A Moment To Rose_Part 56

Diposting pada

Dalam satu atau dua jam kedepan, mungkin lebih dari itu, Rendra terus saja sibuk dengan ponselnya.  Nomor ayahnya, nomor ibunya, nomor Yudha secara bergantian menghubunginya.  Berita mengerikan mengancam keseimbangan hidupnya.  Saat bus tiba di Banjarnegra, ia melompat keluar diikuti Rose.

Rumah Sakit Daerah Banjarnegara, di sana adiknya Wulan terbaring tak berdaya.  Pemerkosaan secara keji telah merenggut keperawanannya.  Kabar itu diterima Rendra ketika masih berada di Purwokerto.  Perjalanan itu terasa semakin panjang hingga ia tiba di tempatnya.

Rendra berlari ke flamboyant 201 RSUD Banjarnegara.  Di sana, pada bidang seluas 200×120 itu, Wulan memilih satu sudut, merapatkan tubuhnya ke tembok.  Rambut hitamnya acak-acakan, tergerai menutupi bahu serta mukanya yang pucat.  Ia melipat lutut, kedua tangannya merekatkannya lebih erat.

Melihat bunga liar yang baru berkembang itu kini layu dan tersingkir, bukan hanya suara Rose, suara Rendra tertelan kembali.   Di antara dua kaki yang tangguh, berdirinya rapuh.  Alih-alih mendekati Wulan, kini ia jatuh tersungkur.

“Wulan?”

Perjalanan panjang menuju cahaya yang selama ia hidupi, sekonyong-konyong berubah menjadi gulita.  Ia tak menemukan apa-apa selain dunia gelap yang kian mengepungnya.  Dari upaya pembunuhan terhadap dirinya, kematian Riki, upaya penculikan Rose, lalu pemerkosaan terhadap Wulan.

Wulan tanpa senyum adalah kebutaan bagi Rendra.  Ini luka paling serius dibanding patah tulang terbuka.  Ini lebih pedih dari robekan di kulit kepala.  Tak peduli apapun, titik-titik bening yang semula jadi rahasia lelaki seperti dirinya, dengan tak tahu malu menapaki pipinya tanpa suara.  “Yang selama ini kutakutkan telah terjadi.”

“Dulu ibu pernah memintamu berhenti jadi jurnalis.”  Wanita dalam balutan gamis hijau lumut yang duduk di atas kursi plastik di samping ranjang Wulan bicara tanpa memandang Rendra.  “Besok, mungkin ibu atau Bapakmu yang jadi korban.”

Gendang telinga Rendra pecah menerima gelombang suara ibunya.  Hatinya remuk menjadi serpihan-serpihan kecil.  Ia tak bisa mengampuni diri sendiri.

Rose yang sedari tadi diam, memberanikan diri mendekati Rendra lalu memapahnya, mengantarnya duduk di samping Wulan.   Kedua tangan Rendra terulur menyibak rambut Wulan yang menutupi wajahnya.  Wulan membenamkan kepalanya lebih dalam mendekati dadanya.  Wulan pasti berharap ada semacam tempurung di punggungnya.  Ia akan membuatkan gerendel untuk rumah mobile nya agar tak seorangpun melihatnya.

“Cah ayu…”  Rendra merengkuh tubuh Wulan dalam pelukannya.  Kepala Wulan bersandar di dada tipisnya.  Di sana Wulan tumpahkan tangis pada akhirnya.  Wulan punya banyak waktu untuk menangis.  Menangis saja karena tak satu katapun ia mampu mendiskripsikan luka hatinya.

Tetes air mata yang menggenang di dada Rendra itu tak mampu meredam bara yang menyala.  Yang terjadi justru sebaliknya.   Kalau boleh ia akan menghabisi semuanya, termasuk ambisinya sendiri sebagai jurnalis.  Ia merasa kalah.

Dengan tangannya sendiri, Rendra mengusap punggung Wulan.  Karena tangan yang berani itu pula kehormatan Wulan koyak oleh sekelompok bajingan.  “Wulan, bagaimana kejadiannya?  Siapa berani melakukan ini padamu, Sayang?  Kau sedang bermain-main bukan?  Wulan, hentikan ini.”  Hanya sesenggukan dan debar lebih kencang yang Rendra dapatkan.  Wulan beringsut kian merapatkan diri pada kakaknya.  Senja menjadi saksi banjir di satu lokasi, tanpa hujan, tanpa kopi.

Rendra tak peduli lagi pada Rose yang sedari tadi berdiri tak mengerti.  Ia tak lagi peduli pada malam yang beranjak sunyi.  Ia duduk di sisi Wulan hingga Wulan terpejam dalam dekapannya.  Ini tak akan cukup menebus sakit hati Wulan.

