A Moment To Rose_Part 67: Apakah Ingatannya Dapat Diandalkan?

Diposting pada

Satu kilo meter dari pondok kecil di balik curug Pletuk, sebuah rombongan yang terdiri atas lima orang berjalan dengan penerangan lampu senter.  Dalam keadaan malam begini, tak mungkin menggunakan motor trail sekalipun.  Tak ada yang tahu medan ini sebelumnya.  Rupanya berjalan memang cara terbaik.  Dan jalan setapak di balik curug pletuk adalah satu-satunya petunjuk.

Tampak Yudha memimpin pasukan.  Di belakangnya, Rose berjalan pelan.  Ia bersikeras mengikuti rombongan lantaran segala yang ia pertaruhkan tengah menunggu jawaban.  Bahkan ia memilih pergi dengan Yudha setelah mengantarkan ayah ibunya di rumah Rendra.  Ayahnya ingin berkomunikasi dengan Wulan setelah Rose menceritakan kisah gadis malang itu.

“Kau baik-baik saja, Rose?” tanya Yudha melihat, di balik bayangan pepohonan, wajah Rose tampak kelelahan.

“Ya,” jawab Rose yakin.   Mengingat pekerjaannya di majalah offroad, maka ini bukan kali pertama Rose bertempur di dalam lumpur.  Semua orang tahu keberaniannya.  “Masih jauh?” tanya Rose kemudian.

“Entahlah, belum terlihat tanda-tanda kehidupan di tempat ini.”  Yudha berhenti sesaat mengamati jalan, menengok ke kanan kiri, kegelapan terhampar di mana-mana dan desau angin serta suara binatang malam mengepung mereka.  “Ke arah sini!” putusnya.  Empat orang di belakang mengikuti dirinya.

Beberapa meter ke depan, seorang dari mereka berteriak.  “Lihat, di ujung sana kulihat kelip cahaya!”

Semua menoleh, menunjuk orang tadi dengan senter.  “Itu di sebelah sana!” ulangnya.  Semua mengikuti arah yang ditunjuk.

“Kita harus bergegas!” Yudha bicara kembali.

Setengah berlari, Rose mengikuti Yudha hingga kakinya terantuk akar pohon yang melintang di depannya.  “Auw!” jeritnya dan terjatuh.  Kepalanya menghantam cabang pohon yang rendah.  “Aah…”

Dua orang anggota polisi di belakang reflek menolong Rose.  Yudha berbalik dan mengingatkannya untuk hati-hati.  Ia pikir Rose terlalu bersemangat.  “Kubilang sebaiknya kau tinggal, Rose!” kata Yudha sedikit membentak.  Apa yang ia cemaskan terjadi.

“Aku tak apa Komandan!” teriak Rose sambil memegangi pelipisnya yang mengeluarkan cairan merah kental.

Yudha melangkah ke depan tanpa mengatakan apapun.  Kemarahannya bukan saja karena berhadapan dengan si kepala batu.  Sampai detik ini ia tak menerima kabar apapun baik dari Rendra maupun Yo.

Ketika cahaya semakin jelas dan sebuah pondok terlihat, mereka berjalan lebih cepat.  Sebuah lampu badai tergantung di beranda pondok kayu.  Pondok itu berdiri kukuh di tengah hutan Pesangkalan.  Semua orang bersyukur telah menemukan tempat ini.

Mereka mengetuk pintu dan mendapati lima orang melingkari sebuah lampu badai di tengah ruang.  Nea menunjukkan ekspresi ragu.  Ia mengira, orang-orang ini sengaja datang setelah Rendra.  Ia jadi curiga.

Rendra bangkit dan menyambut tamu-tamu yang baru tiba.  Yudha tak habis pikir melihat dua orang jurnalis yang dicarinya sudah ada di sini.

“Bagaimana kalian ada di sini?” tanya Yudha heran.

“Tuhan yang menuntun langkah kami, Yudh?”  Rendra menjawab tanpa melihat Yudha.  Ia lebih heran mengapa Rose ikut dalam rombongan.

“Rose, kau kenapa?  Jatuh?” serbunya pada Rose.

Rose merasa kikuk.  “Hanya luka kecil.”

Yudha geleng-geleng kepala melihat Rendra masih sempat memikirkan Rose yang masih sehat berdiri di belakangnya.

Nea menatap Rendra dengan tatapan muak.  Ia mengira Rendra telah berbohong dengan mengatakan ia tersesat.  Rendra meyakinkan nenek, bu Roto dan Nea bahwa itu benar.  Yudha menjelaskan bahwa ia memperoleh informasi keberadaan mereka bertiga dari Pak Roto.

Nenek yang duduk dengan rasa lelah memberitahu Nea agar mengizinkan tamunya masuk.  “Nea, izinkan mereka masuk.  Waktunya tak lama lagi,” suaranya lemah dan serak.

Semua orang berkerumun di ruang tengah, memandang Nenek dan menunggunya mengucapkan sesuatu.

Rendra mulai bertanya.  “Nek, izinkan aku mengingatkanmu mengenai peristiwa dua tahun lalu.  Seorang gadis meninggal di Dieng pada malam puncak Dieng Culture Festival, 30 Agustus 2014.  Sebuah jarum suntik berisi cairan mematikan telah ditancapkan di nadinya.  Ia segera menemui ajal sesaat setelah racun itu beredar.  Sejak hari itu, jarum suntik maut itu tetap menjadi misteri hingga beberapa hari lalu.  Seorang yang tanpa sengaja menemukannya telah menyimpan tanpa berniat sedikitpun mengungkap kebenaran ini.  Sayangnya, ketika tiba waktunya ia bicara, ia menyebutkan nama seorang pensiunan apoteker dan menyerahkan foto ini padaku,”  Rendra mengambil nafas sebentar.

Wajah Nenek tampak tenang namun tak disadarinya bening air mata mulai berjatuhan.

“Awalnya, orang yang menyimpan jarum suntik itu mengatakan Nenek stroke.  Jadi aku amat bahagia ketika melihat keadaanmu menyambut kami.  Itu berarti, Nenek telah pulih.  Dan sebuah pernyataan akan sangat berharga bagi kami.  Bagi kebenaran itu sendiri.”  Rendra melanjutkan sembari membelai jemari Nenek.

“Ya,” desisnya nyaris tak terdengar.  Burung gagak berkaok-kaok di tengah kegelapan.  Kesusahan kalian berawal dari kebisuanku.  Namun itu beralasan,” ucapnya sedih seraya menyeka matanya yang basah.  “Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku merasa dikejar-kejar hantu.  Hantu yang berasal dari kesalahanku tak pernah berhenti mengikutiku.  Ketakutan itu sendiri yang menyebabkan aku stroke,” kenangnya.

Ia menyapu pandangan ke seluruh yang hadir dengan mata tuanya yang sembab.  “Entah terapi apa yang perawat berikan hingga kian hari tubuhku melemah.  Beruntung Nea menyadari hal itu dan ia membawaku ke hutan ini untuk bersembunyi.”

“Bersembunyi dari siapa?” Rendra menyela.

Nenek berdiam sejenak.  Rendra melihat keletihan wanita itu di kedua bola matanya.  Apapun yang akan diucapkannya nanti, sekalipun itu sebuah petunjuk yang jelas, dapatkah Rendra mengandalkan ingatannya?  Mengingat telah banyak masa-masa terlewat tanpa ia menyadari apapun ketika ia terus terbaring di klinik.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.