A Moment To Rose_Part 57

Diposting pada

Jika ada sebuah pintu yang menghubungkannya ke luar angkasa, Rendra ingin melewatinya.  Jika ada sebuah mesin pelenyap manusia, Rendra ingin masuk ke dalamnya dan menghilang dari muka bumi.  Ia seorang anak yang durhaka pada ibunya.  Ia seorang kakak bagi adik yang koyak kehormatan akibat ulahnya.

Seringai Prasetianto jelas tergambar di kepala.  Hanya nama itu yang muncul begitu saja.  Akhir-akhir ini nama itu seperti menempel di telinga, menjadi arsenik bagi otak di kepalanya, menjadi duri dalam jiwanya.  Seringai itu yang tiba-tiba membuatnya bangkit kembali.

Rendra masih belum melupakan alasannya mengejar Prasetianto.  Kamera pertama miliknya yang hancur gara-gara sebuah tulisan di media.  Lelaki itu yang menjadikan benda berharga miliknya menjadi barang rongsokan.

Orang mengira dendam itu yang menjadikan Rendra terus mengejarnya.  Selain Luna yang secara konsisten tetap menjadi prioritasnya, belakangan, motivasinya menempatkan calon bupati dalam daftar investigasinya diperkuat oleh banyak alasan.  Upaya penculikan Rose serta pemerkosaan terhaddap adiknya yang tak termaafkan.

Masih segar dalam ingatannya tawa gadis bernama Luna memecah gigil malam Dieng.  Gadis itu dengan wajah dipenuhi cinta menyibak kabut yang menyelubungi hati Rendra.  Ia ingin menyandarkan kepalanya di dada tangguh lelaki kerempeng itu.

Satu ruang kecil di dada lelaki penangkap cahaya itu tersimpan harapan besar untuk Rose.  Entah kenapa dawai cinta itu terpetik menjadi alunan musik yang tak mampu mengiringi suara hati Luna.  Rose, wanita yang kini ada di hadapannya menjadi fokus perhatiannya sejak lama.  Meski selama itu pula tak sekalipunkeberaniannya mencuat untuk menyatakannya.

Rendra gagal memahami bagaimana menghitung peluang.  Faktor apa sajakah yang memungkinkannya menembak Rose dengan peluang kecil di tolak?  Sementara yang ia sadari benar bahwa dirinya hanya lelaki tak berguna.

Kini secara nyata wanita itu ada di depannya.  Ketika Rendra secara kimiawi mampu bersenyawa dengannya, Rose tetap terlihat terlalu jauh dari rengkuhannya.

“Rose maafkan aku.  Seharusnya aku membuatmu tertidur malam ini setelah apa yang kau alami sebelumnya.”  Rendra menatap wajah Rose seksama.  Ia tulus mengatakannya.

“Rendra, aku bahkan tak tahu bagaimana membalas pengorbananmu.  Kau nyaris mati karena aku.  Katakan apa yang harus aku lakukan sekarang!”  Rose mengingatkan Rendra pada agendanya.

Sebelumnya Rendra mengatakan kesaksian Rose akan membantunya.  Melihat begitu berat penderitaan Rendra, Rose tak peduli lagi jika kesaksiannya akan menjatuhkan ayah kandungnya.  Ia harus menghentikan kekejaman lelaki itu.

“Kita akan menemui IPTU Yudha.”  Rendra mohon ijin pada kedua orang tuanya yang masih menunggui Wulan di rumah sakit.

Rose mengangguk.  Ia mengikuti langkah cepat Rendra, berusaha sejajar dengan lelaki itu.  Matanya terasa berat.  Butuh waktu beberapa menit baginya untuk memahami niat lelaki yang fotonya telah bertahun-tahun dipajang di kamarnya.

“Kau mau sarapan apa Rose?”

“Aku hanya ingin secangkir kopi,” jawab Rose.

Rendra mengajaknya menuju sebuah kafe tak jauh dari Rumah Sakit.  Mereka memesan dua cangkir arabika.

“Tanpa gula,” ujar Rose.  Rose melihat dengan jelas Rendra meliriknya.  Senyum itu.  Senyum yang tak dilihatnya sejak bertemu Rendra dua malam lalu.  Bahkan, senyum yang tak pernah dilihatnya sejak Rendra memutuskan bekerja pada sebuah agen fotografi di Yogyakarta.  Sementara dirinya menjalani hari-hari sebagai fotografer majalah online off road.

Terakhir kali Rose bertemu saat liputan di sungai Serayu, ia hanya melihat wajah gugup Rendra.  Ah entahlah, apa yang Rose pikirkan kini.

Rendra berpaling dari wajah Rose saat ponselnya berdering nyaring.

“Satriyo?” Sapanya.

“Berita bagus.” Balas Yo datar.  “Aku telah mengatur agenda kita pagi ini untuk wawancara eksklusif dengan calon bupati kita.”

Berita itu tak lantas membuat Rendra merasa gembira.  Ia menyeruput kopinya.  “Bagaimana itu bisa terjadi?”

“Penyidikan KPK mengalami jalan buntu.  Ia berupaya keras mengembalikan nama baiknya.  Ia mau bekerja sama dengan kita.”

“Kenapa tidak menggunakan konferensi pers untuk membersihkan namanya?”

“Rupanya ia menggunakan strategi baru.  Memanfaatkan kita untuk mengembalikan nama baiknya.  Dan tentu menghancurkan reputasi kita sebagai media yang pertama kali membuka aibnya.”

“Itu tidak akan terjadi.”

“Lakukan tugasmu dengan baik.  Pagi ini pukul 09.00 di kediamannya.  Akan kujemput kau.”

Rendra melirik arlojinya.  08.45.  “Rose, maaf aku tak bisa menemanimu di kantor polisi.”  Rendra memperhatikan dan menunggu jawaban Rose.

“Aku tak apa.  Sungguh.”

“Kau yakin?”

Rose mengangguk mantap.  Setelah kopinya habis, Rose bangkit.  Ia diantar Rendra dan Satriyo yang telah menjemputnya menemui IPTU Yudha.

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.