A Moment To Rose_Part 58: Kadang, bualan dan kejujuran sama berharganya

Diposting pada

 

Yudha tahu pagi ini seharusnya ia bertemu Rose.  Namun hasil penyelidikannya semalam memberi paginya sebuah pekerjaan tambahan.  Ia tengah menemui salah seorang narapidana karena kasus penadah motor curian.  Pak Roto.

Lelaki itu tampak lelah.  Tubuhnya menjadi semakin kurus.  Hal demikian kerap terjadi di awal penahanan.  Para napi cenderung merasakan post power syndrome.  Merasa dirinya lemah, sebagian merasa dikhianati oleh penjahat lainnya yang melakukan hal serupa namun belum terdeteksi kejahatannya.

“Aku hanyalah korban,” ucap Roto sembari menghisap cerutunya.

Yudha bergeming di sampingnya.  Mencoba menjadi pendengar yang baik bagi celoteh lelaki ini.  Baik kejujuran maupun bualan, kadang sama berharganya.

“Kau merasa seseorang telah mengorbankanmu?” tanya Yudha.

“Aku telah hancur!  Hancur berkeping-keping.  Jadi hal pertama yang akan kulakukan setelah keluar dari sini adalah membalas dendam.  Akan kuhancurkan mereka pelan-pelan.”

“Keluar?  Apa kau akan keluar hidup-hidup setelah upaya bunuh dirimu beberapa hari lalu?”  Yudha menyeringai.  “Dan mungkin kau akan mencoba bunuh diri lagi lalu tak bisa membalas, mereka?” selidik Yudha.  “Apakah itu semacam konspirasi?”

Ada semacam rasa takut di wajah Pak Roto.  Ia menahan diri mengungkapkan sesuatu.  Apakah karena sesuatu yang ingin diceritakan berhubungan dengan hal-hal yang sangat rahasia ataukah yang disebut mereka adalah sesuatu yang tak bisa ia lawan?

“Lebih baik kau perbaiki kehancuranmu, ketimbang mengeluh terus.  Hal paling merusak di dunia ini adalah orang-orang yang kehilangan daya hidup,”  Yudha memancing.

“Namun yang mati tak bisa dihidupkan lagi,” desah Roto seraya menghisap cerutunya dengan berat.  “Dan orang yang serharusnya bertanggung jawab sebentar lagi menjadi seorang bupati.”  Ia memegangi dadanya.  “Polisi-polisi telah berkonspirasi???!!” tampak sekali kemarahan meloncat dari mulutnya.

“Apa kau mengatakan itu padaku?”

Pak Roto melirik sengit.  “Seharusnya kau belajar menjadi polisi yang jujur.”

“Kau menimpakan kesalahan pada orang lain, sementara kau sendiri seorang penadah!” bantah Yudha.

“Kau tahu?  Penjualan kayu illegal dari Kalimantan itu didalangi orang yang sama yang telah membunuh Riki!”

“Apa kau bilang?”

“Aku bersedia bersaksi.  Beberapa hari lalu ia mengunjungiku, meminta maaf telah membunuh keponakanku.  Bahwa orang-orang suruhannya mengira lelaki yang mengendarai CB malam itu adalah Rendra.”  Roto memegang lengan Yudha dengan kedua tangannya.  “Tapi tolong, sembunyikan berita ini.  Jika tidak, mungkin istriku akan menjadi sasaran berikutnya.  Mereka orang-orang kejam yang rela membunuh demi apapun.”

Yudha tak terlalu terkejut.  Kesaksian beberapa orang dari komunitas CB mengatakan hal serupa.  Mereka menyaksikan Riki mati bukan karena kecelakaan tapi karena beberapa orang menghajarnya.  Namun kekhawatiran Roto pada istrinya membuat ia bertanya.

“Istri dan anakmu!”

“Anak?”  pertanyaannya cukup mengejutkan Yudha.  “Ia tak mungkin mati di tangan ayahnya sendiri.”

Ini fakta baru dari sang calon bupati.  Sungguh mengejutkan.  Tiba-tiba Roto merasa menyesal telah mengatakan hal itu.  Bagaimanapun, Nea telah dibesarkan dengan kedua tangannya.  Dan lagi, ia merasa tak bisa percaya begitu saja dengan lelaki di depannya.  Siapapun, berkemungkinan menjadi penjahat seperti dirinya.

Yudha menepuk punggung Roto.  “Tentang Riki, jadi kau tahu betul Prasetianto orangnya yang telah menyuruh orang untuk membunuh Rendra?”

“Awalnya, aku tak mengerti.  Dan anak itu menginap di rumahku.  Ia korban perampokan.  Tapi aku yakin itu bukan orang-orang Prasetianto karena dua orang yang disuruh Prasetianto pada malam itu mendapati rumah Rendra kosong.  Mereka mencari video, foto-foto serta berkas-berkas tentang keterlibatannya dengan illegal logging.  Namun rupanya Rendra tak menyimpannya di rumah.  Entah bagaimana mereka melihat kembali motornya yang dikendarai Riki pada malam Jumat itu.”

“Aku sangat menghargai informasi ini.  Jangan khawatir, berikan alamat istrimu sekarang.  Kami akan memantau dan melindunginya.”

Lelaki itu mengucapkan sebuah tempat tersembunyi.  Jika kau tahu curug Pletuk di daerah Pesangkalan, maka memutarlah.  Ada jalan setapak di balik curug itu.   Orang-orang mengira tak mungkin tempat ini ada penghuninya.  “Tolong.  Aku hanya mengatakan rahasia ini padamu karena aku percaya.  Lindungi istriku.  Sejak empat bulan lalu ia merawat ibunya yang stroke di sana.”

Pada lelaki lemah yang telah kehilangan daya hidup di depannya, Yudha meyakinkan, ia akan melaksanakan pesannya.  Dan ia sangat berterima kasih atas informasi berharga yang didengarnya.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.