A Moment To Rose_Part 55

Diposting pada

Rose tenggelam dalam lamunannya.  Ia tak menyangka, darah yang mengalir dalam dirinya berasal dari Banjarnegara.  Dari seseorang yang ia benci setengah mati.  Bahkan ia begitu berhasrat menghapusnya dari muka bumi. Itu menjawab banyak pertanyaannya kenapa ia selalu ingin kembali ke sana.  Ke kota kecil di mana ayahnya berada.

“Rendra, maafkan aku telah melibatkanmu dalam urusan keluargaku.”

“Kau tak sedang menganggapku orang lain dengan mengatakan itu bukan?” Rendra membuka diri selebar-lebarnya untuk wanita yang tengah dirundung duka mendalam itu.

Rose menggeleng.  “Apa yang kau inginkan dariku?  Apakah kau ingin aku tetap bersaksi atas kejahatan ayahku sendiri?”

“Rose, kau tahu apa yang terjadi di Banjarnegara?  Prasetianto mengelak dari rumor itu.”

“Apakah itu berarti bahwa ia tidak mengakuiku sebagai putrinya?”

“Entahlah, apakah kau ingin menemuinya?”

Dari jendela bus, Rose memandang pohon-pohon yang tampak berjalan di luar.  Tepat tengah hari, bus Sinar Jaya jurusan Lebak Bulus – Wonosobo yang mereka tumpangi telah sampai di tegal.  Dalam waktu kurang lebih enam jam ke depan, diperkirakan mereka tiba di Banjarnegara.

“Hanya dengan cara itu kita akan tahu apakah ia mengenaliku.”

“Apakah selama ini ibumu tak menceritakan apapun?”

Rose menggeleng, ia tak ingin membicarakan apapun lagi tentang dirinya.  Bukan lantaran serangan kantuknya kian mendera.  Sebersit rasa, bahwa kelahirannya sia-sia.  Ia ada dalam ketiadaannya.

Bagaimana mulanya ia ditinggalkan?  Apa yang lelaki itu pikirkan hingga tak mencarinya selama ini?  Ibu telah membentuk dirinya sebagai pribadi yang lain.  Sebagai putri kesayangan pak Wisnu.  Seorang psikolog tempat ia berbagi rasa, bertukar pikiran.

Pada apa yang dialaminya kini, sepatahpun tak berani ia sampaikan pada pak Wisnu.  Ia merasa sendiri.  Mata Rose terpejam.  Hawa sejuk yang dihembuskan pendingin membawanya kealam mimpi perlahan.  Silang sengkarut pertanyaan yang membanjiri kepalanya, membuat matanya kian berat.  Ia lelap.  Rose tak peduli pada lelaki di sampingnya.

Rendra menjaga dirinya.  Menyiapkan bahunya jika Rose secara tak sengaja menjatuhkan kepala karena hilang keseimbangan.  Rendra menyiapkan jiwa sepenuhnya untuk air mata Rose.

Air mata itu telah kering sejak keberangkatan mereka dari terminal Lebak Bulus.  Maka Rendra membiarkan Rose bergelut dengan perasaannya sementara dia memikirkan dimana Rose akan tinggal di Banjarnegara

Keadaan tak menguntungkannya.  Ia masuk nominasi orang yang dicari.  Tapi oleh siapa?  Jika dua penyerang malam sebelumnya benar orang Banjarnegara sesuai logat yang Rendra dengarkan, maka Rose kini berada dalam perjalanan mendekati sumber bahaya.

Rendra memikirkan strategi baru.  Dirinya pasti dalam pengintaian, bahkan bus ini terasa tak aman.  Ia memandang Rose iba.  Ia menyadari penyesalan terbesar Rose adalah menjadi anak seorang koruptor.  Ia merasa jijik.  Dan Rendra melihat tatapan Rose kemarin.  Ia seperti merasa malu pada dirinya.

Orang yang ingin Rendra lucuti adalah ayah Rose.  Kenapa dunia menjadi begitu sempit?

Rose mendesah.  Lalu nafasnya memburu seperti tengah dikejar-kejar setan.  Mimpi buruk.  Pikir Rendra.  Rendra berniat membangunkannya.  Kedua tangannya hampir menyentuh Rose ketika Rose melenguh panjang dan ia terlelap lagi.  Kepalanya miring pada satu sisi sejak matanya terpejam lagi.  Jendela.  Ia bersandar pada jendela kaca.

