A Moment To Rose_Part 64: Setidaknya, Mendapat Sesuatu sebelum Pergi

Diposting pada

 

Keamanan menjadi istilah asing bagi Rendra sekarang.  Ia bisa kapan saja di serang.  Kali ini ia merasa harus mengikuti perjalanan calon bupati hingga ke bagian selatan wilayah Banjarnegara ini.

“Kita akan menerobos ke dalam untuk mencari apoteker tua itu, Yo.”

“Aku tak yakin.”  Yo mendesah, mengamati dinding batu alam yang tinggi dan kokoh.  “Tak mungkin tempat ini tanpa penjagaan.  Sedang Nyonya Pras saja hanya berhasil menggedor-gedor pintu gerbang dari luar.  Apa kau yakin wanita itu ada di dalam?  Prasetianto mungkin telah lama mengusirnya.”

“Tak ada cara lain.  Kita harus memastikannya.  Cari jalan!” perintah Rendra.  “Mungkin ada pintu belakang.”

Dari tempat tersembunyi keduanya bergerak mengelilingi rumah.  Satriyo mengamati tiap jengkal pagar yang mengelilingi rumah.  “Mustahil.  Semua dindingnya tanpa celah.  Tak ada jalan lagi kecuali kita memanjatnya.”

Rendra yang sudah berhasil bertengger di dahan Rambutan dapat mengamati situasi di dalam.  Ada dua orang bersenjata menjaga pintu gerbang.  Empat orang tersebar di halaman belakang.  Semuanya berpakaian serba hitam dengan alat komunikasi tersambung di telinga masing-masing.

Satriyo memberi kode dari bawah.  Rendra balik menatapnya dari atas.  Lalu mengacungkan tangan kanan dengan jari terbuka serta satu ibu jari kiri.  Artinya, ada enam orang penjaga di sana.  Lalu ia bergerak turun.  Kedua tangannya berpegangan pada dahan-dahan.  Kaki-kakinya dengan lincah menginjak dahan-dahan sampai ia tiba di tanah.

“Apa rencanamu?” tanya Satriyo.

“Kau alihkan perhatian mereka dari sini.  Aku akan masuk dari arah berlawanan.”

“Bagaimana jika kau tak bisa keluar?”

“Aku akan berhati-hati.”

“Ini ide buruk, kawan.  Kau tak ingat kau nyaris mati oleh Tino?”

“Itu kenapa aku tak takut lagi akan kematian.”

Satriyo berdoa agar rencananya berjalan mulus.  Rendra mengambil beberapa kerikil lalu melemparkannya ke dalam.  Kerikil itu mengenai genting.  Seorang penjaga dengan pakaian hitam menoleh ke kanan ke arah barat vila.

“Sembunyi!” perintah Rendra.

Satriyo sembunyi sedang Rendra berlari kecil kea rah timur melewati bagian belakang vila.  Ia menyusup dari pohon ke pohon.  Jantungnya berdegup lebih kencang.  Persis di belakang vila ia berhenti sejenak.  Mengamati batu-batu yang menyusun pagar.  Diantara batu-batu hitam itu, ia melihat ada warna abu yang menyolok.

Didorong rasa penasaran, Rendra bergerak mendekat dan tak ragu menyentuh batu itu.  Batu itu terdorong ke dalam lalu jatuh.  Reflek ia jongkok dan bersembunyi.  Merasa tak ada yang terjadi ia berdiri lagi untuk mengintip situasi di dalam.  Tepat ketika berdiri, seorang penjaga ada di depan matanya.  Mengacungkan pistol.

“Penyusup!” teriak penjaga pada yang lainnya.

Hanya ada satu lubang kecil.  Tak mungkin penjaga itu keluar menangkapnya.  Rendra berlari kembali ke arah barat.  Menemui Satriyo.  “Kabur!”

Satriyo yang tengah memegang kameranya dari atas pohon, meloncat turun lalu berlari ke mobilnya di semak-semak.

“Semak-semak ini cukup aman,” gumam Rendra.  “Tetap diam!” perintahnya pada Satriyo.  Keduanya menyaksikan gerbang bergerak lalu terbuka lebar.  Dua orang penjaga berlari ke jalan sepanjang empat meter.

“Ada jejak mobil.”  Seorang penjaga mengamati jejak mobil.

“Ikuti!” perintah seorang lainnya.  Sebuah mobil offroad keluar dari vila.  Dua orang di dalamnya memasang tampang serius.  Wajah-wajah itu terlatih menahan senyum sekalipun parodi lawak ada di depan mata.  Mereka menyusuri jalan berbatu mengikuti jejak mobil sebelumnya.

Rendra berbisik di tempat persembunyiannya, “Nyonya Prasetianto menyelamatkan kita untuk sementara.  Jejak itu, bekas roda mobil Nyonya yang barusan pergi.”

“Sampai kapan kita akan bersembunyi?” bisik Yo.

“Mungkin kita harus bermalam di tempat mengerikan ini.”

“Hubungi Yudha!” Satriyo tak sabar.

“Hilang sinyal, Yo.”

“Kau pergilah dulu.  Cari bantuan.  Biar Yudha yang jemput aku.  Aku akan melanjutkan pencarian.”  Rendra mengambil keputusan.

Satriyo bergeming.  Ia duduk di atas mobil hitam bertelekan kedua tangannya.  “Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendiri di sini?”

“Kita tak mungkin keluar bersama.  Jalan utama dalam pengawasan.”

“Ren, nyawamu hampir melayang!”  Satriyo mengingatkan.

“Itu tak akan berlaku padaku.  Aku akan bersembunyi dengan baik.”  Rendra bersikukuh.

“Tidak, Ren.  Kita pergi berdua.  Kita lanjutkan esok pagi.  Satriyo tak menyerah.  “Aku melihat banyak kejanggalan di tempat ini.  Setidaknya aku mendapatkan sesuatu sebelum pergi.”

“Saat aku memanjat pohon, keadaan begitu aman dan sunyi.  Tak kulihat apapun.  Gambar apa yang kau ambil tadi?”

“Kau lihat sendiri.”  Satriyo menyerahkan kameranya pada Rendra.  “Gerbang terbuka saat aku berada di atas.  Aku mencari posisi paling strategis sehingga dapat melihat sebuah mobil hitam tanpa nomor.  Tapi kau lihat, goresan itu sama persis dengan goresan pada mobil yang terdapat pada foto Luna.”

“Kau benar.  Yang belum kupahami, kenapa ia masih menyimpan mobil itu?  Bukankah akan lebih mudah jika mobil itu dijual?”

“Kau tak melihat betapa ruang kerja Prasetianto penuh sesak dengan barang-barang?  Kupikir ia termasuk orang yang gemar menyimpan kenangan.”

“Mari kita keluar, sebentar lagi malam.  Akan lebih tak berharga jika binatang buas yang menghabisi kita,” ujar Rendra akhirnya.

Satriyo mengangguk.  Kini ia berdiri di depan mobil.  Mencopot plat nomor.  Mengambil aki, memasukkan pada tas punggungnya.  Keduanya meninggalkan tempat itu melalui jalan setapak diantara pepohonann pinus.  Dari tempatnya berjalan, dua orang jurnalis itu dapat mendengar kemericik jurug Pletuk.  Mereka mengambil jalan memutar, agar terhindar dari jangkauan para pengejar.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.