A Moment To Rose_Part 61: Tak Lagi Demi Dia

Diposting pada

Wanita itu berhenti menangis.  Ia kembali menegakkan kepalanya.  Ia menghapus butir air bening yang membasahi pipinya.   Sejak itu ia menyadari perasaannya tak lagi sama.  Terutama pada lelaki yang diakui telah dipungutnya dari jalanan.

Namun ia tak ingin kehilangan kesempatan menorehkan sejarah sebagai orang nomor satu di wilayahnya.  Proses pencalonan sebagai bupati tak boleh dikotori apapun.  Ia telah melangkah terlampau jauh.  Bahkan mengotori tangannya sendiri.  Kini, bukan lagi demi Prasetianto.  Demi kejayaan Dieng Group.

Ia bergegas mengejar Pras dengan sedannya.  Seorang sopir pribadinya paham betul apa yang Tuannya kehendaki.  Sedan meluncur deras pada awalnya.  Semakin jauh meinggalkan kota, mereka bertemu jalan berbatu desa Pesangkalan.

“Ide buruk membawa sedan kemari,” sesal Nyonya Pras.

Sopir itu berdalih sambil terus berusaha memilih jalan.  “Apa Beliau menuju Vila Midangan?  Sudah kuduga.  Tempat ini memang cocok.  Tak susah mencari Pras di wilayah sempit Banjarnegara.  Ia akan mencari tempat sunyi ketika otaknya tak dapat bekerja lagi.  Midangan tempat yang sempurna,” tandasnya mengerti benar kebiasaan suaminya.  Ia tak dapat menyangkal, cintanya memang lebih dari yang ia akui.

Sopir Bu Ratna membayangkan betapa Midangan adalah tempat terapi bagi bosnya.  Ia akan menemukan lelaki itu duduk bersila di sebuah pondok kecil di wilayah selatan Banjarnegara.  Meresapi keheningan.  Menikmati harmoni alam.  Hawa suci dan murni akan mengalirkan ketenangan dalam jiwanya.  Kemungkinan lainnya adalah, lelaki itu duduk di kursi kayu menghadap kebun dan sungai kecil di depannya.  Secangkir kopi pahit disajikan seorang pelayan ia sesap sedikit demi sedikit hingga kekuatan dalam dirinya muncul kembali.

“Seperti apa vila itu sekarang?” tanya sopir pada bosnya.

“Hanya tempat membosankan bagiku.  Entah bagi Bapak.  Yang jelas, tak ada suara apapun di tempat itu kecuali kemericik air dan jangkrik-jangkrik mengerik.  Aku sering mendengar kicau burung bersahutan di sana.  Dulu segalanya begitu indah.  Kami sering kemari untuk sekedar berlibur.  Tidak sekarang.  Aku tidak menginginkannya lagi.”

Sopir itu mengangguk-angguk ragu.  Jelas sekali ia tak memahami jalan pikiran Nyonya.  Ada semacam nada getir ketika mengucapkannya.  “Adakah hal mengecewakan terjadi di tempat seindah ini?  Yang menyebabkan Nyonya tak mau kembali?” pikir sopir itu.

Ah, apa pedulinya.  Tugasnya hanya mengemudi.  Ia akan mengantar Nyonya ke neraka sekalipun jika di minta.  Ketika mereka sampai,  semuanya tampak lebih mencengangkan.

“Sepertinya, tak mudah masuk tempat ini.  Pagar batu alam Midangan yang menjulang.  Pintu gerbang kayu itu tampak seperti gerbang keraton Mataram.”  Sopir itu turun mengamati keadaan sekitar.  “Gerbang ini terkunci, Bu.  Sepertinya ada pengawal di dalam.”

“Menjijikkan sekali.  Dulu…  Dulu kami sering berakhir pekan di sini.  Kenapa sekarang seolah-olah tempat ini menjadi Istana Negara baginya?” Nyonya Pras turun dari mobilnya.

Ratna berpikir apakah ia akan menembak satu-satu para pengawal ini lalu menerobos masuk seperti perampok.  Lucu sekali menerobos vila sendiri.  Ia akan menelepon Pak Wijaya saja.  Ini akan menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Nyonya Pras khawatir sesuatu terjadi pada suaminya.  Dan pencalonan itu batal.  Ia menggedor pintu gerbang yang terbuat dari papan-papan jati selebar telapak tangan orang dewasa dengan tinggi tak kurang dari dua meter.  Tak ada jawaban.

“Ada orang di dalam?  Tolong buka gerbangnya!”  teriak Bu Ratna.  Tak seorangpun menyahut.  Ia menoleh pada sopirnya.  Sopir baik itu membalas tatapan bosnya.  Ia mengerti maksud tatapan itu, ‘bagaimana ini?’

Sopir itu menggedor pintu gerbang.  Tak hanya itu, kedua tangannya mendorong-dorong.  Gerbang itu bergeming.  “Sepertinya sia-sia, Bu.”

“Coba lewat pintu belakang!”

Si sopir bergegas lari ke belakang.  Ia tak menemukan apapun.  Hanya batu-batu alam berwarna hitam mengilap karena terkena gerimis, berdiri mengelilingi rumah.  Seperti gua.  “Di dalam sana, keadaan pasti benar-benar tenang.  Kepenatan macam apa yang orang kaya rasakan hingga ia harus berdiam di tempat mengerikan ini?”

Ia kembali menemui Bu Ratna yang berdiri di depan gerbang.  “Nihil, Bu!”

“Sudah kuduga.”  Ia menggedor pintu sekali lagi.  Tak seorangpun menyahut.  “Buka pintunya!”

“Kita tunggu hingga Bapak keluar saja, Bu?”

“Bagaimana jika terjadi sesuatu di dalam?”

“Jika Ibu yakin Bapak hanya ingin mendapat ketenangan, beliau akan baik-baik saja,” kata sopir meredakan ketegangan di wajah wanita cantik itu.

“Aku tak dapat membiarkan ia sendirian di dalam.”

“Beliau tak mungkin sendirian.  Rumah ini dijaga.”

Bu Ratna tersenyum.  “Wanita tua yang dulu menjaga rumah ini setelah pensiun dari tugasnya sebagai apoteker telah lama dipindah, Pak.  Ia menjalani perawatan di sebuah Klinik ditemani putrinya.  Dan kupastikan, ia tak akan sembuh.”  Seringainya benar-benar sihir.  Sopir pribadinya bergidik.  Menyadari hal itu, Bu Ratna mengalihkan pembicaraan.    “Namun, jika hal lain terjadi, aku benar-benar tak mengerti.  Benarkah ada seorang penjaga di tempat ini?”

“Tampaknya bukan hanya seorang.  Sejak renovasi kedua, rumah ini bukan lagi rumah hantu.”

Bu Ratna mengernyit.  “Tentu saja ini bukan rumah hantu.  Apa maksudmu?”

“Beberapa orang sering kesini.  Melakukan pekerjaan secara bergerilya.”

“Bicaralah yang jelas!” desak Bu Ratna.

“Orang-orang IT.  Rumah ini seperti markas inteligen untuk menyukseskan pencalonan bupati Bapak,”

Ratna terbelalak.  Jelas sekali ia tak mengetahui sepak terjang suaminya.  Rasa penasarannya kian besar.  Ia mengambil ponsel dan mulai menelpon Pak Pras.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.