tiba di rumah ini.  Pada saat yang sama ia memandang Rendra.  Tatapan tajamnya mengatakan:  sekalipun aku cemburu pada Luna, tak terbersit niat mendapatkanmu dengan cara membunuh, Ren.  Rose segera membuang muka ketika tatapan tajam Rendra menangkap pandangan ganjil Rose.

Dalam diamnya Rendra berkata:  Rose, sekarang kau tahu, aku bersih.  Sejauh ini aku telah berhasil membuktikannya.  Bukankah aku layak ditunggu?

Pergumulan batin diantara keduanya berakhir ketika nenek berpamitan dan mengatakan dirinya ingin tidur dengan tenang.  Bu Roto dan Nea memapahnya wanita tua itu dengan susah payah.  Nenek berbaring lalu terlelap tanpa dengkuran.  Nafasnya tenang lalu sama sekali menghilang.

“Innalillahi…” ucap Bu Roto sambil terisak.

Nea duduk di samping pembaringan.  Mulutnya berkomat-kami mendoakan neneknya.  Orang-orang kembali berkerumun lalu keluar untuk membicarakan pemakaman Nenek.

“Nenek akan dimakamkan besok pagi.  Kita akan memberi izin selama tiga hari masa duka pada Pak Roto sebagai penghargaan atas informasinya yang sangat berharga,” putus Yudha.  “Namun, dengan penjagaan.”

Dari dalam, Nea buru-buru menyela.  “Tolong rahasiakan tempat ini.  Kumohon?”

“Nea, tenang saja.  Mereka akan bertanggung jawab atas segala kesalahan mereka.  Surat penahanan atas Ratna Pratiwi dengan tuduhan pembunuhan, serta untuk Pak Prasetianto atas tuduhan upaya pembunuhan, keterlibatan dengan pembalakan liar di Kalimantan, dan masih banyak lagi.”

Isak Nea makin keras.  “Aku bersedia jadi saksi, sekalipun ia ayah kandungku sendiri.”

Rose terkesiap mendengar pengakuan Nea.  Ia memandang gadis di depannya dengan terkejut.  Rendra mendekati Rose mencoba membuatnya tak terjatuh.  “Rose, Nea adik biologismu,” ujar Rendra di samping.

Muka Rose berubah jijik membayangkan seorang lelaki dengan banyak anak dari ibu yang berbeda.  Ia ingin segera menjauh dari semua orang.  Ia merasa mereka seolah tengah mencibirnya.  “Jangan khawatir, Ren.  Bukan sekali ini aku berurusan dengan sesuatu yang menjijikkan seperti ini.”

“Sebaiknya kau memaafkan ayahmu,” bisik Rendra.

Rose bergeming.  Ia berhadapan dengan Nea tanpa berniat memeluknya.  Ia tak tahu harus berbuat apa.  Bahkan seandainya ia tak pernah mengenal Nea, itu tak jadi soal.  Hidupnya sudah cukup bahagia bersama seorang ibu dan ayah tiri yang menyayanginya.  Sementara Nea, ia hanya memiliki Bu Roto.  Orang yang dengan tulus menerima dirinya apa adanya.  Ia bahkan tak pernah mengenal ibu kandungnya.  Selembar fotopun tidak.  Meredam kecanggungan ini, Rendra mengajak mereka semua mendoakan nenek.

Tak tahu mengapa Rose beringsut menjauhi Rendra.  Ada semacam jeda yang begitu  panjang.  Rendra merasa asing tidak seperti beberapa hari lalu saat ia menjemputnya ke Jakarta.  Rendra melihat Rose duduk sendiri di beranda.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.