A Moment To Rose_Part 60: Sebanyak Kebusukan yang Kau Sembunyikan

Diposting pada

Ratna Pratiwi memasuki ruang kerja suaminya saat Rendra dan Satriyo berkemas pulang.  Ia mengenakan kemeja putih.  Outer panjang berwarna salem lembut dipadu pants warna senada mempermanis tampilannya.  Riasan nude membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda dari usianya.

Wajah anggun yang menangkupi ribuan pemikiran cerdas di kepalanya itu berubah saat dihadapkan pada lelaki lemah yang memegangi jantungnya.  “Ayah!” panggilnya.  “Apa yang terjadi?”  pertanyaan itu ia tujukan pada Rendra.

Sebelum jurnalis itu menjawab, Prasetianto menampik pikiran istrinya.  “Aku tak apa.  Semalaman aku tak tidur.  Ini akibatnya.”

“Ohh, kupikir telah terjadi sesuatu yang tak kuinginkan.”

Rendra tersenyum.  Ia ingin mendengar lebih banyak tentang sesuatu yang tak diinginkan Nyonya Pras.  Apakah dirinya termasuk di dalamnya?  Rendra pikir ia menempati posisi jawara pada daftar orang yang paling dibenci Nyonya.

“Sepertinya kami selesai.  Terima kasih atas kerja sama, Pak Pras.  Semoga sukses!”

Nyonya Pras tak membalas ucapan Rendra.  Kepalanya terlalu tegak untuk sekedar memberi anggukan kecil.  Kalau menengadah, masih bisa.  Melirik ke samping kanan, masih bisa.  Melirik ke samping kiri, masih bisa.  Namun belakangan, ini disesalinya.

Di sisi kirinya, Prasetianto memandang dirinya dengan muram.  Ohh, bukan.  Sebelumnya Ratna mengira ia sakit jantung.  Lalu wajahnya ditemukan muram.  Kini disadarinya, suaminya dinaungi amarah besar.

Sebuah keramik kecil pajangan melayang dan menabrak tembok.  Tentu keramik ini dipilihnya agar memberi efek horror bagi istrinya.  Terbukti istrinya mundur, senyumnya surut.  Kecantikannya terselimut.  Wanita berkepala tegak itu menciut.

“Apa yang kau lakukan?”

“Tanya dirimu!  Apa saja yang kau lakukan tanpa sepengetahuanku?”

Pertanyaan itu peringatan tanda bahaya.  Namun Ratna telah menyiapkan jawaban sebelumnya.  “Sebanyak kau menyembunyikan kebusukanmu.”

“Kau memeriksa DNA Rose?”  Kali ini Prasetianto benar-benar ingin tahu.  “Kau tahu apa akibat pekerjaan ilegalmu itu?”

“Dieng Group tak pernah melakukan tindakan ilegal.”

Faktanya memang demikian.  Beberapa kali, hukum tidak berlaku pada anggota keluarga Dieng Group.  Namun masalahnya tak sesederhana itu.  Perjalanan Pras menuju kursi kepemimpinan di wilayah Banjarnegara bakal terganjal.

“Kau telah menjatuhkan namaku di depan khalayak.  Bahkan setelah kita melewati masa-masa sulit menghadapi KPK.  Sekarang, bukan KPK yang akan menendangku dari pencalonan bupati.  Namun, kau!” tuduhnya.

“Kau tak tahu bagaimana cantiknya aku bermain.”

Orang-orang tak mengetahui upaya apapun yang dilakukan Nyonya Besar.  Namun harus diakui, bukan hanya ia yang ingin tahu masa lalu Pras.  Serangan lawan politiknya lebih sadis.

“Kupastikan berita yang beredar bukan karena aku,” imbuh Nyonya. “Aku melindungimu dari segalanya.  Bahkan dari jurnalis laba-laba itu yang jarring beracunnya menjulur kemana-mana!”

Perut Prasetianto mulas mendengar cerita istrinya.  “Aku bisa mengatasinya!”  Meskipun, pada dasarnya, berulang kali pena tajam Rendra melukai nadinya.

“Namun, shock terapi kali ini, aku yakin mampu menghentikannya!” teriak Nyonya bangga.

“Terapi apa, hah!!!  Apalagi yang kau lakukan di belakangku?  Kau tidak lihat apa yang barusan anak ingusan itu lakukan di rumahku sendiri?” bentak Prasetianto pada istrinya.

“Dia akan berhenti!  Kehormatan keluarganya – kehormatan adiknya – Wulan telah direnggut orang-orangku.  Tak ada – yang lebih mengerikan dari itu semua!”  Suara patah-patah Nyonya Pras yang pelan, mempunyai daya yang membuat Rendra terhuyung.

Di luar pagar, darah Rendra mendidih.  Ia mendengar dari ponselnya, kekejaman yang wanita itu lakukan terhadap adiknya.

“Ren, tenanglah.  Jangan gegabah.  Pada saatnya kita akan melihat wanita itu hancur oleh perilakunya sendiri.”  Satriyo memeluk Rendra dengan satu tangannya.

Pada pintu mobil yang urung dibuka, Rendra bersandar.

“Masuklah, kita cari parkir yang aman!”  Rendra masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Di ruangannya, pertikaian suami istri itu masih berlanjut.  Nyonya besar melempar amarahnya.  Ia tak tahan mempunyai anak tiri.  Telinga Pras meradang mendengar hal itu.

“Aku bahkan tak tahu bahwa aku punya anak,” dalihnya.

“Jangan berpura-pura bodoh di hadapanku.  Aku menyesal telah memungut anjing dari jalanan.”

Prasetianto yang tengah memandang jauh ke entah, tersentak kaget.  Matanya jalang menatap wanita berkepala tegak.  “Aku tidak menggonggong meminta belas kasihmu!”

Seburuk apapun luka yang Ratna rasakan, sekeruh apapun yang Ratna pikirkan, air bening itu pula yang akhirnya berjatuhan.  Semakin deras hingga kepalanya terkulai.  Tubuhnya lunglai.

Prasetianto melangkah keluar meninggalkan wanita berkepala tegak yang telah menunjukkan keangkuhan di ruang kerjanya.  “Aku akan mundur dari pencalonan ini dari pada jadi anjingmu!”  teriaknya.

Dalam isaknya, Ratna tak percaya pada apa yang barusan di dengarnya.  “Tidak,” bisiknya lirih.  Memang sepertinya tak mungkin bagi Pras mundur begitu saja.  Bukan hanya harga dirinya dipertaruhkan.  Bisa jadi akan dipenggal kepalanya oleh Wijaya.  Mertuanya.

Ratna tahu betul watak anjing itu.  Ia mencintainya tulus sejak dulu.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.