A Moment To Rose_Part 65: Di Luar Semua Jadwal Harian

Diposting pada

Langit Midangan diguyur gerimis ketika mentari benar-benar surup di ujung barat.  Keadaan semakin gelap.   Satu-satunya sumber cahaya berasal dari ponsel Rendra.

“Cahaya ini memang menguntungkan, tapi aku khawatir itu menguras batre dan ketika sinyal muncul, kita tak bisa menghubungi siapapun, bahkan mereka tak dapat mendengar berita apapun dari Prasetianto.”  Yo berjalan di depan Rendra.

“Aku lebih khawatir tergelincir lalu merusak kamera kita.  Benda ini menyimpan banyak bukti.  Kita harus menjaganya sebaik menjaga diri kita,” bantah Rendra.  Ia tampak bergerak lebih hati-hati dengan bertumpu pada tongkat kayu yang ia peroleh dengan mematahkan dahan pohon jengkol.

Satriyo tampak gelisah.  “Kemana arah ini menuju?”

“Kukira ke Twelagiri.”

“Ini diluar jadwalku hari ini.”

“Apa rencanamu?”

“Kupikir, sore ini aku bebas.”

“Ada janji?”

Yo mengangguk.  Ia mengingat bayangan seorang wanita berhijab, anggun, menunggunya berjam-jam di café samping tokonya.  Ia akan berkali-kali menelpon Yo tanpa satupun jawaban.  Lalu wanita itu kecewa dan tak mau bertemu lagi dengan jurnalis yang telah memperdaya dirinya.  Efek psikologis dari pikirannya ini sangat menganggu.  Ia berharap sinyal datang sekedip saja.

“Sudah ada sinyal?” tanya Satriyo pada Rendra.  Sinyal menjadi barang berharga bagi mereka.

“Ada.  Tapi tidak stabil.”

“Bisakah aku menghubungi seseorang?”

Rendra tahu kegelisahan apa yang dirasakan sahabatnya.  Tak mungkin karena Jonas.  Pimpinannya bahkan sering dibiarkan menunggunya begitu lama.  Kemarahan Jonas biasanya surut setelah Yo membawa berita besar.

Ini bukan lagi tentang berita.  Wanita.  Akan menjadi berita besar ketika Yo menghentikan petualangannya memacari wanita.  Setidaknya empat wanita dalam setahun dirayunya.  Biasanya hubungan mereka berakhir karena hal-hal seperti yang ia alami kali ini.  Sedang Rendra terlalu sadar diri.  Ia khawatir dimintai hadiah jika memacari wanita.  Ia takut dipaksa romantis.  Ia ngeri kalau harus menambah kegiatan hariannya dengan antar jemput pacar ke tempat kerja.  Dan yang sebenarnya, lidahnya kelu di hadapan seorang wanita.  Sekalipun ia tak bisa berhenti bicara di hadapan nara sumbernya.

Rendra menyerahkan ponselnya pada Yo.  “Silakan.”

Satriyo memencet nomor tertentu lalu menunggu.  Panggilannya hilang.  Ia mengulangi hal yang sama.  Panggilan diakhiri.  Sekali lagi Yo memencet sebuah nomor di register panggilan keluar.

“Nomor yang Anda tuju sedang dialihkan, cobalah beberapa saat lagi.”  Bersamaan dengan suara merdu operator, kaki Yo terantuk batu licin.  Keseimbangannya agak terganggu.  Tangan kirinya memegang ponsel, sementara tangan kanannya mennggapai-gapai pohon.

“Perhatikan langkahmu, Yo!”  Rendra memperingatkannya seraya menengadahkan tangannya.  Titik-titik gerimis terkumpul di telapaknya.

Yo melirik Rendra.  “Sejak tadi, bahkan gerimis telah membasahi tenggorokanku.”

“Baguslah.  Begitulah cara kita survive,” celetuk Rendra.  “Tak penting lagi seperti apa penampilan kita.  Tidakkah kita menyerupai orang gila?” tanya Rendra mengacak-acak rambutnya.

Satriyo tak dapat menahan tawanya melihat tampang kawannya.  “Hampir.  Itu kenapa status jomblo bersetia kepada kita.”

“Kita telah memantapkan diri hidup di balik segala kemustahilan, bukan?” bantah Rendra.

“Bagaimanapun, setelah kasus ini selesai, akan kucari seorang pendamping.  Tak peduli gadis atau janda.”

Rendra tergelak seiring suara jangkrik yang bersahutan.  Ia membayangkan seorang janda beranak lima dengan pakaian pengantin, duduk di sisi Satriyo.

“Kenapa, Ren?” tanya Yo penasaran.

“Ah, tidak!”

“Katakan!”

“Masih ingat?”

“Apa?”

“Janda cantik pemilik toko Hijab di Jalan Gotong Royong?  Kau sampai bingung dengan alasan apa kau datang kesana lantaran yang dijualnya fashion wanita.”

“Hahaha!”  Yo sampai terpingkal-pingkal.  “Wanita itu punya lima anak, laki-laki semua.  Anak pertamanya masuk taruna sekarang.  Anak kedua ketiga kembar.  Keduanya pemenang taekwondo.  Anak keempat dan kelima masih sekolah di SMP IT.  Mereka semua terlahir dari ibu yang hebat.”

“Dan ayah hebat yang gugur di Lebanon saat bertugas bersama United Nation.  Kita meliput berita mangkatnya calon jenderal itu.”

“Istrinya amat berduka waktu itu.  Hingga kini, ia masih mencintai suaminya.  Mungkin ia bukan jodohku,” ucap Yo datar.

Ucapan datar itu mampir ke telinga Rendra, ia meneruskan ke otak.  Lama ia memikirkannya.  “Masih banyak gadis menantimu, kenapa hatimu masih juga terpaut pada janda itu?”

“Entahlah.  Kupikir, pernikahan bukan ujung dari sebuah pencarian.  Bukan akhir dari perjuangan.  Bahkan terkadang, penderitaan dimulai sejak seseorang bersumpah untuk saling setia.  Ironi bukan?”

“Kita hanya harus terus optimis.”

Yo dan Rendra terus berjalan dengan santai merasa keberadaan mereka tak terdeteksi orang-orang Prasetianto.  Lokasi ini benar-benar tersembunyi.   Jalur yang mereka lalui tak memberi petunjuk keluar sama sekali.  Semakin jauh mereka berjalan, semakin mereka didera was-was.  Keadaan semakin gelap sampai.  Baterai ponsel telah habis daya dan mereka berjalan dengan berpegangan pada pepohonan di sampingnya.

Tiba di suatu titik, mereka melihat kerlip cahaya.  “Yo, apakah itu sebuah cahaya?”

Yo menimpali.  “Sepertinya sebuah pondok?  Tak jauh lagi.”

Kedua lelaki itu berjalan lebih hati-hati.  Kaki-kaki mereka menjejak batu licin.”Kita sudah berjalan beberapa meter namun cahaya itu tampak menjauh, Ren.”  Yo mulai mengkhawatirkan penglihatannya.

Rendra menggeleng sekalipun Yo tak menyadari kepala Rendra bergerak dalam keadaan segelap ini.  Mata Yo senantiasa tertunduk mengamati jalan.

“Setidaknya kita punya harapan.  Mungkin itulah jalan keluar kita.  Barangkali di baliknya ada rumah-rumah penduduk.  Syukurlah.”

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.