A Moment To Rose_Part 62: Markas Pras

Diposting pada

Prasetianto tak menyadari di luar sana, istrinya berusaha masuk.   Bahkan sekalipun ia tahu, tak akan ia beri akses wanita yang menganggapnya anjing jalanan.  Ia ingin, sebentar saja terlepas dari pengaruh wanita itu.  Dan ini adalah tempat yang cocok untuk sebuah perencanaan.

“Ratna keliru telah meninggalkan vila ini,” ujarnya.  “Ia akan mengira, tempat ini hanyalah bangunan berhantu.  Wanita itu tak mungkin berani menginjakkan kakinya di sini.”

Setelah renovasi kedua, dua kali mereka menghabiskan akhir pekan, berbulan madu di Midangan.  Namun malam indah Ratna selalu berakhir dengan mimpi buruk dan ia akan menangis tersedu-sedu saat pagi tiba.  Suaminya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.  Jadi ia mengira, makhluk halus telah merasuk ke tubuh istrinya.  Sejak itu keyakinan tentang makhluk halus yang memilih tubuh Ratna menjadi alasan utama ketidakhadiran Ratna di tempat itu.

Semula Nyonya Pras mengira Vila ini benar-benar tidak dihuni lagi sejak peristiwa kunjungan keduanya.  Ia sendiri merasa ngeri.  Sejak kematian Luna, sejak vila ini ia tinggalkan lalu di renovasi, dua kali ia menginap di tempat ini, dua kali pula Luna datang dalam mimpinya.  Ia memutuskan menjauhi tempat ini.  Tapi kenapa tempat ini?  Bukanlah Luna meninggal di Dieng?  Kenapa harus tempat ini?  Apa wanita itu sering ke tempat ini?

Pras tak peduli apa yang dimimpikan istrinya ketika tidur.  Ia lebih menyukai mewujudkan mimpinya ketika terjaga.  Menjadi bupati.

Lelaki itu tak berniat mundur selangkahpun dari pencalonan itu.  Jadi dapat dipastikan, ia hanya menggertak istrinya tadi.  Sebaliknya, di tempat ini segala rencana di susun rapi.  Teknologi informasi tercanggih dan ahli-ahlinya berderet di sebuah ruangan bekerja secara bergerilnya memantau media.

“Aku membayar kalian untuk loyalitas tertinggi dan informasi yang akurat.  Apa yang kalian lakukan hingga aku terlambat menyadari kegiatan istriku di luar sana?  Lalu, jurnalis sialan itu mempunyai foto Luna di sini.”  Ia berjalan mengitari beberapa computer yang di depannya berjaga staf-staf ahlinya.

Seorang kepala bidang IT di rumah ini mencoba menjelaskan bahwa hal itu baru saja mereka temukan dan akan segera di diskusikan hari ini juga.  Namun rupanya sang calon bupati telah lebih dulu mengetahui beritanya dari orang lain.

“Sumber informasi itu dari teman Bapak sendiri, beritanya cukup menghancurkan.  Mereka mengatakan Anda meninggalkan keluarga Anda demi uang.” ujar kepala IT.  “Tahun lalu orang ini bergabung dan menyatakan dukungannya pada lawan kita.  Informasi apapun yang ia miliki tentang Bapak, sudah pasti akan dijadikan senjata untuk menyerang.”

Tak mengherankan sebenarnya mengingat kawan lama Pak Pras pernah terlibat konflik bisnis dengannya.  Bisnis kayu.

“Kawan lama, heh!  Ia pernah kuajak ke tempat ini.  Apakah ia punya akses pada kerahasiaan data kita?”

Kepala IT menjelaskan, system keamanan komputernya sudah disetting dengan apik.  Informasinya terlindungi sepenuhnya.  Lalu dari hasil pelacakannya, kematian Luna memang ada hubungannya dengan Dieng Group.  Nama Prasetianto jelas menjadi sasaran utama mengingat alamat email dan catatan panggilannya yang tertera pada ponsel Luna telah diketahui polisi.  Tak terkecuali jurnalis Galaxy yang selama ini terus mengejar Pak Pras.

Pak Pras tampak mondar-mandir.   “Adakah yang lain?”

“Satu lagi, Pak.  Informan mengatakan  pak Roto mencoba bunuh diri beberapa hari lalu.  Lelaki itu kecewa dengan sikap Bapak maupun Ibu.”

“Kecewa?”

“Pada akhirnya dia dipenjara dan tak seorangpun dari kalian membebaskannya.  Mertuanya yang diharapkan bisa membantu istrinya, telah stroke.  Keluarganya terberai termasuk masa depan putrinya.”

“Masa depan putrinya ada di tanganku.  Segera cari tahu keberadaan Nea.”

“Kami sudah menemuinya di Purwokerto kala itu.  Rupanya gadis itu telah mengetahui identitasnya dan secara gamblang mengatakan, ia tak peduli dengan Anda.”

