A Moment To Rose_Part 66: Tempat Tak Terduga

Diposting pada

Keduanya bergegas ke sana.  Cahaya dari lampu badai semakin jelas terlihat.  “Apakah ini nyata?” tanya Yo.

“Kita akan tahu setelah kita masuk,” ujar Rendra memberanikan diri.  Beberapa kali ia mengetuk pintu kayu tanpa seorangpun berniat membukanya.  “Assalamu’alaikum?” ucapnya.  “Kami kemalaman di hutan ini, bolehkah kami masuk?”  Rendra menoleh Yo.

“Sepertinya sia-sia.” Ujarnya sambil menjatuhkan diri pada lantai kayu di beranda pondok itu.

Tampaknya Rendra tak menyerah dan kembali mengetuk serta mengucapkan salam.  Usahanya berhenti ketika terdengar bunyi membuka kunci dari dalam dan segera pintu kayu itu berayun terbuka.

Mulut Rendra menganga, di balik remang lampu teplok yang tergantung di pagar, wajah seorang wanita masih segar dalam ingatannya.  “Nea????  Kaukah itu???”  di belakangnya berdiri wanita setengah baya dengan sebuah tongkat di tangan.

“Rendra, bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Nea tak kalah kaget.  “Lagi-lagi kau mengusik ketengangan kami.”

“Nea, aku mencarimu kemanapun.  Dan kau ada di sini, di balik Curug Pletuk.”  Kepala Rendra masih memproses segala informasi yang begitu mendadak.  Otaknya sibuk menghubungkan berbagai peristiwa yang dialaminya.  Akhirnya ia hanya mengangguk-angguk.

Nea masih berdiri di ambang pintu.  “Siapa saja denganmu?” tanyanya dengan curiga.

“Satriyo.  Kami hanya berdua,” ujarnya.  Satriyo sudah berdiri di belakang Rendra tak kalah kagetnya.

“Apakah aku bisa mempercayaimu?”

Rendra memaklumi pertanyaan Nea jadi ia menjelaskan bagaimana mereka bisa sampai ke pondok ini.  Sesungguhnya mereka melarikan diri sambil mencari jalan keluar.  Namun mereka menemukan pondok ini.

“Masuklah!” perintahnya.

Rendra dan Satriyo memasuki pondok ini dengan ragu.

“Duduklah!” suara lirih Nea kembali memecah keheningan.

Mereka duduk melingkari lampu badai di tengah meja kayu.  Nea mengambil tempat duduk di dekat jendela.  Sementara Rendra dan Yo membelakangi sebuah pintu dengan tirai kain blacu putih.  Bu Roto masuk ke sebuah bilik untuk mengambilkan sesuatu untuk mengisi perut tamunya.  Ia yakin, tamunya kelelahan setelah berjalan di tengah hutan.

“Kuharap, kalian bisa merahasiakan tempat ini,” ujar Nea.

Rendra mengangguk.  “Kami mengerti kenapa kau sampai tinggal di tempat seperti ini,”

“Tempat ini indah,” timpal Nea.

“Tentu saja..” Ucapan Rendra menggantung.  Mendadak ia diam beberapa saat ketika mendengar suara serak dari sebuah pintu bertirai blacu di belakangnya. Suara lemah dan rapuh itu seolah menelan gemuruh Curug Pletuk.

“Siapa, Nea?”

Sekonyong-konyong Rendra dan Yo menoleh dan bangkit dari duduknya.  Seorang wanita berambut putih ada di depannya.  Wajah itu tak asing.  Rasa herannya belum habis ketika mereka menyadari bahwa suara yang barusan mereka dengar, benar-benar dari wanita itu.

“Nenek, seorang apoteker bukan?  Nenek sudah pulih?”

“Ren!” bentak Nea.  Ia sudah berdiri dari tadi untuk menyongsong neneknya.  Nea tak ingin sesuatu yang berhubungan dengan obat-obatan disebut-sebut di hadapan neneknya.  “Ia mengalami stroke beberapa bulan setelah pensiun.  Sejak terapi di pondok ini, keadaannya membaik,” desisnya terlalu dekat di telinga Rendra.

Rendra menyambut kesempatan membahagiakan ini dengan dengan tubuh bergetar.  Betapa murahnya Tuhan terhdap dirinya.  Ia menoleh pada Yo.  “Jadi, seperti yang kubilang, ini jalan keluar.”

Nea sudah memeluk neneknya, memapahnya lagi ke kamar.  Tapi rupanya nenek menolak.  Ia memandang Rendra dan Yo bergantian.  Ia berhenti dan terus memandang Rendra.  Ia bertanya-tanya apakah anak muda ini adalah orang yang sama dengan gambar yang disimpannya selama dua tahun terakhir.

“Saya Rendra, Nek,” Rendra memperkenalkan diri melihat kebingungan wanita tua di depannya.  “Dan ini Satriyo,” lanjutnya.

Nea berbalik dan mendelik ke arah Rendra.

“Nea, biarkan kami mengenal nenekmu lebih dekat,” dalih Rendra.  “Kau akan tahu nanti.”

Dengan hati-hati Nea menyokong tubuh rapuh itu dan membantunya menempati sebuah kursi kayu.

“Saya sangat bersyukur nenek sudah pulih kembali,” Rendra meluruhkan kecanggungan Nea.

“Kau seperti mengenal nenek…?” Nea tak mengerti bagaimana Rendra mengenal wanita renta ini.

Sebelum Rendra menjawab, nenek Nea memandang Rendra dengan pandangan ganjil.  Rendra hanya diam sambil sesekali mengacak-acak rambutnya.  Nea khawatir Rendra melakukan hal-hal yang membuat neneknya kacau.  Tak biasanya nenek memandang seseorang dengan cara seperti itu.  “Nenek, kau butuh istirahat, mari kembali ke kamarmu,”

“Nea kenapa kau terus memaksaku?” suara serak nenek kembali terdengar.  Mirip seperti dengkuran.  Pandangannya beralih pada Rendra.  Sepertinya ia pernah melihat lelaki ini di sebuah koran lokal yang dibacanya dua tahun lalu.  Dan koran itu tersimpan apik di kamarnya.  “Kau, Rendra?”

Rendra mengangguk.  Senyum samar nenek terlihat di wajahnya yang keriput.  Senyum itu memudar berganti kerut sedih yang tersamar.  Tangan nenek terjulur menjangkau jari Rendra dengan sangat hati-hati seolah ia menyentuh harapan terakhirnya.  Ia menepuknya beberapa kali di sana.  “Aku menunggu hari ini…” ucapnya terbata.

Apakah ini sebuah pengakuan?  Tentang apa?  Apakah segalanya akan berakhir di tempat ini?  Sesuatu yang ditunggunya berhari-hari?

Waktu seolah melambat.  Sesuatu yang Rendra cari selama ini tak lagi berjarak.  Kini ia menunggu dan melihat Nea tampak cemas dan bingung.  Ia menunggu adegan berikutnya sama seperti Rendra dan semua orang di ruangan ini termasuk bu Roto yang sudah kembali dengan nampan berisi empat cangkir kopi.

 

Bab 69

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.