A Moment to Rose_part 59: Tak Akan Berhenti Sebelum Menemukan Jawaban

Diposting pada

Setelah berbincang sebentar dengan Yudha, Rendra dan Satriyo bergegas melaksanakan rencananya menuju kediaman Prasetianto di Kutabanjar, depan masjid Al Munawaroh.  Sebuah rumah bergaya jawa klasik dengan ornament khas Jepara dan aneka tanaman yang meneduhkan.

Sebagian orang mengira, rumah yang menghasilkan orang-orang kejam adalah neraka.  Namun kediaman Prasetianto jauh dari kesan itu.  Kicau ramah burung menyemarakkan pagi di rumahnya.  Sebuah kolam kecil dimana ikan-ikan merah menciptakan kecipak air.  Harmoni mengalir merdu.  Rendra tak percaya Pramono yang menempatinya.

Ia dipersilakan masuk oleh seorang penjaga.  Prasetianto telah menunggunya di ruang kerjanya.  Rendra sempat melihat nyonya Pramono duduk menemani suaminya.  Lalu ketika ia ada di hadapannya, wanita itu pergi.

“Silakan!”  ujar lelaki berjas yang memberi rambutnya minyak impor.

Mata Rendra memindai ruang kerja yang luas itu.  Meja kerja besar dengan sebuah foto keluarga berukuran 5R diatasnya.  Beberapa tumpukan buku ada di sana.  Di belakangnya, sebuah lukisan abstrak.  Di samping kanan berdiri rak penuh buku yang menunjukkan sisi akademik keluarga ini.

Apa-apa yang ia lakukan sekarang akan terhubung langsung pada sebuah layar di ruang kerja Yudha.  Ia membungkuk lalu duduk berhadapan dengan calon orang nomor satu di Banjarnegara.  Satriyo menyiapkan perangkat untuk merekam wawancara itu.

“Apa kabar, Pak?” Rendra berbasa-basi untuk mengurangi ketegangan.

“Silakan, kita ngobrol santai saja.  Kau benar-benar jurnalis yang gigih.”

“Tentu.  Aku tak akan berhenti sebelum menemukan jawaban,” jawab Rendra.  “Kuharap aku mendapatkannya langsung dari Bapak.”

“Ini tampak seperti aku ingin siaran.  Hahaha!  Kau sendiri yang akan meralat ucapanmu anak muda.  Kau telah merilis berita-berita tak beralasan.  Galaxy harus berbenah mulai sekarang.  Menyebarkan berita hoax sama saja membohongi khalayak.  Kau tentu tahu kode etik itu, bukan?”

“Terima kasih nasihat, Bapak.”

“Hahaha! KPK Lembaga kredibel di Negara kita.  Hasil verifikasinya mengatakan tak ada bukti apapun terkait korupsi.  Sekarang masyarakat Banjarnegara mengakui kebenaran bahwa aku bersih.  Dan media harus mencatat fakta ini.”

“Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan.  Namun kebenaran yang telah kuat berakar tak semudah itu kau cabut dari tempat kami berpijak.”

Dari sofa di ruang kerjanya, Prasetianto memandang keluar jendela.  Seorang tukang kebun tampak sedang menyirami tanaman.  Tak jauh dari situ, istrinya berdiri menyiangi daun-daun kering.

“Kau juga tak bisa menyangkal bahwa sebelum menjadi anggota dewan, aku adalah seorang pengusaha.  Kekayaanku tak habis tujuh turunan.”

“Kekayaan istri Anda?”

“Dieng Group.  Aku membangunnya dengan keringatku sendiri.”  Prasetianto menegaskan.  “Selalu ada wanita hebat di balik kesuksesan suami.  Istriku orang semcam itu.”

“Dieng Group yang melindungimu?  Atau Anda yang mati-matian melindunginya?”

“Bagaimana jika dua-duanya?”

“Selama ini Dieng Group yang menopang pencalonan diri Anda.  Bahkan nama Dieng Group terseret langsung dalam beberapa peristiwa.  Anda masih ingat seorang yang kecelakaan pada tanggal ……………………………….  Riki.  Kasusnya di tutup.  Tapi belakangan viral seorang dari komunitas CB Banjarnegara mengupload foto saat Riki kecelakaan.  Yang jadi fokus, ada luka tusukan yang berasal dari sebuah pisau.  Bukan karena kecelakaan.”

Prasetianto membuka tangannya menyilakan.   “Kurasa tidak relevan dengan tema kita pagi ini.”

Rendra mendekatkan wajahnya pada lelaki itu.   “Baiklah jika Bapak tidak punya jawaban yang logis.  Rupanya Bapak sedikit kurang perhitungan mengingat motor yang Riki kendarai adalah CB.  Oke, kita lanjutkan.”

“Silakan.”  Ada nada getir di bibir Prasetianto.  Ia mengendus bau busuk lelaki di depannya.  Ia sadar besarnya solidaritas komunitas motor itu.  Ia tak akan bisa mengelak jika anak-anak motor itu mengetahui kebenarannya.

“Saya harap, apapun yang terjadi di luar, pencalonan Bapak berjalan lancar.”

“Tentu.”

“Pertanyaan selanjutnya.  Bagaimana Bapak menangkis berita dari sebuah media bahwa Bapak terlibat dengan Luna, Rose, dan Nea?”

“Pertanyaan macam apa itu?  Kurasa kau tahu berita itu hoax.  Mereka hanya ingin menjatuhkanku.  Bahkan aku tak mengenal ketiganya.”

“Izinkan aku mengingatkanmu.  Bapak masih mengingat ini?”  Rendra menunjukkan selembar foto seorang gadis berambut panjang.  Kulit beningnya dibalut kemeja putih dan rok jeans beberapa senti di atas lutut.

Prasetianto berdehem.  Matanya berkedip.  “Siapa dia?”  Ia pura-pura tak mengenalnya.

“Sedan hitam di belakangnya atas kepemilikan Ratna Pratiwi, istri Bapak?”

“Ohh, ya??”  Sikap terkejutnya natural.  Bukan perkara mobil itu yang membuatnya membulatkan mulutnya.  Ia penasaran darimana Rendra mendapatkan foto itu.  “Kalau begitu, sebaiknya tanya istri saya.  Hahaha!” dalihnya.  Ia lebih sering tertawa untuk sesuatu yang tak lucu.

“Sedan ini menunjukkan ada hubungan antara salah seorang anggota keluarga Pak Pras dengan Luna di Vila Pesangkalan.  Sayangnya, pada saat yang sama, seseorang mengambil gambar Anda tengah sibuk dengan beberapa kolega untuk penandatangannan sebuah perjanjian.”  tegasnya.

“Jangan buru-buru mengambil kesimpulan…”

“Lalu, Rose!”

“Aku benar-benar tak mengenalnya.  Aku berani bertaruh.”

“Baik.  Sebuah tes DNA dilakukan secara illegal oleh istri Anda.  Dan hasilnya menunjukkan Rose putri Bapak.”

“Hahaha!!!  Itu mustahil.”

“Bapak punya cara meredam gejolak massa akibat berita viral ini?”

Prasetianto mengambil sapu tangan di saku jasnya.  Ia mengelap keringat yang mulai mengucur.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.