A Moment To Rose _ Part 54

Diposting pada

Fotografer cantik dari Jakarta itu tak mengerti bagaimana mulanya ia menjadi begitu bernilai lebih dari karya-karyanya.  Sekelebat bayangan mencurigakan menyusup tempatnya.  Lalu dua orang tak dikenal berusaha menculiknya. Beruntung Rendra datang pada saat yang tepat.

“Lalu, untuk apa kau kemari?”

“Aku menginvestigasi foto-foto yang kau kirimkan.  Mungkin saja seseorang mengendusnya lalu menyuruh dua orang tadi untuk menculikmu.  Itu yang dapat kusimpulkan.   Kesaksianmu amat penting, Rose.”

“Jadi tadi itu orang-orang Pras?  Atau itu ada hubungannya dengan Luna?”

“Kemungkinan besar keduanya benar.  Aku memintamu menjadi saksi atas kesalahan Pak Pras.”

“Aku bersedia!”

“Mungkin kau akan berubah pikiran jika berita pagi ini benar.”

Rose membelalakkan matanya.  “Tentang apa?”

Rendra membuka ponselnya memberikan pada Rose.  “Bacalah sendiri.”

“Gosip murahan macam apa ini?”  Rose menyerahkan kembali ponsel itu pada Rendra.  “Tidak mungkin.  Ayahku seorang psikolog.  Bukan calon bupati korup seperti Prasetianto.”

“Tadinya aku tidak percaya itu, Rose.  Tapi kesaksian seorang bidan yang menolong kelahiranmu serta seorang lelaki teman Prasetianto pada berita menguatkan hal itu.”

“Tidak.  Aku tidak percaya sebelum ada tes DNA.”  Emosi Rose memuncak.  Ia menjauhi Rendra.  “Berita ini hanya untuk mengacaukan kepercayaan masyarakat pada Prasetianto.”

“Tapi kenapa harus, kau?  Apakah itu tidak beralasan?  Tidak akan ada asap jika tidak ada api.”

Gemuruh di dada Rose meluruh.  “Baiklah.  Akan aku klarifikasi berita ini.” putusnya.

Rose beranjak menuruni tangga diikuti Rendra menuju meja telepon.  Nada tunggu terdengar dari ujung telepon.  Pada bunyi tut ke tiga, panggilan itu diterima.

“Malam, Rose,” sambut Kinasih.

“Ibu, aku tak pernah meminta apapun.  Sekarang, katakan padaku.  Siapa ayah biologisku?”

Pada sebuah meja besar di dapurnya yang luas, Kinasih meletakkan kembali loyang yang akan disusunnya di rak.    Satu tangannya meraih kursi.  Sesuatu harus menopang tubuhnya yang limbung.  Sementara satu tangannya masih menempelkan ponsel ke telinga.

Untuk beberapa detik ke depan, ia memutar otak.  Memilih kata yang tepat.  Namun perbendaharaan kata di otaknya lenyap.  Hanya desis lirih yang keluar.

“Ibu?” desak Rose.

Kinasih tahu, cepat atau lambat, hal ini akan terjadi.  “Kenapa kau tanyakan itu Rose, apakah kau lupa dengan dokumen kelahiranmu?”  Semilir angin malam yang dibawa ombak Parangtritis menyibak rambut Kinasih.  Kinasih ingin, angin itulah yang mengatakan pada Rose, siapa ayah Rose sesungguhnya.  Siapapun orangnya, dialah yang berhak menjadi wali nikah Rose.

“Siapa yang berhak menjadi wali nikahku?” tanya Rose.

Wanita Tionghoa asal Jogja yang telah melahirkan Rose menyangka, putrinya telah memilih pendamping hidupnya.

“Rose, bisakah kita berbicara secara langsung?  Kapan kau punya waktu ke Jogja, Cah ayu?”

“Aku mau sekarang.”

“Aku ingin ada disisimu saat aku mengatakannya.”  Kinasih mendesah.  Ia berharap suaminya pulang segera.  Ia membutuhkan bahunya bahkan ketika Rose baru menanyakan hal itu padanya.  “Ibumu tidak akan lepas tanggung jawab, Rose.  Aku akan mengatakannya sendiri di hadapanmu.”

“Ibu jangan khawatir.  Aku tak akan menyalahkanmu.  Kau tahu, aku wanita yang kuat bukan?”

“Bukan itu Rose.  Katakan dulu siapa yang akan mendampingimu?  Apakah kau tidak ingin mengenalkan pria itu pada ibu?  Kenapa seseorang yang kuanggap telah tiada yang kau tanyakan terlebih dahulu?”