Prasetianto mengelus dada.  Ia sangat memaklumi.  Namun ia tak ingin lepas tanggung jawab sebagai seorang ayah.  Ibu Nea, seorang wanita yang tak pernah Prasetianto nikahi telah meninggal ketika melahirkan bayi itu.  Lalu Prasetianto menitipkan, menyegel bahwa bayi itu anak keluarga Roto.

Cukup Rose yang menderita ini semua.  Aku tak peduli. 

Di luar vila itu dua orang jurnalis saling pandang tak percaya atas apa yang mereka dengar dengan jelas melalui penyadap yang Rendra tanam di ponsel Pak Pras.  Ia berhasil meretas ponsel itu lalu menanamkan sebuah program untuk mengetahui gerak-gerik lelaki itu.

“Jadi Nea adik Rose???”  tanya Rendra.  “Ini memuakkan.  Lelaki itu sungguh-sungguh menjijikkan.  “Itu kenapa wajahnya tak mirip dengan keluarga Roto.”  Rendra menyadari itu dari pertama kali melihat fotonya.  “Itu pula yang menjadikan hidup Roto tergantung pada Dieng Group.  Kini mereka kolaps tanpa ada yang membantunya.”

“Ren, tolong jangan terpengaruh.  Tetap fokus.  Ini belum berakhir.”  Satriyo menepuk bahu Rendra.  Mereka keluar mobil yang terparkir di semak-semak di samping rumah Pras.  Tempat ini cukup terlindung.  Mereka sengaja tak melalui jalan utama agar kedatangannya tak terendus cctv yang terpasang di sudut-sudut taman yang memanjang.

Di sebelah kiri taman, sederet bambu gading melatarbelakangi bunga-bunga indah bermekaran.  Luna dan seorang apoteker pernah berdiri di sana dan diambil fotonya secara diam-diam.  Rendra mengingat foto itu kembali.  Foto-foto itu, hanya gambar dua dimensi tak bergerak yang membawanya melihat dimensi lain dari tempat ini.  Kini foto-foto itu mempunyai sejarahnya sendiri.

Kini wajah Vila telah berubah, namun misteri tentang foto yang Rendra pegang terkubur di dalamnya.  Vila itu dijaga ketat oleh beberapa lelaki bertubuh kekar.  Dari jauh, baik Satriyo maupun Rendra tampak heran melihat Nyonya Pras hanya berjalan mondar-mandir di luar pagar.

“Apa dia tak bisa masuk?  Bukankah ini miliknya juga?” tanya Satriyo.

“Apa ada semacam pembagian wilayah kekuasaan diantara sepasang suami istri?  Kau berpikir begitu?” balas Rendra.

Satriyo turun dari mobilnya.  “Kita akan tahu apa yang terjadi setelah melihatnya.”

“Hati-hati.  Kurasa tempat ini bukan tempat sembarangan.  Jelas sekali Prasetianto lari kemari setelah kemarahannya di rumah tadi.  Sesuatu mungkin tengah direncanakan.  Ini mungkin markasnya.”

Peluang bagi Prasetianto untuk menggunakannya secara diam-diam meski ia tak tahu alasan sebenarnya. Mempekerjakan beberapa ahli IT yang dikomando oleh seorang kepala, Pak Dimas.  Memanfaatkan tempat ini sebagai pusat kontrol kegiatan dan mengawasi gerak-gerik musuhnya, dan tentu saja sebagai tempat menjadi diri sutradara.  Di luar, ia adalah pemain drama.

“Kita telah kecolongan lagi, Pak.  Informan kita mengatakan, Nyonya menyuruh dua orang untuk menculik Rose.” ujar Pak Dimas.”

Wajah Prasetianto menegang.  “Apa yang terjadi?”

“Rose diselamatkan Rendra dan dua orang itu telah ditangkap.”

“Apakah aku harus berterimakasih pada Rendra?  Lalu, apakah itu berarti Ratna Pratiwi akan ditangkap juga?”

Kepala Pras merasa pening.  Ia ingat bahwa meninggalkan Kinasih adalah keputusannya.  Ia tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan wanita keturunan Cina itu karena satu hal mendasar.  Ia mengira Kinasih mandul.  Delapan tahun pernikahan yang sia-sia.  Yang tidak disadarinya adalah, Tuhan menjawab doa Kinasih tepat ketika kesabaran Prasetianto menantikan buah hati telah hilang.

Kinasih telah hamil lima bulan waktu itu.  Pras pergi menlanjutkan hidupnya sebagai penjudi dan peminum karena frustasi.  Ia menceraikan istrinya saat mengandung darah dagingnya.

Kinasih tak pernah menceritakan perihal kehamilannya lantaran yakin ia mandul sekalipun ia tidak mengalami datang bulan selama lima bulan.  Ia pikir menopause datang.  Ini amat wajar.

“Dimana Rose sekarang?”  Mata Prasetianto menatap jauh ke luar jendela kaca.  Ia menatap pintu gerbang kayu yang bergerak oleh sebuah dorongan dari luar.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.