A Moment To Rose_Part 63: Kesaksian Rose

Diposting pada

Rose segera berada di balik meja interogasi di sebuah ruang di kantor polisi.  Yudha ada di seberang Rose dengan laptop menyala di depannya.  Ia akan menanyai Rose dan mengetiknya langsung.

“Pagi, Rose.  Buat dirimu nyaman.  Ini hanya prosedur biasa.  Kami harus melakukannya.”

“Tentu, Pak.  Aku siap.  Apapun itu jika dapat membantumu.”

“Terimakasih.”  Yudha menatap mata lebar dan berbinar milik Rose.

Dari matanya, tak seorangpun mengira bahwa Rose keturunan Tionghoa.  Ibunya berasal dari kampung pecinan Yogyakarta.  Ketandan.  Ia menikah dengan seorang penjual salak dari Banjarnegara, Prasetianto.  Pernikahan keduanya tanpa restu orang tua.

Ibu Rose, Kinasih yang nama aslinya adalah Lin Yao mengikuti suaminya pindah ke Jakarta.  Delapan tahun mereka tinggal di kota itu tanpa kehadiran seorang anak.  Kinasih menganggap hal ini kutukan leluhurnya.  Prasetianto akhirnya tak tahan dan meninggalkan istrinya di kota besar.  Prasetianto kembali ke Banjarnegara.  Kinasih tak berani kembali pada kedua orang tuanya.  Ia telah dikeluarkan dari keluarga besarnya.  Ia tetap di sana dan menikah dengan seorang psikolog keturunan Tionghoa asal Jakarta.  Rose lahir setelah empat bulan pernikahan kedua Kinasih dengan mata lebar.  Seperti mata Prasetianto.

“Rose, saya ingatkan kembali kejadian dua tahun lalu pada Dieng Culture Festival yang telah menewaskan seorang pengunjungnya bernama Luna.  Seorang model asal Yogyakarta.  Apakah kau mengenalnya?”

“Ya.  Kami pernah bertemu dalam sebuah event mobil offroad.  Dia melakukan pemotretan untuk agennya dengan Rendra sebagai fotografer.  Kami berada di tempat yang sama.”

“Kalian bersahabat?”

“Jika yang kau maksud sebagai sahabat itu adalah sering berkomunikasi meski lewat telepon, saling berbagi cerita, maka kami tidak sedekat itu.”

“Oke.”

“Berkaitan dengan gambar Luna yang kau ambil, apakah ia menjadi modelmu?”

“Tidak, aku memang mengambil gambar tanpa sepengetahuan Luna.  Aku hanya iseng membidikkan kamera padanya.”

“Kapan itu terjadi?”

“14 Juli 2014.”

“Saat itu Luna bersama seseorang?”

“Ya.”  Mata lebar Rose menyipit mengingat sesuatu.  “Belakangan aku kerap melihat wajahnya terpajang seantero Banjarnegara.  Waktu itu, Pak Pras dengan beberapa koleganya tengah menandatangani sebuah berkas.  Saya tak tahu berkas apa itu.”  Rose mendesah.  “Dan  Luna berdiri di depan mobil fortuner.  Sedikit agak ke samping sehingga plat nomor mobil itu masih tampak.  Di belakangnya, deretan pohon bambu gading sepanjang lima meter menghiasi bagian depan Vila sampai pintu gerbang pertama.”

“Bagaimana kau bisa mengambil gambar tersebut padahal Luna berada di halaman vila?”

“Ah ya.  Vila itu tidak berpagar seperti yang kulihat di film-film.  Hanya ada pagar tanaman yang agak rendah.  Pohon bambu gading di sebelah kiri, dan beberapa pohon jambu.”

“Di mana letak vila itu?”

“Di Pegunungan Midangan, desa Pesangkalan.  Bagian selatan Banjarnegara berbatasan dengan Kebumen.”

“Kau ingat betul tempat itu.”  Yudha kagum.

“Keindahan Midangan tak dapat di sangkal.  Ada Curug Pletuk di lerengnya.  Dan itu sulit dilupakan.”  Ia membayangkan air terjun yang jernih, mengalir dari ketinggian 80 meter.  Hawa sejuk Midangan mengalir di sekujur tubuh Rose.  Ia seperti tengah berada di sana.  Melintasi jalan berbatu ditepi sungai.  Mereka berhenti untuk mencecap kopi desa Pesangkalan.  Menghangatkan diri bersama kawan-kawan.  Mereka melanjutkan lagi perjalanan untuk menikmati Curug Pletuk.  Lalu di tengah perjalanan, Rose tertarik untuk berhenti, mengamati sebuah Vila dari kayu.  Ada Luna di sana.  Saat itu gerimis renyai jatuh di dedaunan.  Luna mengenakan kemeja putih dan rok jeans di atas lutut.  Rambutnya terkena gerimis namun ia hanya berdiri di depan sebuah mobil. Pada 14 Juli 2014.  Lalu pada akhir Agustus, nyawanya lunas di Dieng Banjarnegara.

Rose merinding bukan lantaran pendingin udara di ruang interogasi.

“Kami telah menyisir tempat itu,” ujar Yudha.  “Vila yang kau maksud,” terangnya.  “Keadaannya telah berubah.  Vila itu bukan lagi kayu.  Menurut penuturan warga, vila itu direnovasi pada Januari 2015.  Seluruh bangunan tertutup batu alam Pesangkalan.  Tertutup dan penuh misteri.”

“Misteri?”

Yudha mengangkat bahu.

“Kurasa cukup untuk hari ini.  Rose, kau ingat, sebelum tiba di Banjarnegara, dua orang menyerangmu?”

“Ya.”

“Kedua orang itu orang-orang Dieng Group.  Kami telah menangkapnya semalam.”

“Apa???”  Rose benar-benar kagum dengan cara kerja mereka.

“Ya.”

Rose berpikir harus kembali ke Jakarta secepatnya.  Namun Rose merasa kewajiban belum tuntas di Banjarnegara.  Ada yang mengusik pikirannya.  Percobaan pembunuhan terhadap dirinya tak mungkin berhenti begitu saja.  Jakarta bukan tempat yang aman.   Lagipula kedua orang tuanya di Jogja sekarang.

“Bagaimana dengan pekerjaanku?”

“Kau bisa mengajukan cuti?”

“Entahlah.”

“Kalau begitu, mari kuantar kau ke rumah komandan.”

Rose berpikir sejenak.  “Bagaimana jika aku menemui Wulan?”

“Hanya dengan pengawalan.  Ingat, kau saksi pada kasus pembunuhan Luna.  Lain itu, kau menyimpan informasi tentang kasus korupsi calon bupati.”

Rose setuju.  Dia harus aman.  Begitu juga Wulan, Rendra, dan siapapun juga.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.