“Ibu, ini tak seperti yang kau kira.”  Rose memandang Rendra, menjauhkan gagang telepon dari mulutnya.  Kuharap ibu tidak menutup-nutupi apapun. Bisik Rose pada Rendra, menjauhkan gagang telepon dari mulutnya.

“Rose, kau bicara dengan siapa, Nduk?”

“Eng.  Itu….  Dia Rendra.  Temanku.”

“Bisakah aku bicara dengannya?”

“Ibu….”  Rose kehabisan akal.  “Dia bukan….”  Rose memberikan gagang telepon pada Rendra.  “Bisakah kau membantuku, kali ini?  Aku tak tahu harus bagaimana,” bisiknya lagi.

“Assalamu’alaikum?” Suara Rendra dibuat semerdu mungkin.

“Waalaikum salam.  Kaukah itu, orang yang Rose pilih?”

“Aku minta maaf telah berlaku tidak sopan dengan bicara melalui telepon,” ujar Rendra gugup.

“Ajak Rose ke Jogja, Nak?”

“Akan kucari waktu yang tepat.  Kami akan datang.”

Rose mengambil alih telepon itu lalu langsung menyahut.  “Bu, tolong katakan padaku.”

“Kau tak sabaran, Rose.”

“Ibu!”  Rendra melihat perubahan air muka Rose.  Wanita itu pasti akan menangis lagi.

“Kenapa Rose?”

“Akan kucari tahu sendiri jika ibu tak mengatakannya.”

Kinasih tak mengira Rose seserius itu.  “Maafkan ibu, Nak.  Telah menutupnya rapat untukmu selama ini.  Ibu takut kau tak akan memaafkan ibu.  Ceritanya begitu panjang….”

“Apakah itu Prasetianto?”  Kata-kata itu meluncur cepat, lancar, sedikit terburu-buru dengan getar yangmembuat wanita Tionghoa itu terhuyung-huyung.

Butir-butir bening tak terasa membasahi pipi Kinasih sebelum ia menjawabnya.  Ia lebih mengkhawatirkan perasaan Rose ketimbang pahit yang dicecapnya.

Tepat ketika Kinasih menjawab ‘ya’ dengan suarat lemah, ia mendengar deru makin pelan mendekati kediamannya di sebuah rumah bergaya Joglo tak jauh dari Pantai Prangtritis.  Mungkin suaminya datang.  Tadi psikolog itu bilang akan pulang terlambat untuk bertemu kliennya.

Ia ingin segera mengakhiri telepon ini lalu berlari menghambur pada suaminya.  Lelaki yang telah melindunginya sejak Prasetianto pergi meninggalkannya beserta Rose yang saat itu berusia empat bulan dalam kandungan.

“Rose, kau baik-baik saja?”

Rose tak menyahut.  Satu tangannya ingin meraih sesuatu yang mampu membuatnya tubuhnya tetap tegak.  Ia menemukan tangan Rendra meraihnya.  Ia lalu menyandarkan kepala ke bahunya.

“Rose!”

“Ibu.”  Sekuat mungkin Rose menahan isak.  Ia ingin terdengar sebagai wanita yang tegar.  “Aku.”  Rose menjeda ucapannya untuk mengatur nafas.  “baik-baik saja.”  Lalu suara klik mengakhiri panggilan itu.

Pada saat yang sama, Wisnu, lelaki yang selama ini tercantum pada akta kelahiran Rose sebagai ayahnya tiba di dapur.  Ia mendapati istrinya, Kinasih menghadapi loyang-loyang dimejanya dengan tatapan kosong.  Wajahnya pias.  Biasanya, perkakas untuk membuat roti itu telah rapi di rak.  Di tempat itu, ia ditunggu istrinya dengan secangkir teh.

Tak ada teh di sana.  Hanya ada kebisuan yang diseduh air mata.  “Kinasih,” sapanya lembut.  Ia tak menanyakan apapun.  Ia tahu, dalam keadaan seperti ini, seorang wanita hanya butuh untuk didekati, dipeluk, dan dimengerti.  Ia akan menunggu, sampai kinasih siap mengisahkannya sendiri.

 

 

 

Gambar Gravatar
Dari sebuah titik zenit, untuk garis, bidang, ruang, dan kembali pada kehampaan. Penyuka warna hitam dan kopi hitam, suka menulis untuk mengasah kepekaan dan cara meditasi, untuk memperbaiki diri serta menebar inspirasi.