Rendra menepuk bahu kanan dengan tangan kirinya.  “Getaran bus pasti membuatmu pusing, Rose.  Bahuku lebih nyaman,” gumamnya.

Ia dikejutkan oleh getar ponsel di saku celananya.  Ia memeriksa.  Telepon masuk.

“Ya, Halo?”  Sebuah nomor tak dikenal.  “iseng sekali.  Tanpa suara pula.”  Rendra mematikan panggilan.  Panggilan lainnya mendesak masuk.

“Yudha?  Ada apa?”  Sinyal keburu hilang tergerus arus lalu lintas pantura.  Nomor sebelumnya masuk kembali.  Kini Rendra bertekad untuk mengetahui siapa pemiliknya.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sesopan mungkin.

“Apakah ibu sedang bicara dengan Rendra?”

“Ya, benar.  Ini dengan siapa?”

“Saya Ibu Kinasih.  Ibunya Rose.”

“Oh, Ibu?”

“Ya.  Apa kau bersamanya?  Rose baik-baik saja?  Ponselnya tak bisa kuhubungi.”

“Ya.  Dia baik-baik saja.  Bagaimana ibu bisa tahu nomorku?”

“Bukankah kau fotografer kerempeng dengan mata bulat yang mengantar Rose ke Depok tiga tahun lalu?”

“Ya.”  jawabnya pendek.

“Rendra katakan pada Rose, ibu akan pulang ke Depok.”

“Ibu, aku minta maaf harus mengatakan ini padamu.  Kami dalam perjalanan ke Banjarnegara.”

Ibu Kinasih terperangah di depan ponselnya.  “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Rendra memandang sekeliling bus.  Bagaimana menjelaskan kisah panjang ini pada wanita di ujung telepon?  Kisah yang bahkan masih menjadi misteri yang ingin dipecahkanya.  Kisah yang ingin ia beri akhir yang manis.

“Ibu tak perlu khawatir.  Akan kujelaskan pada saat yang tepat.  Yang penting, Rose aman.  Ia sehat.”

Di meja kerjanya, meja luas di dapur kesayangannya, Ibu Kinasih kian merasa bersalah.  Semalam ia tak bisa terpejam dan hari ini ia putuskan menutup kedai rotinya.  Ia membiarkan pelanggannya kecewa.

Cuma satu hari, pikirnya.  Sedang ia telah mengecewakan Rose seperempat abad lamanya.

Dengan secangkir teh hijau, pak Wisnu menemani wanita yang ditolongnya.  Ia memahami bagaimana pada akhirnya takdir bicara.  Rose akan menemukan ayah kandungnya.  Ia harus menerima itu.

“Rendra,”  suara parau Ibu Kinasih keluar pada akhirnya, “Aku titipkan Rose padamu.  Jaga dia.”

Rendra mengangguk seolah ia berhadapan dengan Ibu Kinasih.

“Kami bersiap menyusul kalian ke Banjarnegra.”  Keputusan Kinasih sudah bulat.  Di dukung pak Wisnu di belakangnya.

“Ibu, apa tidak sebaiknya kalian tunda perjalanan ini?”

“Kenapa?”

Rendra mengetuk-ngetuk pelipis kanannya.  Jalan keluar mungkin di sana.  Ia ingin menemukan kata yang tepat, yang tak menyinggung Ibu Kinasih, untuk menghentikan niatnya.  Suhu panas politik Banjarnegara bisa jadi akan membakar banyak orang oleh kedatangannya.

“Aku yang akan ke Jogja setelah ini selesai.  Akan kuurus dengan baik Rose.  Percayakan padaku.”  Rendra harus mengatakan itu.  Sedikit dusta demi kebaikan banyak pihak pasti akan berguna.  Ia akan menghadapi banyak masalah jika Ibu Kinasih datang.  Bukankah itu yang diinginkan lawan politik Prasetianto?

Sementara ini menjaga investigasinya berjalan mulus adalah tujuan utama Rendra.  Yudha telah mewanti-wantinya sebelum ia menjemput Rose.  Ia bahkan punya misi lain sekarang.  Menemukan orang di balik penyerangan Rose.  Ia ingin memberitahu Yudha.  Tapi tidak sekarang.  Tidak di dalam bus.

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.