Tak jauh dari rumah kost Wulan di Gumelar.  Pada sebuah lahan dengan beberapa pohon albasia, Yudha menemukannya berjalan terhuyung-huyung.  Dengan busana koyak di sana-sini, ia nyaris tak sadarkan diri.  Darah masih mengucur dari kemaluannya.

Saat itu Yudha menerima telepon dari ibunya Wulan.  Seharusnya Wulan pulang sore itu untuk mengambil seragam pramuka yang tertinggal.  Sejak Wulan menghubungi ibunya pada pukul 16.00 hingga pukul 20.00 Wulan tak lagi bisa dihubungi.  Seharusnya ia sudah tiba di rumah.

Perasaan ibu tak bisa dibohongi.  Tak ada yang bisa ibu telepon karena ia tahu Rendra mendapat tugas menjemput seseorang ke Jakarta, maka ia menelpon Yudha.  Yudha pergi memeriksa dan menemukan Wulan dan membawanya ke rumah sakit saat itu juga.

Rose terkesiap mendengar penuturan Bapak Rendra.  Jiwanya bergolak berlipat kali lebih kencang ketimbang saat dirinya menyadari memiliki dua ayah yang berbeda.  Malam itu, seharusnya Rendra menyelamatkan adiknya.  Ia bersama Rose.  Menyelamatkan nyawanya dari dua penyerang.  Rose tak kuasa menahan diri.  Sebanyak ia menyeka matanya, tak mampu hentikan aliran deras dari mata indahnya.

Rendra dapat melihat bagian samping wajah Rose yang bersimbah air mata.  Ia terpejam sesaat.  Ia menyadari Wulan telah terlelap dalam pangkuannya.   Ia meletakkan kepala Wulan pada bantal putih perlahan sekali.  Tak ada perlawanan.  Rendra bersyukur akhirnya Wulan mampu memejamkan matanya.  Ia menyelimuti tubuh mungil itu dengan kain selimut putih.  Wulan terbaring seperti beruang kutub yang hampir punah.

“Apakah mereka orang yang sama?  Para penculik itu?”  Otak Rendra mendadak tumpul sekarang.  Tak ada bintang di satu ruangpun di kepalanya.  Hanya ada Wulan, yang justru menghalanginya berpikir jernih.  Setiap ada Wulan, emosi menghentikan jalan logikanya untuk mencerna tiap peristiwa yang terjadi.  Ia seperti berputar-putar saja dalam labirin.  Rendra tak pernah kemana-mana.  Ia hanya mengurung diri, keluarga dan orang-orang yang dicintainya dalam zona penuh bencana.

“Rose,” panggilnya.

Rose menoleh.  “Aku tak apa Ren.”  Tatapan Rose mengatakan untuk tidak memikirkannya.  Rendra memandang ibunya.  Wajahnya sayu.  Matanya sembab.  Duka masih terus berlangsung di hatinya, tergambar jelas di wajahnya.

“Ibu, maafkan aku.”  Dengan berat diucapkannya kata-kata itu.  Bagaimana ia minta maaf atas dosa besar yang telah ia perbuat.  Sepanjang hidupnya, tak sekalipun membuat ibunya tersenyum bangga.  Ia hanya terus menyakitinya dengan idealisme yang dipegangnya.

Ia ngotot kuliah di jurusan fotografi saat ibu memohonnya mengambil jurusan keguruan.  Ia takut.  Ia takut mengajarkan hal tak benar pada murid-muridnya nanti.  Betapa dosanya akan berlipat ketika ia terus meninggalkan kelas demi kesenangannya.  Maka ia tetap pada pendiriannya.  Cintanya pada fotografi tak goyah oleh nasehat ibunya.  Ia berhenti justru karena kematian Luna.

Tubuh Rendra gemetar.  Kematian Luna kembali menghantuinya.  Luna, Rose, Wulan.   Apakah itu takdirnya?  Wanita-wanita yang ada didekatnya selalu terluka oleh ulahnya.  Ia kembali memandang ibu.  Ia tak ingin sesuatu terjadi pada dirinya.  Bahkan ia telah menghancurkan jiwanya sebelum sesuatu itu terjadi.

Belum usai bayangan hitam itu menyergap Rendra, jeritan demi jeritan disertai tangis terdengar di belakangnya.  Selimut putih yang menutupi Wulan telah berpindah ke lantai.  Rambutnya kembali acak-acakan dengan karet yang masih menempel mengikat sebagian kecil rambut Wulan.  “Jangan!  Jangan! Pergi kalian!”  Teriakan terakhir dengan nafas memburu disertai erangan lirih lalu Wulan tak sadarkan diri.

“Wulan!” pekik Rendra.

Tangis ibu pecah.  “Ini kali ketiga ia tak sadarkan diri.”  Suara Bapak lebih terdengar sebagai rintihan ketimbang pemberitahuan.

“Panggil dokter cepat!” perintah Rendra entah ditujukan pada siapa.

 

 

 

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.